Halal Bihalal Sumbagsel di Palembang: Silaturahmi, Budaya, dan Gagasan Konkret untuk Masa Depan

0
3

LogikaIndonesia.Com – Suasana Hangat di Griya Agung Sabtu (25/4/2026) sore, Griya Agung Palembang dipenuhi suasana hangat penuh keakraban. Ratusan masyarakat perantau Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) berkumpul dalam acara Halal Bihalal, sebuah tradisi yang bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga momentum kebersamaan lintas daerah.

Acara ini terasa istimewa karena dihadiri tokoh-tokoh penting: Sultan Palembang Darussalam SMB IV Jayo Wikramo, RM Fauwaz Diradja, lima gubernur dari provinsi Sumbagsel, serta sejumlah tokoh nasional. Hadir pula para bupati dan wali kota, menjadikan pertemuan ini sebagai forum besar yang menyatukan elite politik, budaya, dan masyarakat.

Kehadiran Para Pemimpin Daerah dan Nasional
Lima gubernur hadir lengkap: Herman Deru (Sumsel), Rahmat Mirzani Djausal (Lampung), Helmi Hasan (Bengkulu), Al Haris (Jambi), dan Hidayat Arsani (Kepulauan Bangka Belitung). Dari tingkat nasional, tampak Menko Pangan Zulkifli Hasan, Mendagri Tito Karnavian, Hatta Rajasa, serta Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari.

Kehadiran mereka bukan hanya simbol, melainkan juga penegasan bahwa Sumbagsel memiliki posisi strategis dalam percaturan politik dan pembangunan nasional.

Tito Karnavian: Humor, Refleksi, dan Gagasan Konkret

Mendagri Tito Karnavian membuka acara dengan candaan ringan yang mencairkan suasana. Ia bercerita tentang pempek Lampung dan Palembang, hingga kisah pencarian kapal selam Nanggala yang diselingi humor tentang “jalur supernatural.” Gelak tawa pun pecah di ruangan.

Namun di balik humor, Tito menyampaikan pesan serius: Halal Bihalal ini harus menjadi wadah merumuskan gagasan konkret untuk kemajuan Sumatera. Ia menekankan bahwa potensi putra-putri Sumbagsel di tingkat nasional sangat besar, mulai dari pimpinan DPR, DPD, hingga lembaga tinggi negara.

“Bayangkan, kekuatan politik dan kebijakan kita luar biasa. Tapi sayangnya, kita masih kurang solid,” ungkap Tito.

Salah satu gagasan yang ia usulkan adalah menghidupkan kembali jalur lintas Palembang–Bengkulu. Ia menargetkan proyek strategis ini bisa diwujudkan dalam tiga tahun ke depan (2026–2029). Tito bahkan mengusulkan pertemuan lanjutan di Jakarta untuk merumuskan program-program nyata.

Herman Deru: Lima Suara, Satu Semangat

Gubernur Sumsel Herman Deru menilai pertemuan ini sebagai momentum penting mempererat hubungan antar daerah.

“Sudah lama kita menjadi bagian dari Sumbagsel, namun baru kali ini bisa berkumpul dalam suasana seperti ini. Lima suara satu semangat,” ujarnya.

Deru menekankan pentingnya menjaga akar budaya di tengah keberagaman, serta mengingatkan bahwa banyak tokoh nasional berasal dari Sumbagsel dan berkontribusi besar bagi pembangunan Indonesia.

Zulkifli Hasan: Potensi Besar Sumbagsel

Menko Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mempererat ikatan batin masyarakat Sumbagsel. Ia menyoroti potensi luar biasa lima provinsi ini, baik dari segi sumber daya manusia maupun kekayaan alam.

“Sumbagsel ini memiliki peradaban paling tua, karena ada Kedatuan Sriwijaya. Potensinya luar biasa, ini perlu kita tindaklanjuti agar pembangunan bisa optimal dan rakyat merasakan manfaatnya,” katanya.

Sultan SMB IV: Mengingat Akar Budaya Kesultanan Palembang

Dalam kegiatan ini, Sultan SMB IV Jayo Wikramo menekankan pentingnya silaturahmi sebagai jembatan persatuan. Ia mengingatkan bahwa secara historis, wilayah Sumbagsel pernah bersatu di bawah naungan Kesultanan Palembang Darussalam.

“Kita ini sebenarnya satu rumpun, satu budaya, satu adat. Dulu nenek moyang kita sudah bersatu di bawah Kesultanan Palembang. Sekarang, meskipun kita terbagi secara administratif, hati dan semangat kita tetap satu,” ujar SMB IV.

Sultan berharap agar Halal Bihalal ini menjadi agenda tahunan, bahkan dengan skala lebih besar, agar persatuan masyarakat Sumbagsel tetap terjaga.

Silaturahmi sebagai Jembatan Persatuan

Halal Bihalal Sumbagsel di Griya Agung bukan sekadar ajang temu kangen. Ia menjadi forum strategis untuk memperkuat persatuan, menggali akar budaya, dan merumuskan langkah konkret pembangunan.

Kehadiran tokoh-tokoh nasional dan daerah menunjukkan komitmen bersama untuk menjadikan Sumbagsel sebagai kekuatan penting dalam pembangunan nasional. Dari silaturahmi lahir gagasan, dari kebersamaan lahir semangat baru, dan dari akar budaya lahir kekuatan untuk masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini