0
2

LogikaIndonesia.Com – Gelombang protes mahasiswa kembali melanda Universitas PGRI Palembang (UPGRI). Pada Jumat (26/6/2026), ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di depan kantor rektorat. Mereka membawa sejumlah tuntutan krusial, mulai dari isu fasilitas kampus hingga desakan transparansi kasus dugaan kekerasan seksual.

​Namun, aksi tersebut diwarnai kekecewaan lantaran Rektor UPGRI Palembang, Bapak Bukman Lian, kembali absen dan tidak menemui massa aksi secara langsung.

​Lima Tuntutan Utama Mahasiswa

​Dalam orasinya, massa aksi menyoroti beberapa permasalahan mendasar yang terjadi di lingkungan kampus, di antaranya:
Perbaikan Fasilitas Kampus: Mahasiswa menuntut perbaikan fasilitas akademik yang dinilai kurang memadai.
Penolakan Kenaikan UKT: Keberatan atas rencana atau kebijakan kenaikan biaya kuliah yang dinilai memberatkan.
Alih Fungsi Laboratorium: Mahasiswa mempertanyakan fasilitas laboratorium yang kini tidak dapat digunakan karena dialihkan demi persiapan Fakultas Kedokteran.
Kejelasan Fakultas Kedokteran: Menuntut kepastian hukum dan operasional terkait pembukaan Fakultas Kedokteran yang dinilai masih mengambang.
Usut Tuntas Dugaan Pelecehan Seksual: Mendesak pihak kampus menindak tegas dan transparan dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum dosen, demi menjamin ruang aman di kampus.

​Kekecewaan Terhadap Sikap Rektorat

​Presiden Mahasiswa UPGRI Palembang, Andri Manan, menegaskan bahwa aksi ini merupakan puncak gunung es dari kekecewaan mahasiswa yang aspirasinya kerap diabaikan oleh pihak birokrasi kampus.

​”Kami sangat menyayangkan rektor kembali tidak hadir. Mahasiswa hanya ingin berdialog dan menyampaikan keresahan terkait fasilitas, biaya kuliah, serta perlindungan terhadap mahasiswa di lingkungan kampus,” ujar Andri.

​Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Wakil Presiden Mahasiswa, Steven. Ia mengkritik keras kehadiran perwakilan kampus yang dinilai tidak memiliki otoritas penuh dalam mengambil keputusan.

​”Kami kecewa karena hanya ditanggapi oleh wakil rektor dan Badan Pelaksana Harian (BPH), sementara mereka bukan pengambil kebijakan tertinggi. Jika BPH memang memiliki peran strategis, mengapa tidak mampu menghadirkan rektor untuk menemui mahasiswa?” tegas Steven.

​Soroti Rangkap Jabatan, Mahasiswa Minta Rektor Mundur

​Di akhir aksi, mahasiswa menyampaikan kritik tajam terhadap kepemimpinan Bukman Lian. Mereka menyoroti posisi mitranya yang dinilai tidak ideal karena memegang dua jabatan besar sekaligus, yakni sebagai Rektor UPGRI Palembang dan Ketua PGRI Sumatera Selatan. Menurut mahasiswa, fokus kepemimpinan menjadi terpecah sehingga urusan internal kampus terabaikan.

​Mahasiswa secara tegas menyatakan, apabila rektor sudah tidak sanggup lagi mendengar dan menyelesaikan persoalan di tubuh UPGRI, maka jauh lebih terhormat bagi yang bersangkutan untuk mempertimbangkan mundur dari jabatannya.

​Massa menegaskan tidak akan berhenti sampai di sini. Mereka berkomitmen untuk terus mengawal isu ini melalui langkah-langkah strategis, baik secara administratif maupun gerakan intelektual, hingga mendapat jawaban konkret dari pengambil kebijakan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini