Oleh M.Yasin
LogikaIndonesia.Com – Setiap Agustus, ketika bendera Merah Putih berkibar di gang-gang sempit, halaman sekolah, kampung, dan lapangan desa, kita kembali menyaksikan sebuah ritual yang hampir selalu mengundang tawa dan tepuk tangan.
Sebatang pohon dilumuri pelicin. Di puncaknya digantung berbagai hadiah. Puluhan tangan berebut mencapai tujuan. Tubuh-tubuh saling bertumpuk. Satu orang berdiri di atas pundak orang lain. Yang berada di bawah menahan beban. Yang di atas berusaha semakin tinggi.
Penonton tertawa. Ketika seseorang jatuh, terdengar sorak-sorai. Ketika ada yang berhasil mendekati puncak, tepuk tangan semakin keras. Kemudian kita menyebutnya hiburan kemerdekaan. Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: “Apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?”
DARI PENDERITAAN MENJADI HIBURAN
Panjat pinang memang memiliki sejarah yang kompleks dan tidak tepat jika seluruh bentuk permainannya secara mutlak disebut sebagai “ciptaan penjajah”. Namun, di Indonesia permainan ini populer pada masa kolonial dan kerap dikaitkan dengan berbagai perayaan pada masa Hindia Belanda.
Narasi sejarah yang berkembang menyebut masyarakat pribumi menjadi peserta yang bersusah payah memanjat tiang licin demi memperoleh hadiah, sementara orang-orang yang lebih berkuasa menyaksikan dari bawah.
Jika kisah itu kita baca sebagai metafora, ada ironi yang sulit diabaikan:
Penjajahan mungkin telah berakhir.
Tetapi apakah mentalitas yang menjadikan penderitaan rakyat sebagai tontonan benar-benar sudah hilang?
KETIKA MANUSIA DIJADIKAN TANGGA
Panjat pinang mengajarkan satu kenyataan yang sangat sederhana:
Ada yang menjadi kaki. Ada yang menjadi pundak. Ada yang menjadi tubuh penyangga. Dan hanya beberapa orang yang akhirnya mengambil hadiah.Bukankah pola seperti ini juga sering kita temukan dalam kehidupan politik dan sosial?
Menjelang pilpres, pilcaleg atau pun pilkada, rakyat diminta menjadi “pijakan”.
Suara rakyat dibutuhkan. Tenaga rakyat dibutuhkan. Keringat rakyat dibutuhkan. Tetapi setelah seseorang mencapai puncak kekuasaan, mereka yang dahulu menjadi pijakan sering kali dilupakan.
Janji tinggal janji. Rakyat kembali berada di bawah. Sementara mereka yang sudah berada di atas menikmati hasil perjuangan bersama.
inilah tragedi terbesar sebuah masyarakat: ketika rakyat hanya dibutuhkan sebagai tangga menuju kekuasaan.
APAKAH KITA BENAR-BENAR SUDAH MERDEKA?
Pertanyaan ini mungkin terdengar provokatif. Tetapi kemerdekaan bukan hanya soal terbebas dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan juga berarti terbebas dari mentalitas yang membuat manusia merasa harus menginjak manusia lain agar dirinya bisa lebih tinggi. Apa arti kemerdekaan jika rakyat hanya dipanggil ketika suara mereka dibutuhkan?
Apa arti kemerdekaan jika orang kecil hanya menjadi objek kebijakan?
Apa arti kemerdekaan jika kekuasaan diperlakukan sebagai hadiah yang boleh dinikmati setelah memenangkan pertandingan? Dan apa arti kemerdekaan jika kita masih menikmati penderitaan sesama sebagai tontonan?
Penjajahan secara fisik mungkin telah berakhir. Tetapi penjajahan mental dapat bertahan jauh lebih lama.
Ia hidup dalam keserakahan.
Ia hidup dalam budaya feodal. Ia hidup dalam politik patronase. Ia hidup ketika jabatan dianggap sebagai hak istimewa. Ia hidup ketika rakyat diperlakukan sebagai alat. Dan ia hidup ketika kita menganggap wajar manusia menjadi tangga bagi manusia lainnya.
MERDEKA TANPA MENGINJAK
Kemerdekaan sejati adalah ketika tidak ada lagi manusia yang harus diinjak agar manusia lain bisa berdiri.
Dan mungkin, di situlah kita harus mulai bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita benar-benar bangsa yang merdeka, atau hanya masyarakat yang telah mengganti bentuk penjajahan—dari dijajah oleh bangsa lain menjadi saling menjajah di antara sesama?
Panjat pinang selesai ketika hadiah di puncak berhasil diambil.
Tetapi panjat-memanjat dalam kehidupan politik dan sosial tidak akan pernah selesai selama manusia masih menganggap sesamanya sebagai tangga menuju kekuasaan.








