oleh M. Yasin
LogikaIndonesia.Com – Tidak semua orang yang berdiri di garis finis pernah berlari sejak garis start.
Dalam setiap perjuangan selalu ada mereka yang rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dana, bahkan nama baik demi sebuah cita-cita. Mereka berjalan di jalan yang sunyi, menembus keraguan, menghadapi cemoohan, dan tetap bertahan ketika harapan tampak begitu jauh. Mereka memahami bahwa setiap kemenangan selalu menuntut harga yang harus dibayar.
Namun, di setiap perjuangan pula, sering muncul sosok lain. Mereka tidak tampak ketika badai datang. Mereka tidak hadir saat rapat berlangsung hingga larut malam. Mereka tidak berdiri di barisan terdepan ketika tekanan dan risiko mengintai. Mereka memilih menjadi penonton yang aman, menunggu arah angin berubah.
Mereka adalah sang penumpang kemenangan.
Mereka memiliki naluri yang tajam membaca situasi. Selama perjuangan masih penuh ketidakpastian, mereka menjaga jarak. Mereka enggan mengeluarkan tenaga, pikiran, dana apalagi mengambil risiko. Tetapi ketika tanda-tanda kemenangan mulai terlihat, mereka perlahan mendekat. Ketika jalan telah dibuka oleh pengorbanan orang lain, mereka melangkah dengan percaya diri seolah ikut membangun jalan itu sejak awal.
Yang mereka cari bukanlah proses perjuangan, melainkan kemuliaan dari hasil perjuangan. Yang mereka kejar bukanlah pengorbanan, melainkan tepuk tangan. Mereka ingin menikmati buah tanpa pernah ikut menanam pohonnya.
Ironisnya, penumpang kemenangan sering tampil paling lantang setelah kemenangan diraih. Mereka pandai menyusun narasi, seakan-akan sejarah dimulai sejak mereka datang. Mereka ingin berdiri di panggung, berfoto di barisan depan, dan menerima penghormatan yang sesungguhnya dibangun oleh keringat orang lain.
Padahal, sebuah perjuangan tidak pernah dibangun oleh mereka yang hanya datang ketika keadaan telah aman. Sejarah ditulis oleh orang-orang yang tetap bertahan ketika harapan hampir padam, oleh mereka yang memilih memikul beban ketika banyak orang memilih menjauh.
Dalam kehidupan organisasi, keberadaan penumpang kemenangan menjadi ujian bagi para pejuang sejati. Jika dibiarkan mendominasi, budaya pengorbanan akan berganti menjadi budaya menunggu. Orang-orang akan berpikir bahwa lebih menguntungkan datang belakangan daripada berjuang sejak awal. Akibatnya, semangat solidaritas perlahan memudar.
Namun demikian, pejuang sejati tidak perlu sibuk mengejar pengakuan. Pengorbanan yang tulus memiliki nilai yang tidak dapat dipalsukan. Orang mungkin dapat mengubah cerita, tetapi tidak dapat menghapus jejak langkah yang telah ditinggalkan.
Karena itu, setiap organisasi perlu membangun budaya yang menghargai proses, loyalitas, dan kontribusi nyata. Penghormatan hendaknya diberikan kepada mereka yang setia ko lp perjuangan dalam suka maupun duka, bukan semata-mata kepada mereka yang hadir ketika kemenangan telah berada di depan mata.
Pada akhirnya, kemenangan bukan hanya milik mereka yang berdiri di podium. Kemenangan sejati adalah milik mereka yang berani memulai, bertahan di tengah badai, dan tetap berjalan meskipun belum ada jaminan akan menang. Sebab sejarah selalu mengenang para pejuang, sementara penumpang kemenangan hanya menjadi bayang-bayang yang muncul ketika matahari telah bersinar.








