LogikaIndonesia.Com – Panitia Pelaksana kegiatan Tabur Bunga Leluhur Palembang Darussalam melakukan audiensi dengan Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel), Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, di Mapolda Sumsel pada Rabu (5/8/2026). Rombongan panitia dipimpin langsung oleh Ketua Pelaksana, Kms. Khoirul Muklis, yang didampingi Dewan Pengarah Ustadz Amak dan Indra, Sekretaris Vebri Al-Lintani, Wakil Sekretaris Raden Genta Laksana, serta Dudy Oskandar dari bidang Media dan Humas.
Audiensi ini digelar sebagai sarana silaturahmi sekaligus memohon dukungan penuh dari Polda Sumsel agar seluruh rangkaian kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 5 hingga 7 September 2026 dapat berjalan aman, lancar, dan sukses.
Ketua Pelaksana Kms. Khoirul Muklis berharap sinergi erat dengan pihak kepolisian mampu mengawal setiap tahap agenda kebudayaan dan keagamaan ini hingga selesai.
Kapolda Dorong Program Nyata: Gerakan Palembang Mengaji
Menyambut kedatangan rombongan, Kapolda Sumsel Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif menghidupkan kembali identitas Palembang Darussalam. Ia menegaskan bahwa istilah “Darussalam” mengandung makna mendalam yang sarat nilai-nilai keislaman, serupa dengan Aceh Darussalam maupun Brunei Darussalam.
Sandi berpesan agar penguatan identitas ini tidak berhenti pada acara seremoni atau pengukuhan semata, melainkan diwujudkan dalam program berkelanjutan yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Jangan hanya selesai pada acara pengukuhan, tetapi harus ada tindak lanjut yang bisa dirasakan masyarakat,” ujar Sandi.
Dari sisi fungsi kepolisian dan pengamanan, Kapolda menyatakan kesiapannya untuk memberikan dukungan penuh. Ia juga mengusulkan salah satu program riil yang perlu dikembangkan, yaitu Gerakan Palembang Mengaji. Program ini digagas untuk membudayakan kembali tradisi membaca Al-Qur’an, khususnya di kalangan generasi muda.
Berdasarkan hasil survei, kemampuan membaca Al-Qur’an di masyarakat masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, diperlukan gerakan bersama untuk memperbaiki kondisi tersebut melalui pendekatan yang adaptif dengan perkembangan zaman.
Sandi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan budayawan, ulama, habaib, pemerintah daerah, dan kepolisian.
“Apa yang bisa dikerjakan budayawan, silakan berjalan. Pemerintah juga menjalankan perannya, ulama memberikan pembinaan, dan kami dari kepolisian siap mendukung. Kalau semua dirangkul dan dijahit menjadi satu, itu akan menjadi kekuatan besar. Tetapi kalau berjalan sendiri-sendiri, hasilnya akan kecil,” tegasnya.
Dukungan senada disampaikan oleh Dewan Pengarah Panitia, Ustadz Amak. Ia mengingatkan kembali sejarah pendirian Kesultanan Palembang Darussalam oleh Sultan Abdurrahman, yang memimpikan Palembang sebagai kota yang aman, sejahtera, dan terbuka bagi siapa saja.
Mengangkat Identitas Sejarah dan Benteng Moral Masyarakat
Sekretaris Panitia, Vebri Al-Lintani, menjelaskan bahwa kegiatan Tabur Bunga Leluhur merupakan bagian dari upaya membangkitkan jati diri dan nilai-nilai sejarah Palembang secara utuh.
Menurut Vebri, narasi sejarah Palembang kerap menitikberatkan pada era Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat keagamaan Buddha dan perdagangan maritim Asia Tenggara. Padahal, era Kesultanan Palembang Darussalam memegang peranan yang tak kalah penting sebagai fondasi budaya, penerapan syariat Islam, serta tradisi keagamaan masyarakat hingga hari ini.
Seiring perubahan zaman, tradisi pembinaan keagamaan berbasis kawasan kampung (guguk)—seperti anak-anak yang mengaji di langgar atau musala selepas Magrib—mulai memudar.
Melalui kegiatan ini, panitia ingin merevitalisasi nilai-nilai etika, kebersamaan, dan pendidikan agama tersebut. Gerakan penguatan identitas ini juga telah mendapat respons positif dari Pemerintah Kota Palembang, salah satunya melalui rencana penggunaan aksara Arab Melayu pada fasilitas publik serta revitalisasi makam para sultan dan tokoh sejarah.
Adapun penggunaan nama “Tabur Bunga Leluhur” merupakan usulan dari Gubernur Sumatera Selatan agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas dan memiliki daya jangkau berskala nasional.
“Kami berharap seluruh masyarakat Palembang kembali menyadari bahwa kota ini memiliki leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai etika, budaya, dan kehidupan bermasyarakat yang sangat kuat. Nilai-nilai itu penting untuk kembali dihidupkan sebagai benteng menghadapi berbagai persoalan sosial, termasuk penyalahgunaan narkoba dan lunturnya kepedulian sosial,” tutup Vebri.









