Ratu Dewa dan Sultan Palembang Kompak Dorong Pelestarian Budaya Lewat Festival Palembang Darussalam

0
4

​Menjaga Denyut Nadi Wong Kito di Jantung Palembang Darussalam

​LogikaIndonesia.Com – Aroma khas kuliner tradisional berpadu hangat dengan riuh rendah gelak tawa penonton stand-up comedy berbahasa Palembang. Di sudut lain, gemercik tabuhan rebana Syarofal Anam bersahutan dengan derap langkah mantap para pesilat yang memperagakan jurus-jurus pencak silat kuno. Di tengah kepungan modernitas, Gedung AEKI Palembang pada Rabu (24/6/2026) mendadak menjelma menjadi sebuah oase budaya yang hidup.

​Hari itu, Festival Palembang Darussalam XXII Tahun 2026 resmi dibuka. Sebuah perhelatan yang bukan sekadar kalender tahunan, melainkan sebuah pernyataan sikap: bahwa identitas kota tertua di Indonesia ini menolak pudar oleh zaman.

​Dua Dekade Merawat Tradisi

​Konsistensi bukanlah perkara mudah, terlebih ketika berbicara tentang merawat tradisi di era gempuran digital. Namun, Kerukunan Keluarga Palembang (KKP) membuktikan taringnya. Dua puluh dua tahun sudah organisasi ini setia menyediakan panggung bagi warisan leluhur.

​Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M. Fauwaz Diradja, yang hadir langsung bersama jajaran tokoh penting seperti Ketua Umum KKP Kgs H Abdul Rozak MSc dan Sekretaris KKP Mgs Syaiful Padli, tak dapat menyembunyikan rasa bangganya.

​“Kita berharap Festival Palembang Darussalam dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan kualitas yang semakin meningkat. Saya sangat mengapresiasi pelaksanaannya,” ungkap Sultan dengan penuh takzim. Bagi Kesultanan, festival ini adalah wadah vital untuk mengalirkan nilai-nilai luhur Palembang kepada generasi masa kini.

​Senada dengan Sultan, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang membuka acara secara resmi, menegaskan bahwa merawat budaya di tengah arus globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Palembang, dengan rekam jejak sejarahnya yang panjang—mulai dari kejayaan maritim Sriwijaya hingga keagungan Kesultanan Palembang Darussalam memiliki akar karakter yang terlalu berharga untuk dibiarkan tergerus.

​“Festival Palembang Darussalam memiliki arti yang sangat strategis karena menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin mencintai budaya daerahnya sendiri,” ujar Ratu Dewa hangat.

​Dari Bebaso hingga Geliat Ekonomi Rakyat

​Apa yang membuat festival tahun ini terasa begitu berdenyut adalah keberaniannya mengawinkan tradisi adiluhung dengan kreativitas populer. Ketua Pelaksana Festival, RM Yusuf Indra Kesuma SH, memaparkan betapa kayanya ragam kegiatan yang disuguhkan bertepatan dengan momentum Hari Jadi Kota Palembang ini.

​Anak-anak muda ditantang melucu lewat stand-up comedy baso Palembang, sementara yang lain adu kelancaran dalam cerios bebaso Palembang (bercerita menggunakan bahasa Palembang halus)—sebuah upaya konkret menyelamatkan bahasa ibu dari kepunahan tutur. Tak kurang dari 100 anak juga menumpahkan imajinasinya di atas kertas dalam lomba mewarnai dan pameran lukisan.

​Namun, festival ini tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Di selasar gedung, denyut ekonomi kerakyatan terasa nyata lewat bazar UMKM yang melibatkan perwakilan dari 18 kecamatan di Kota Palembang. Mulai dari kain songket yang anggun hingga penganan khas yang menggugah selera dipamerkan di sini.

​“Keberadaan UMKM dalam festival ini merupakan bentuk nyata dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi kerakyatan,” tambah Ratu Dewa. Kebudayaan, pada akhirnya, terbukti bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.

​Estafet untuk Masa Depan

​Mengapa semua keriuhan ini begitu penting? Ketua Umum KKP, Kgs H Abdul Rozak MSc, merangkumnya dengan sederhana namun mendalam. Festival ini lahir dari sebuah kerinduan kolektif untuk menyediakan ruang.

​“Tujuan utamanya agar generasi muda mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya yang menjadi identitas Kota Palembang,” tuturnya.

​Ketika tirai Festival Palembang Darussalam XXII nanti ditutup, harapannya riuhnya tidak ikut reda. Semangat yang menyala dari Gedung AEKI hari itu diharapkan terus menjalar ke gang-gang pemukiman di tepian Sungai Musi, ke dalam ruang-ruang kelas, dan ke dalam hati setiap Wong Kito, memastikan bahwa identitas Palembang Darussalam akan tetap tegak berdiri hingga berabad-abad ke depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini