Kompleks Makam Ki Gede Ing Suro

0
4

Jejak Awal Peradaban Palembang dan Pencarian Silsilah yang Menghubungkan Nusantara

LogikaIndonedia.Com – Kompleks Makam Ki Gede Ing Suro di kawasan 1 Ilir, Palembang, kembali ramai didatangi para peziarah dari berbagai daerah. Selain menjadi salah satu situs tertua peninggalan Kerajaan Palembang, kawasan ini juga menyimpan jejak panjang perjalanan Islam serta silsilah tokoh-tokoh penting yang membentuk sejarah Palembang Darussalam.

Pusat Peradaban Lama di Jantung Kuto Gawang

Terletak di Jalan Ratu Sianum, Lorong H. Umar, Kelurahan 1 Ilir, kompleks makam ini berada di wilayah yang dahulu menjadi pusat Kerajaan Palembang: Kuto Gawang. Di sinilah para pendiri Palembang Darussalam membangun fondasi politik, budaya, dan keagamaan yang kelak berkembang menjadi salah satu pusat Islam terbesar di Sumatera bagian selatan.Keunikan situs ini tampak pada struktur makam yang berdiri di atas fondasi candi kuno, memperlihatkan peralihan budaya dari era Hindu–Buddha menuju Islam. Perpaduan arsitektur tersebut menjadi bukti nyata transformasi peradaban yang berlangsung di Palembang.

Pencarian Silsilah dari Kudus ke Palembang

Di antara para peziarah, hadir Anton Setio, warga Kudus, Jawa Tengah, yang datang bukan sekadar untuk wisata religi. Sejak 2012, ia menelusuri jejak leluhur yang diyakininya memiliki keterkaitan dengan tokoh-tokoh Palembang masa lampau.Anton mengaku perjalanan panjangnya dipenuhi petunjuk yang akhirnya mengarah ke Makam Ki Gede Ing Suro. Ia datang bersama keluarga dan sahabat pada Sabtu (30/5/2026), berharap menemukan kepingan sejarah keluarganya yang hilang.Menurut informasi yang ia peroleh dari berbagai tokoh, terdapat hubungan antara keturunan Ki Gede Ing Suro dengan figur-figur penting yang kemudian berperan dalam perkembangan Kesultanan Palembang Darussalam.

Jejak Para Raja: Dari Sido Ing Rejek hingga Sultan Abdurrahman

Dalam penelusurannya, Anton mendapatkan penjelasan mengenai tokoh-tokoh yang dimakamkan di kawasan 1 Ilir dan Sakatiga, Ogan Ilir. Salah satunya adalah Sido Ing Rejek, raja terakhir Kerajaan Palembang yang memberikan gelar Abdurrahman kepada adiknya, Kemas Hindi.Kemas Hindi kemudian memproklamasikan berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam dengan nama lengkap:Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam
(1659–1706) Ia memimpin setelah runtuhnya Kuto Gawang akibat serangan VOC Belanda pada pertengahan abad ke-17. Sultan Abdurrahman dan keluarganya kemudian dimakamkan di kawasan Cinde Walang, di belakang Pasar Cinde.

Ziarah yang Menghidupkan Kembali Sejarah

Bagi Anton, kedatangannya ke Palembang memberikan pengalaman berharga. Ia tidak hanya menemukan petunjuk mengenai garis keturunan keluarga, tetapi juga memahami lebih dalam sejarah panjang Palembang Darussalam.Banyak kisah yang sebelumnya hanya ia dengar dari cerita turun-temurun, kini dapat ia lihat langsung di lokasi-lokasi bersejarah yang menjadi bagian dari perjalanan para leluhur.

Situs Penting Penelitian Sejarah

Hingga kini, Kompleks Makam Ki Gede Ing Suro tetap menjadi destinasi penting bagi masyarakat, peneliti, dan peziarah. Selain sebagai tempat ziarah, kawasan ini menjadi sumber utama penelitian mengenaiKerajaan Palembang Kesultanan Palembang Darussalam Penyebaran Islam di Sumatera Selatan Keberadaan makam para raja, ulama, dan tokoh penting di kawasan ini menjadi pengingat bahwa Palembang pernah menjadi salah satu pusat peradaban besar di Nusantara, meninggalkan warisan sejarah, budaya, dan keagamaan yang masih terjaga hingga hari ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini