DARURAT LITERASI: KETIKA SISWA DAN GURU MALAS MEMBACA

0
2

Oleh: M. Yasin

LogikaIndonesia.Com – Potret Nasional yang Mengkhawatirkan Rendahnya kemampuan literasi membaca siswa Indonesia kembali menjadi sorotan setelah hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor literasi membaca Indonesia hanya 359, jauh di bawah rata-rata negara OECD yaitu 476. Indonesia pun berada di peringkat 69 dari 80 negara. Angka ini menegaskan bahwa kemampuan memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan merefleksikan teks pada peserta didik Indonesia masih berada dalam kategori rendah.

Jika potret nasional ini ditarik ke konteks daerah, termasuk Sumatera Selatan, maka persoalan literasi membaca sesungguhnya jauh lebih kompleks. Masalah bukan sekadar rendahnya minat membaca siswa, melainkan lemahnya ekosistem literasi secara menyeluruh—bahkan pada sebagian guru sebagai aktor utama pembelajaran.

Literasi Lebih dari Sekadar Membaca

Literasi membaca bukan sekadar kemampuan mengeja atau melafalkan teks. Dalam pendidikan modern, literasi berarti kemampuan memahami makna, mengkritisi informasi, menghubungkan gagasan, dan menghasilkan pemikiran baru dari bahan bacaan. Pada titik inilah persoalan pendidikan di Sumatera Selatan patut dicermati secara serius.

Guru yang Belum Menjadi Pembaca

Paradoks pendidikan kita terletak pada kenyataan bahwa sekolah sering menyerukan pentingnya membaca, tetapi belum semua guru menjadikan membaca sebagai budaya intelektual pribadi.Masih banyak guru yang membaca hanya sebatas memenuhi kebutuhan administratif: menyusun perangkat ajar, mengejar sertifikasi, atau memenuhi tuntutan laporan kinerja. Aktivitas membaca untuk memperluas wawasan, memperdalam pedagogi, dan memperkaya perspektif ilmiah belum menjadi kebiasaan yang hidup dalam kultur profesionalisme guru.Padahal, berbagai penelitian menunjukkan kualitas literasi siswa berkorelasi kuat dengan kualitas literasi guru. Guru yang miskin bacaan cenderung mengajar secara tekstual, mekanis, dan berorientasi hafalan. Pembelajaran berubah menjadi transfer informasi satu arah, bukan proses dialog intelektual yang menumbuhkan daya pikir kritis.

Di sejumlah sekolah di Sumatera Selatan, praktik pembelajaran membaca masih berhenti pada aktivitas menjawab soal setelah membaca teks. Siswa jarang diajak berdiskusi kritis, membedah makna tersirat, mempertanyakan sudut pandang penulis, atau menghubungkan bacaan dengan realitas sosial. Akibatnya, membaca dipersepsikan sebagai kewajiban akademik, bukan kebutuhan intelektual.

Budaya Digital yang Dangkal

Faktor lain yang memperburuk situasi adalah penetrasi teknologi digital yang tidak dibarengi literasi mendalam.Siswa hari ini sangat akrab dengan gawai, tetapi kedekatan dengan layar tidak otomatis menghasilkan kecakapan membaca. Yang berkembang justru budaya scrolling: membaca cepat, dangkal, fragmentaris, dan serba instan. Fenomena ini melahirkan generasi yang terbiasa menerima informasi singkat, tetapi kesulitan menelaah teks panjang yang menuntut konsentrasi dan penalaran kompleks.Lebih ironis lagi, sebagian guru pun mengalami pola yang sama. Media sosial sering menjadi sumber informasi utama, menggantikan buku, jurnal, dan karya ilmiah yang semestinya menjadi konsumsi intelektual pendidik. Jika ini terus berlangsung, sekolah akan kehilangan fungsinya sebagai ruang pembentukan nalar kritis.

Ekosistem Literasi yang Lemah

Rendahnya literasi tidak lahir dalam ruang kosong. Ia merupakan produk dari ekosistem yang lemah.Di banyak sekolah di Sumatera Selatan, perpustakaan masih diperlakukan sebagai pelengkap akreditasi, bukan pusat kehidupan akademik. Koleksi buku sering usang, ruang baca kurang nyaman, dan aktivitas literasi berjalan seremonial. Program membaca lima belas menit sebelum pelajaran, misalnya, sering berlangsung sebatas formalitas administratif tanpa tindak lanjut pedagogis yang bermakna.Keluarga pun belum sepenuhnya menjadi rumah literasi. Padahal, dukungan keluarga terbukti menjadi faktor terbesar dalam peningkatan kemampuan membaca siswa. Ketika rumah tidak menyediakan kultur membaca, sekolah bekerja sendirian melawan arus distraksi digital yang sangat kuat.

Krisis Berpikir

Rendahnya kemampuan literasi membaca siswa dan guru adalah alarm serius yang tidak boleh diabaikan. Kita tidak sedang menghadapi krisis membaca semata, melainkan krisis berpikir.Daerah yang lemah literasinya akan melahirkan generasi yang mudah dipengaruhi, sulit bernalar kritis, dan rentan tertinggal dalam kompetisi global. Literasi bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan fondasi peradaban. Tanpa budaya membaca yang kuat, masa depan pendidikan kita akan terus berada dalam bayang-bayang darurat.

 

Penulis adalah pemerhati pendidikan dan kebudayaan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini