Oleh: Ali Goik
Di atas permukaan air yang beriak, puluh jemari mengencangkan pegangan pada dayung kayu. Seruan komando melengking, berpadu dengan dentum sorak penonton di pelataran Benteng Kuto Besak. Di latar belakang, gagahnya Jembatan Ampera berdiri saksi. Inilah lanskap Festival Bidar sebuah ritus kolosal yang merekatkan denyut nadi Palembang dengan Sungai Musi selama berabad-abad.
Namun, narasi megah yang telah mengakar sejak zaman Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam itu kini berada di persimpangan jalan. Sebuah rencana dari meja birokrasi Pemerintah Kota Palembang mencetuskan wacana yang menggetarkan dada para pecinta tradisi: memindahkan Lomba Bidar dari Sungai Musi ke Sungai Ogan.
Alasannya tergolong klasik dalam kalkulasi pemerintahan, keterbatasan anggaran akibat pemotongan dana transfer dari pemerintah pusat.
Secara teknis pertukaran peta, perahu sepanjang puluhan meter itu memang bisa saja melaju di atas aliran Sungai Ogan. Namun, memindahkan Bidar dari Musi bukan sekadar menggeser titik koordinat GPS. Langkah ini memantik pertanyaan mendasar bagi publik Wong Kito Apakah ini murni efisiensi anggaran, atau bentuk abainya birokrasi terhadap identitas budaya lokal?
Ritus Budaya yang Tak Bisa Di-Bookmark
Membayangkan Bidar tanpa Musi ibarat menggelar Karapan Sapi di luar Madura, melempar Pacu Jawi jauh dari Tanah Datar, atau memboyong Festival Danau Toba ke dalam kolam buatan. Secara teknis memungkinkan, namun roh, esensi, dan magis budayanya dipastikan luntur seketika.
Bagi masyarakat Palembang, Bidar bukan sekadar olahraga air atau kalender acara tahunan yang sekadar diisi untuk menghabiskan DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran). Bidar adalah simfoni gotong royong, kekuatan fisik, serta simbol keharmonisan manusia dengan riak air Musi. Musi adalah panggung sejarah; Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera adalah dekorasi alaminya.
Ketika perahu melaju dengan latar lanskap ikonik tersebut, yang tersaji bukan cuma perlombaan, melainkan wajah dan kebanggaan sebuah peradaban sungai.
Tak heran jika wacana pemindahan ini memantik gelombang penolakan dari komunitas bidar, seniman, hingga pedagang kecil. Bagi para UMKM di tepi Musi, Festival Bidar adalah benteng rezeki tahunan. Menggesernya ke lokasi baru yang belum teruji seperti Sungai Ogan menimbulkan sederet keraguan logistik:
Pertama Mampukah tepian Sungai Ogan menampung puluhan ribu massa penonton?
Kedua Bagaimana dengan aksesibilitas, pengamanan, hingga mitigasi risikonya?
Dan yang terpenting: akankah daya pikat wisatanya tetap sama?
Sensitivitas Kebudayaan vs Kalkulasi Logis
Efisiensi keuangan daerah memang merupakan tanggung jawab profesional pemerintah. Di tengah krisis fiskal, penghematan adalah langkah logis. Namun, persoalan muncul ketika pejabat yang berwenang memandang warisan budaya secara terlalu mekanis dan administratif.
“Bidar tidak boleh dipandang sebagai sekadar mata anggaran yang membebankan kas daerah, melainkan investasi aset budaya yang bernilai ekonomi tinggi serta pemeliharaan identitas kota.”
Kejadian ini menunjukkan perlunya kepekaan (sensitivity) dari para pengambil kebijakan. Pejabat kebudayaan tidak dituntut menjadi sejarawan ulung, tetapi wajib memiliki empati terhadap ruang hidup tradisi masyarakatnya. Keputusan strategis yang memotong nilai sejarah tanpa dialog publik hanya memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara meja birokrasi dengan denyut nadi kebudayaan di lapangan.
Solusi Tengah: Harmoni Dua Sungai
Pemerintah Kota Palembang sebenarnya tidak terjebak dalam dikotomi kaku tetap di Musi atau pindah total ke Ogan. Ada ruang kompromi kreatif yang bisa diambil tanpa harus mengorbankan warisan sejarah.
Jaga Musi dengan Efisiensi Kreatif: Lomba Bidar Utama tetap digelar di Sungai Musi. Anggaran dapat ditekan dengan memangkas acara pendukung yang tak krusial, serta menggandeng pihak ketiga melalui skema sponsorship swasta, BUMN, maupun BUMD.
Kembangkan Sungai Ogan dengan Identitas Baru Sungai Ogan tidak harus menjadi “penampung paksa” acara utama, melainkan bisa didorong menjadi pusat kegiatan pendukung seperti arena latihan, kualifikasi lokal, atau festival budaya air skala komunitas.
Buka Ruang Dialog Terbuka Sebelum mengetukkan palu kebijakan, Pemkot wajib duduk bersama dengan komunitas bidar, budayawan, akademisi, hingga pelaku UMKM Sungai Musi.
Menjaga Wajah Kota Sungai
Memindahkan lokasi Lomba Bidar memang mudah di atas kertas kerja. Namun, implikasi historisnya akan membekas lama. Di tengah gempuran modernisasi, tradisi adalah jangkar penanda dari mana sebuah masyarakat berasal.
Efisiensi anggaran adalah kewajiban manajerial, tetapi menjaga identitas budaya adalah amanah peradaban. Pada akhirnya, yang dipertaruhkan dari keputusan ini bukan sekadar garis finish tempat perahu bidar berhenti, melainkan bagaimana Kota Palembang menghargai dan merawat jiwanya sendiri.









