LogikaIndonesia.Com – Langkah kaki pagi itu terasa magis di kawasan Sakotigo Ilir, Kabupaten Ogan Ilir. Angin sepoi dari arah sungai seperti membawa kembali memori ratusan tahun lalu, saat sebuah peradaban besar sedang diuji oleh api dan bubuk mesiu. Di tempat yang tenang ini, terkubur sesosok pemimpin yang memilih menyingkir ketimbang tunduk Pangeran Sido Ing Rejeg.
Minggu, 12 Juli 2026, keheningan kompleks makam sang pangeran terusik oleh kehadiran sejumlah tokoh Sumatera Selatan. Mereka datang bukan sekadar untuk melepas penat di hari libur, melainkan untuk sebuah misi penting merawat ingatan kolektif yang mulai mengabur.
Tampak di antara rombongan, Staf Khusus Gubernur Sumsel Kemas Khoirul Mukhlis, Ketua DPW Syarikat Islam Sumsel Vaishol Sandrogi, budayawan Vebri Al Lintani serta Seniman Ali Goik. Bersama para pemerhati sejarah Palembang, mereka tertunduk khusyuk, memanjatkan doa terbaik untuk sang leluhur.
Api Kuto Gawang dan Pelarian Sang Pangeran
Bagi masyarakat awam, nama Pangeran Sido Ing Rejeg mungkin terdengar asing. Namun bagi lini masa sejarah Palembang, beliau adalah tokoh kunci dalam fase transisi krusial. Memerintah sekitar tahun 1651 hingga 1659 dengan gelar Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI, ia adalah penguasa di masa-masa akhir Kerajaan Palembang sebelum akhirnya bermutasi menjadi Kesultanan Palembang Darussalam.
Budayawan Vebri Al Lintani menjelaskan bahwa makam ini adalah saksi bisu dari keteguhan sikap. Pada masanya, hubungan Palembang dan kongsi dagang Belanda (VOC) memanas hingga meletus menjadi konflik terbuka.
Runtuhnya Keraton Kuto Gawang pada tahun 1659 akibat serangan brutal VOC menjadi titik balik. Alih-alih menyerahkan kedaulatan, Pangeran Sido Ing Rejeg memilih menyingkir ke pedalaman, memilih Sakatiga sebagai benteng terakhirnya hingga akhir hayat.
”Sejarah harus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Kemas Khoirul Mukhlis di sela-sela ziarah. Menurutnya, menghidupkan kembali semangat menghormati para pendahulu adalah cara terbaik untuk menjaga fondasi identitas budaya Sumatera Selatan di tengah gempuran zaman modern.
Menuju “Tabur Bunga Leluhur” Agustus Mendatang
Ziarah sore itu tak sekadar ritual tabur bunga dan doa. Rombongan tampak sibuk mengamati lanskap sekitar makam, mengukur ruang, dan berdiskusi serius. Rupanya, mereka sedang melakukan survei lokasi untuk sebuah perhelatan budaya berskala besar, yaitu Tabur Bunga Leluhur Palembang Darussalam yang dijadwalkan pada akhir Agustus 2026 mendatang.
Melalui rencana kegiatan ini, para tokoh dan pemerhati sejarah mengusung tiga target utama untuk pemulihan situs dan nilai sejarah di Sakotigo. Pertama, sebagai ruang edukasi publik untuk mengenalkan kembali fase transisi penting dari masa Kerajaan menuju Kesultanan Palembang Darussalam. Kedua, melakukan revitalisasi nilai dengan mendorong makam bersejarah ini menjadi destinasi wisata religi dan sejarah yang diakui secara luas. Terakhir, kegiatan ini menjadi pemantik untuk memperkuat identitas budaya, mengajak generasi muda Sumatera Selatan agar kembali mengenali dan bangga akan akar sejarah mereka sendiri.
Matahari mulai naik keatas kepala saat rombongan bersiap meninggalkan Sakotigo. Namun, ada optimisme yang tertinggal di sana. Melalui agenda budaya di bulan Agustus nanti, sebuah harapan besar sedang dirajut agar kisah perjuangan sang pangeran di Sakotigo tak lagi menjadi lembaran sejarah yang sunyi, melainkan narasi besar yang terus hidup di hati anak cucu Sumatera Selatan.







