Menghidupkan Kembali Teater Dulmuluk: Tim FKIP Unsri Dorong Guru Sejarah Olah Warisan Lokal Jadi E-Comic Interaktif

0
2

​LogikaIndonesia.Com – Penerapan Kurikulum Berdampak sejatinya memberikan ruang bebas bagi para guru sejarah untuk berkreasi dengan beragam materi pembelajaran. Melalui pendekatan historical thinking, siswa diajak berpikir kritis untuk memahami kronologi, perubahan, hingga hubungan sebab-akibat dari peristiwa sejarah di sekitar mereka. Namun, fenomena di lapangan menunjukkan masih banyak guru yang terpaku pada materi konvensional. Akibatnya, sejarah lokal kerap terabaikan dan generasi muda makin asing dengan warisan budayanya sendiri, termasuk seni pertunjukan tradisional Dulmuluk.

​Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat dari Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) turun tangan secara langsung. Dipimpin oleh Dr. Dedi Irwanto dan Prof. Farida, tim ini menggelar pelatihan khusus di SMA Negeri 1 Tanjung Batu, Ogan Ilir, pada Senin (27/7).

​Tak sendirian, Dr. Dedi dan Prof. Farida dibantu oleh Dr. Agustina Bidarti, M. Reza Pahlevi, serta M. Taofik Kurrohman. Istimewanya, mereka juga menghadirkan Randy Putra Ramadhan, S.Pd., seorang seniman sekaligus praktisi Dulmuluk, untuk memberikan sesi masterclass secara interaktif bagi para guru.

Dari Hiburan Rakyat Jadi Sekadar Seremonial

​Menurut Prof. Farida, pengenalan kembali seni Dulmuluk sudah berada di titik krusial sebelum warisan bernilai tinggi ini benar-benar dilupakan masyarakat.

​“Sekitar tahun 1960–1970-an, saya sering sekali menonton Dulmuluk yang dipentaskan di pesta-pesta pernikahan warga. Sayangnya, sekarang Dulmuluk lebih sering hadir sekadar sebagai seremonial budaya di acara dinas pemerintah, bukan lagi hiburan rakyat,” kenang Prof. Farida.

​Ia menambahkan, pergeseran ini membuat masyarakat luas dan generasi muda semakin asing dengan seni tradisi khas Sumatra Selatan tersebut. “Inilah yang menjadi kewajiban kita bersama untuk mengenalkannya kembali ke ruang-ruang kelas.”

Jejak Historis:Pendorong Modernisasi dan Pariwisata Kolonial

​Dari sudut pandang sejarah, Ketua Tim Pengabdian Dr. Dedi Irwanto memaparkan bahwa Dulmuluk pada masa kolonial pernah memainkan peran besar dalam menunjang modernisasi dan pariwisata Palembang. Tujuan utamanya kala itu amat strategis: menarik daya pikat investor asing.

​“Setelah Palembang ditetapkan sebagai Stadsgemeente pada 6 April 1906, pemerintah kolonial memutar otak untuk menggenjot roda ekonomi kota melalui event besar,” terang Dr. Dedi.

​Salah satu perhelatan termegah saat itu adalah Koninginnedag—peringatan hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina—yang oleh warga lokal dijuluki Pekan Pasar Malam. Pesta rakyat ini dihelat sepekan penuh dari 31 Agustus hingga 6 September, menampilkan berbagai upacara dan atraksi budaya. Pada kurun 1906–1910, Belanda secara khusus mendatangkan kelompok Komedi Stamboel “Mahkota India” dari Singapura untuk mengisi acara pembukaan dan penutupan.

​Pertunjukan “Mahkota India” itulah yang mengilhami Wak Nang Nong, seorang seniman besar Palembang, untuk melahirkan seni pertunjukan serupa berbasis narasi lokal.

​Pada tahun 1910, Wak Nang Nong mengadaptasi Syair Abdulmuluk yang dulu sering dibawakan secara lisan oleh Wan Bakar, lalu mengolahnya menjadi pakem teater. Beliau mendirikan Abdulmoeloek-theater di kediamannya di Tangga Panjang, Sungai Kedemangan, Kampung 7 Ulu, Palembang, sekaligus bertindak sebagai “guru besar” yang melatih aktor-aktor lokal dari wilayah Uluan.

Debut Perdana dan Puncak Kejayaan

​Berdasarkan hasil penelitian intensif Dr. Dedi selama setahun, kelompok Abdulmoeloek menggelar pertunjukan perdana pada 16–22 April 1910 di Guguk Tanggo Takat—lokasi yang dulu sering menjadi tempat pembacaan syair. Pertunjukan digelar saban malam di bawah tenda beratap nipah berlampukan pendar lampu gas, lengkap dengan meja prasmanan sesajen di sudut panggung.

​Antusiasme warga meledak. Penonton yang terhanyut kerap melempar uang (saweran) sebagai bentuk apresiasi spontan. Bahkan, surat kabar lokal berbahasa Belanda saat itu, Palembangsch Nieuwsblad, memberikan ulasan yang sangat hangat.

​“Koran lokal Belanda memberi respons amat positif. Seni pertunjukan buatan Wak Nang Nong ini dinilai sangat menghhibur. Wak Nang Nong bahkan dipuji setinggi langit dan disapa sebagai Toean Nang Nong, Abdulmoeloek-theater Directeur,” ungkap Dedi.

​Ketenaran kelompok ini menyebar cepat hingga ke wilayah Uluan Palembang, mendatangkan berbagai undangan dari para Pasirah (pemimpin marga). Puncaknya, Gemeenteraad (Dewan Kota) Palembang mengundang mereka tampil di malam pembukaan perayaan Koninginnedag pada 31 Agustus 1910—menggeser dominasi kelompok “Mahkota India” dari Singapura.

​Ketenaran yang meroket membawa mereka hingga ke panggung elite Gedung Societiet. Pembagian hasil pementasan yang adil ditambah uang saweran membuat profesi sebagai aktor teater Dulmuluk saat itu mendadak mampu mengangkat kesejahteraan ekonomi keluarga para pemainnya.

​Mengemas Sejarah Lokal Lewat E-Comic untuk Gen Z

​Rekam sejarah yang begitu kaya ini dinilai sangat potensial jika dikemas menjadi bahan ajar modern.

​“Inilah alasan mengapa Dulmuluk begitu pesat berkembang pada masa kolonial. Sayangnya, rekam sejarah berharga ini belum banyak diketahui para guru. Lewat pengabdian ini, kami ingin mendorong guru-guru sejarah agar bisa mengemas materi ini menjadi bahan ajar berbasis E-Comic yang menarik bagi siswa,” tegas Prof. Farida.

​Inisiatif dari tim akademisi FKIP Unsri ini disambut hangat oleh Kepala SMAN 1 Tanjung Batu, Yarman, S.Pd.

​“Guru-guru kami sangat membutuhkan inovasi bahan ajar sejarah lokal seperti ini. Apalagi, materi sejarah Dulmuluk dikonversi menjadi e-comic interaktif yang visualnya sangat cocok dengan selera murid Generasi Z. Kami amat berharap Unsri terus hadir memberikan pelatihan dan pendampingan kreatif untuk para guru,” pungkas Yarman.