Perkuat Ekosistem Seni dan Budaya, Forwida Sumsel dan Disbudpar Dorong Kolaborasi Pentahelix

0
3

LogikaIndonesia.Com – Forum Pariwisata dan Budaya (Forwida) Sumatera Selatan memperkuat komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah dalam memajukan sektor kebudayaan dan pariwisata daerah. Langkah ini ditegaskan dalam audiensi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan yang berlangsung pada Rabu (29/7/26). Pertemuan tersebut berfokus pada penguatan kerja sama berbasis pentahelix melibatkan akademisi, budayawan, pemerintah, media, hingga pelaku usaha

​Ketua Umum Forwida Sumsel, Dr. Ir. Diah Kusuma Pratiwi, M.T., CIAP, menyampaikan bahwa Forwida hadir untuk mendampingi dan menopang program-program pemerintah. Secara legalitas, Forwida berbadan hukum sebagai Yayasan Wisata dan Budaya.

​”Selama ini Forwida menjadi mitra Disbudpar, Dinas Perindustrian, hingga Dinas Koperasi. Kami hadir bukan sebagai oposisi, melainkan mitra yang siap mendukung penuh pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata Sumsel,” ujar Diah, yang hadir didampingi jajaran pengurus seperti Toni Panggarbesi, Dr. Asmawati, Dr. Isabella, Raden Genta Laksana, dan Ika Swastika.

Dari Inovasi Purun Hingga Gagasan Fakultas Budaya

​Sejak berdiri, Forwida terbukti aktif menggerakkan ekosistem lokal. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari festival budaya, pelatihan kraf tradisional (seperti tanjak, gandik, dan seni lacquer), pelestarian huruf Kaganga, lomba lagu daerah, hingga serangkaian diskusi publik dan pendampingan ekonomi kreatif.

​Salah satu fokus pendampingan Forwida saat ini menyasar para pengerajin tikar purun di Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Menjawab tantangan minimnya inovasi dan alat produksi, Forwida berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian merancang mesin pemipih purun.

​”Desain mesinnya sudah selesai dan siap masuk tahap pembuatan prototipe sebelum diuji kinerja,” jelas Diah.

​Tak hanya di tingkat tapak, Forwida juga membawa gagasan strategis di bidang pendidikan. Dalam audiensi tersebut, mereka mengusulkan sinergi bersama Disbudpar dan Balai Pelestarian Kebudayaan untuk mengusulkan pembentukan Fakultas Budaya di Universitas Sriwijaya (Unsri) guna mencetak SDM kebudayaan yang andal.

Disbudpar Sambut Hangat: “Pemerintah Tak Bisa Jalan Sendiri”

​Kepala Disbudpar Provinsi Sumsel, Dr. H. Rudi Irawan, S.Sos., M.Si., menyambut positif berbagai inisiatif Forwida. Menurutnya, potensi kebudayaan merupakan ruh utama pariwisata Sumatera Selatan yang memutuhkan kerja sama lintas sektor.

​”Kami sangat mengapresiasi keberadaan Forwida. Mengembangkan pariwisata dan kebudayaan tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian, melainkan harus lewat kolaborasi seluruh unsur pentahelix,” kata Rudi.

​Dalam kesempatan tersebut, Rudi memaparkan beberapa poin penting arah pengembangan pariwisata dan budaya Sumsel ke depan:

​Konektivitas Destinasi: Mendorong keterhubungan paket wisata antarprovinsi se-Sumatera agar angka kunjungan wisatawan meningkat pesat.

​Pemasaran Karya Seniman: Bekerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk memberi ruang bagi karya seniman lokal. “Misalnya, lukisan pelukis lokal dipajang di hotel-hotel Sumsel. Ini bernilai ekonomi sekaligus menjadi media promosi,” jelas Rudi.

​Penguatan Storytelling: Membangun narasi yang kuat pada setiap destinasi dan situs sejarah agar memiliki daya pikat lebih bagi wisatawan.

​Inisiasi ISBI Sumsel: Menjalankan amanah Gubernur Sumsel untuk terus mengawal proses pendirian Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Sumsel.

​Melalui pertemuan ini, Forwida dan Disbudpar Sumsel sepakat untuk terus menyelaraskan langkah demi menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui pariwisata berbasis komunitas.