Cerpen:
oleh Amanda Maida Lamhati.
LogikaIndonesia.Com – ”Ada jalan yang menyimpan jejak langkah. Ada pula jalan yang menyimpan luka.”
Jalan Ogan selalu tampak sama setiap sore. Debu-debunya menari pelan diterpa angin, seolah mengiringi langkah para mahasiswa yang pulang dengan membawa buku, mimpi, dan kisah yang tak pernah selesai.
Di antara langkah-langkah itu, Arif berjalan dengan kepala tertunduk. Sejak perempuan yang dicintainya berpaling pada cinta yang lain , dunia terasa kehilangan warna. Langit tetap biru, matahari tetap tenggelam di ufuk barat, tetapi hatinya telah lama tenggelam lebih dahulu.
Di kampus, Arif adalah mahasiswa yang biasa saja. Ia memiliki seorang saudara kembar bernama Dani. Kembaran satu raga satu jiwa, seorang pelukis sekaligus penulis yang pendiam. Dani jarang berbicara panjang, tetapi setiap goresan kuas dan setiap kalimat yang ditulisnya selalu mampu menyampaikan apa yang tak sanggup diucapkan dengan kata-kata.
”Tak semua luka harus disembuhkan,” kata Dani suatu hari. “Ada luka yang hanya perlu diterima.”
Namun, Arif belum mampu menerimanya. Harapanya kini hanyalah Arista, teman sekelas yang cerdas, ramah, dan selalu memiliki waktu mendengarkan keluh kesahnya. Kepada Arista, Arif menumpahkan segala kepedihan yang selama ini ia pendam.
Suatu sore, sepulang kuliah, Arif berjalan menyusuri Jalan Ogan bersama Arista dan sahabat mereka, Lani. Debu beterbangan di sepanjang jalan, sementara matahari menggantung rendah seperti enggan meninggalkan hari.
Arista memecah kesunyian.
”Udahlah, Rif… jangan terus bersedih. Cari saja pengganti. Masih banyak gadis lain.”
Arif tersenyum hambar.
”Siapa gadis yang lain itu?”
Arista menoleh sambil tersenyum kecil.
”Aku.”
”lo kamu kan pacarnya Doni,” timpal Arif.
”gak lagi” sahut Arista singkat.
Langkah Arif mendadak terhenti.
Dadanya berguncang. Seakan seluruh debu Jalan Ogan berhenti berterbangan. Kata-kata sederhana itu menjelma cahaya yang menerobos ruang paling gelap di hatinya.
Ia memandang Arista, berharap itu bukan sekadar gurauan.
Malam itu, Arif tak mampu memejamkan mata. Bahagia dan ragu berkelindan dalam dadanya. Berkali-kali ia bertanya kepada dirinya sendiri, mungkinkah seorang gadis secantik dan sepintar Arista benar-benar membuka pintu hatinya untuk seseorang seperti dirinya?
Hari-hari berikutnya berubah menjadi lebih indah.
Setiap pulang kuliah mereka berjalan bersama di Jalan Ogan. Debu yang dahulu terasa muram kini seolah berubah menjadi serpihan cahaya keemasan. Mereka berbincang tentang buku, lukisan Dani dan karya sastranya.
Bagi Arif, jalan itu bukan lagi sekadar jalan pulang.
Ia telah menjadi jalan menuju harapan.
Hingga suatu sore, Arif mengajak Arista ke sebuah kedai pempek di pusat keramaian kota. Aroma cuka dan ikan tenggiri memenuhi ruangan, tetapi hati Arif lebih dipenuhi oleh debar yang tak mampu disembunyikan.
Dengan suara pelan ia bertanya,
”Arista… apakah benar… kamu mau menjadi pacarku?”
Arista menundukkan pandangan beberapa saat.
Lalu, dengan nada yang nyaris berbisik, ia berkata,
”Maaf, Rif… kita teman saja.”
Arif terdiam.
”Aku sudah kembali dengan pacar lamaku.”
Kalimat itu jatuh seperti hujan batu di musim kemarau.
Tak ada suara yang lebih nyaring daripada kesunyian yang menyusul setelahnya.
Arif hanya mengangguk, memaksakan senyum yang bahkan dirinya sendiri tak percaya.
Sejak hari itu, Jalan Ogan kembali menjadi jalan yang sunyi.
Tak ada lagi tawa Arista.
Tak ada lagi langkah yang berjalan berdampingan.
Hanya debu yang terus beterbangan, seolah menyimpan rahasia tentang harapan yang sempat tumbuh, namun gugur sebelum sempat berbunga.
Dani pernah berkata bahwa setiap pelukis membutuhkan warna gelap agar cahaya tampak lebih indah. Mungkin hidup pun demikian. Tidak semua pertemuan ditakdirkan menjadi kebersamaan, dan tidak semua harapan berakhir menjadi kenyataan.
Arif akhirnya memahami bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki. Kadang-kadang, cinta hanyalah keberanian untuk mengikhlaskan seseorang berjalan menuju kebahagiaannya, meski bukan bersama kita.
Sore itu, ia kembali menyusuri Jalan Ogan sendirian.
Debu masih menari bersama angin.
Langkah-langkahnya masih terdengar pelan.
Tetapi kini ia tahu, yang tertinggal bukan hanya jejak sepatu di atas jalan berdebu, melainkan juga serpihan kenangan yang akan terus hidup dalam setiap derai debu di Jalan Ogan.
Karena ada cinta yang lahir di sebuah jalan sederhana.
Dan ada cinta yang pergi di jalan yang sama, meninggalkan hati yang perlahan belajar menjadi dewasa. (Medio, 1987)









