Ancaman Kepunahan dan Langkah Standarisasi Tembang Batanghari Sembilan

0
3

LogikaIndonesia.Com – Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, warisan budaya lisan masyarakat Melayu Sumatera Selatan (Sumsel), Tembang Batanghari Sembilan, menghadapi ancaman serius. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dari mulut ke mulut ini mulai kehilangan penutur, belum memiliki kaidah baku, serta minim dokumentasi ilmiah.

​Kondisi kritis tersebut mendorong diadakannya Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kaidah Langgam Irama Tembang Batanghari Sembilan Masyarakat Melayu Sumatera Selatan” di Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang pada Sabtu (1/8/2026). Forum ini menjadi ruang krusial dalam merumuskan karakteristik dan standar akademik bagi kesenian tutur lisan yang berkembang di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi tersebut.

​FGD yang berlangsung secara luring dan daring ini merupakan bagian dari penelitian disertasi Program Doktor atas nama Wanda Lesmana pada Program Studi S3 Peradaban Islam, Konsentrasi Islam Melayu Nusantara.

Tantangan Sastra Lisan dan Kolaborasi Multisektor

​Kaprodi S3 Peradaban Islam UIN Raden Fatah, Dr. Mohammad Syawaludin, M.A., menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak lagi bisa hanya mengandalkan hafalan atau penuturan lisan. Menurutnya, dibutuhkan sinergi antara akademisi, praktisi seni, pemerintah, dan masyarakat.

​”Selama ini banyak kekayaan budaya yang diwariskan secara lisan, tetapi belum terdokumentasi dengan baik. Hasil penelitian seperti ini sangat penting sebagai referensi akademik maupun upaya pelestarian budaya,” ujarnya. Syawaludin juga menyoroti pentingnya pemanfaatan platform digital seperti YouTube sebagai sarana dokumentasi sekaligus media mengenalkan seni tutur ini kepada generasi muda.

​Nada serupa disampaikan oleh Dr. Alimron, M.Ag., selaku Co-Promotor. Ia mengingatkan bahwa sifat sastra lisan membuat data dan dokumentasi Tembang Batanghari Sembilan sulit diperoleh, sehingga rawan bergeser dari bentuk aslinya tanpa acuan yang jelas.

Pendekatan Etnomusikologi dan Falsafah Melayu

​Dalam pemaparannya, Wanda Lesmana menjelaskan bahwa penelitian disertasinya menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi etnomusikologis. Kajian ini mengintegrasikan etnomusikologi, sastra lisan, dan nilai-nilai Islam untuk merumuskan kaidah langgam yang sistematis, baku, dan normatif.

​Penelitian ini membedah beberapa poin mendasar:

  • Fungsi Kultural dan Edukatif: Tembang Batanghari Sembilan tidak hanya berperan sebagai seni pertunjukan, melainkan juga media dakwah kultural yang sarat akan nilai tauhid, akidah, akhlak, dan adab.
  • Dialektika Langgam: Adanya pergeseran ruang pertunjukan dari wilayah agraris dan sungai menuju festival budaya serta media digital memperkaya ekspresi, namun berpotensi mengikis keaslian jika tidak ada acuan baku.
  • Pijakan Strategi Pelestarian: Mengangkat landasan falsafah Melayu “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah” agar proses regenerasi tetap menjaga esensi spiritual dan estetika aslinya.

Sinergi Tokoh dan Akademisi

​Kegiatan ilmiah ini menghadirkan jajaran promotor, akademisi, serta budayawan terkemuka Sumsel. Selain Prof. Dr. Duski Ibrahim, M.Ag. (Promotor) dan Dr. Alimron, M.Ag. (Co-Promotor), hadir pula para narasumber lintas disiplin:

  • Praktisi & Penutur Seni: Ribuan Nata, Ali Imron, dan Jimmy Delvian (Composer/Arranger)
  • Budayawan & Penggiat Tradisi: Vebri Al Lintani, Saudi Berlian, Taufik Wijaya, serta Fekri Juliansyah (Jagat Basemah)
  • Sastrawan & Lembaga Bahasa: Anwar Putra Bayu (Penyair Sumsel) dan Linny Oktovianny (Balai Bahasa Sumsel)

​Melalui perumusan kaidah langgam ini, Tembang Batanghari Sembilan diharapkan tidak hanya bertahan sebagai memori kolektif masa lalu, tetapi memiliki standar akademik yang kokoh untuk pendidikan, penelitian, dan regenerasi penutur di masa depan.