Oleh M.Yasin
LogikaIndonesia.Com – Presiden Prabowo mengatakan kecerdasan tidak ditentukan oleh sekolah. Bahlil Lahadalia kemudian dijadikan salah satu contoh.
Pernyataan itu menarik.
Sebab selama ini anak-anak Indonesia disuruh sekolah, guru diminta mendidik, orang tua diminta berjuang membiayai pendidikan, dan negara menghabiskan anggaran besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Lalu tiba-tiba kita diberi kesimpulan:
“Kecerdasan bukan dari sekolah.”
Kalau begitu, untuk apa anak-anak sekolah?
Satire ini bukan untuk mengatakan Bahlil tidak cerdas. Justru perjalanan hidup seseorang memang tidak bisa diukur hanya dari nama sekolah atau universitasnya.
Tetapi satu orang tidak bisa dijadikan alasan untuk mengecilkan arti pendidikan bagi jutaan anak Indonesia.
Bahlil adalah contoh keberhasilan individu.
Pendidikan adalah investasi sebuah bangsa.
Sekolah memang tidak otomatis membuat seseorang cerdas. Tetapi sekolah yang baik memberi kesempatan kepada setiap anak untuk mengembangkan kecerdasannya.
Jadi pertanyaannya bukan:
“Apakah kecerdasan berasal dari sekolah?”
Melainkan:
“Mengapa negara belum mampu memastikan semua anak Indonesia mendapatkan sekolah yang benar-benar mampu mengembangkan kecerdasan mereka?”
Dan kalau Bahlil dijadikan bukti bahwa kecerdasan tidak perlu sekolah, mungkin para guru pantas bertanya:
“Kalau begitu, Pak, kami mengajar untuk apa?”







