​Meredefinisi Purun Pedamaran: Sinergi Tiga PTN dan Asa Kelestarian Budaya Khas Ogan Komering Ilir

0
5

LogikaIndonwsia.Com – Di tengah kepungan alih fungsi lahan dan derasnya arus modernisasi, helaian rumput purun di rawa-rawa lebak Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), terus dirajut oleh jemari lentik para perempuan desa. Bukan sekadar penyambung hidup, anyaman purun adalah helaian tradisi dan identitas yang telah melintasi generasi.

​Untuk menjaga agar warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) ini tidak tergilas zaman, tiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka Universitas Terbuka (UT), Universitas Sriwijaya (Unsri), dan Universitas Airlangga (Unair) bergandengan tangan menggelar program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Jumat (14/8/2026).

​Mengusung tema “Transformasi Ekonomi Kreatif Melalui Inovasi Produk dan Digital Marketing Kerajinan Anyaman Purun”, kolaborasi lintas kampus ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat lokal, modernisasi pengolahan, hingga perluasan pasar hingga skala internasional.

​Membuka Belenggu Tradisional: Dari Tikar Menuju Produk Bernilai Tinggi

​Selama ini, purun kerap diidentikkan sebatas bahan baku tikar tradisional. Padahal, nilainya jauh melampaui itu. Dr. Meita Istianda dari Universitas Terbuka menegaskan bahwa kunci keberlanjutan purun terletak pada keberanian bertransformasi melalui inovasi produk.

​”Perlu adanya inovasi produk, tidak hanya sebatas membuat tikar tradisional. Produk purun harus terus dikembangkan agar memiliki nilai tambah dan mampu meningkatkan kesejahteraan pengrajin,” ujar Dr. Meita.
​Dalam program pendampingan ini, kolaborasi dilakukan secara mendalam dengan merangkul tokoh pengrajin lokal seperti Pak Pegang untuk mengeksplorasi ragam produk berbahan purun. Menurut Dr. Meita, purun bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kebudayaan masyarakat Komering di sepanjang aliran sungai. Dari momen kelahiran bayi hingga ritual pernikahan adat, purun hadir sebagai saksi kehidupan.

​Lebih jauh, Dr. Meita menekankan perlunya dukungan kebijakan yang berpihak dari jajaran pemangku kepentingan, mulai dari Ketua RT, Kepala Desa, hingga Bupati. Keterlibatan pemerintah daerah sangat krusial untuk melahirkan regulasi yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menopang ekonomi warga.

​Menerobos Pasar Digital dan Meniti Tangga Pendidikan

​Pengembangan ekonomi kreatif tidak akan tuntas tanpa strategi pemasaran yang beradaptasi dengan era digital. Perwakilan Universitas Sriwijaya, Dr. Agustina Bidarti, menyoroti pentingnya membawa karya tangan para pengrajin wanita Pedamaran ke ekosistem daring (online).

​”Harapannya, hasil karya ibu-ibu dan para perajin di sini dapat dipasarkan secara online sehingga jangkauan pasarnya semakin luas,” jelas Dr. Agustina. Bersama tim dosen pendamping, Unsri memberikan pelatihan praktis terkait digital marketing, mulai dari fondasi konsep hingga strategi penjenamaan (branding) di berbagai platform digital.

​Tak hanya berhenti pada urusan ekonomi, PMKI 2026 juga menyisipkan misi sosial untuk memutus rantai keterbatasan melalui pendidikan. Dr. Agustina memotivasi generasi muda Desa Menang Raya agar berani melangkah ke jenjang perguruan tinggi—baik di Unsri, Universitas Terbuka, Universitas Muhammadiyah, Universitas Sumatera Selatan, maupun PGRI.

​”Pendidikan sangat penting untuk meningkatkan masa depan dan mendongkrak derajat kehidupan masyarakat,” pungkasnya.

​Belajar dari Kasongan dan Menjawab Ancaman Bahan Baku

​Impian besar turut ditiupkan oleh Dr. Gayung Kasuma dari Universitas Airlangga. Ia optimistis Pedamaran memiliki potensi menjadi pusat kerajinan berbasis purun yang disegani secara nasional maupun internasional, menyamai ikonisnya Kota Gede dengan perak, Kasongan dengan gerabah, atau Tanggulangin dengan kerajinan kulitnya.

​Namun, di balik optimisme tersebut, Gayung memberikan catatan kritis terkait dua tantangan mendesak: keberlangsungan bahan baku dan regenerasi pengrajin.

Ancaman Ekologis: Lahan lebak tempat purun tumbuh liar kini kian terdesak akibat alih fungsi menjadi perkebunan sawit, karet, dan akasia, serta invasi gulma kumpai.

Krisis Regenerasi: Minat anak muda untuk menganyam kian menyusut karena tergiur pekerjaan di kawasan perkotaan, ditambah maraknya harga jual produk yang belum sepadan dengan proses pembuatan yang rumit.
​Sebagai solusinya, Gayung mendorong penterjemahan purun ke dalam produk turunan bernilai ekonomi tinggi seperti tas modis, topi, dompet, tempat tisu, hingga sajadah mini. Ia juga mendesak pentingnya pendaftaran

Indikasi Geografis untuk melindungi hak kekayaan intelektual purun Pedamaran dari klaim pihak luar.

​Suara dari Desa: Sentuhan Teknologi dan Asa Pengrajin

​Kepala Desa Menang Raya, Rian Saputra, S.H., menyambut hangat hadirnya para akademisi. Menurutnya, program ini menjadi angin segar bagi kelompok perempuan desa yang menjadi garda terdepan menjaga warisan budaya.

​”Anyaman purun bukan sekadar tradisi, melainkan identitas dan warisan budaya takbenda masyarakat Pedamaran yang menjadi tumpuan ekonomi kaum perempuan. Kami berharap program ini terus berlanjut dengan sentuhan inovasi dan teknologi, sekaligus menjadi benteng pertahanan kebudayaan kami,” tutur Rian.

​Aspirasi serupa digaungkan oleh Ida Utami Dwi Kurniawati, Ketua Urang Diri Pedamaran sekaligus pemilik Galeri Purun Rude Gebol Juai Pedamaran 4. Selama ini, hasil menganyam purun telah menjadi penopang nyata dalam dapur rumah tangga hingga membiayai pendidikan anak-anak desa.

​Produk Pedamaran sebenarnya telah melanglang buana—menjangkau Jambi, tampil di pameran Batam, hingga memenuhi pesanan instansi untuk goodie bag kegiatan PKK. Inovasi lokal pun terus berkembang, seperti pembuatan wadah caluk hingga penggunaan pewarna alami dari kunyit.

​Meski pengrajin telah mengecap berbagai pelatihan hingga ke Kudus dan Yogyakarta, Ida menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah efisiensi produksi dan jaminan bahan baku.

​”Kami sangat membuka peluang kerja sama dengan Fakultas Teknik Mesin Unsri untuk merancang alat atau mesin penumbuk purun. Proses manual yang memakan waktu perlu dibantu teknologi,” ungkap Ida.
​Mengakhiri keterangannya, Ida menitipkan harapan besar agar seluruh pihak pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat—bersatu menjaga ekosistem lebak purun dari pencemaran limbah dan alih fungsi lahan.

​”Harapannya purun Pedamaran tetap lestari. Ini bukan hanya soal kerajinan, tetapi menyangkut kebudayaan, marwah, dan sumber penghidupan masyarakat Pedamaran,” tutupnya penuh harap.