Lengkung Pelangi di Ujung Senja

0
7

Reportase oleh M. Yasin

Jejak Langkah Menuju Ujung Timur

LogikaIndonesia.Com – Hawa Fajar belum sepenuhnya membuka kelopak matanya ketika kami meninggalkan Kota Palembang. Jarum jam baru menunjuk pukul 05.30 WIB. Langit masih menyimpan sisa-sisa gelap malam, sementara sayap pesawat perlahan membelah cakrawala, membawa kami menuju ujung timur Pulau Jawa.Dari ketinggian, bumi tampak seperti kanvas raksasa yang digores tangan Sang Pencipta. Sungai-sungai berkelok bagai untaian sutra perak, awan putih berarak tenang mengiringi perjalanan. Tak lama kemudian, roda pesawat menyentuh landasan Bandara Soekarno–Hatta, sebuah persinggahan singkat sebelum langkah kembali diarahkan menuju Banyuwangi.Seperti musafir yang mengejar takdir, kami kembali mengudara menuju Bandara Blimbingsari di Cluring. Angin pagi seolah ikut membantu membawa harapan dan tujuan yang kami emban.

Silaturahmi yang Menghangatkan Banyuwangi

Menjelang pukul 10.00 WIB, kami tiba di Hotel Aston Banyuwangi. Tanpa jeda panjang, kami langsung menghadiri resepsi pernikahan putra Dr. Drs. Teguh Sumarno, MM. Suasana penuh kebahagiaan menyelimuti ruangan: senyum para tamu, doa-doa yang mengalir, dan kebersamaan yang menghadirkan kehangatan yang sulit dilukiskan.Hari itu bukan sekadar perayaan pernikahan. Ia adalah perayaan silaturahmi, perayaan persaudaraan.Malam turun perlahan membawa kesejukan. Setelah rangkaian kegiatan yang padat, tubuh meminta istirahat. Namun rupanya Allah telah menyiapkan kisah lain untuk malam itu.

Perjalanan Malam Menuju Sebuah Amanah

Di tengah kantuk yang mulai merayap, sebuah panggilan telepon datang. Kami diminta segera merapat ke kediaman Dr. Drs. Teguh Sumarno. Awalnya kami membayangkan jaraknya tak jauh dari hotel. Dugaan itu keliru. Kediaman beliau berada lebih dari enam puluh kilometer dari pusat Kota Banyuwangi.Malam kami tempuh dengan penuh kesabaran. Kendaraan melaju membelah jalan-jalan lengang, melewati hamparan gelap yang sesekali diterangi lampu jalan. Waktu terasa berjalan lebih lambat, sementara kantuk harus dikalahkan oleh tekad dan tanggung jawab.Setelah lebih dari satu jam perjalanan, kami tiba. Segala lelah luruh seketika ketika sambutan hangat menyapa. Bahkan di tengah malam yang larut, hidangan kembali tersaji—sebuah penghormatan yang tulus.Malam itu terasa istimewa.

Amanah di Bawah Langit Banyuwangi

Di bawah langit Banyuwangi yang hening, Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Disaksikan unsur pengurus PGRI, Dr. Drs. Teguh Sumarno menyerahkan Surat Keputusan dan Penetapan Pengurus PGRI Provinsi Sumatera Selatan yang akan dilantik pada 27 Juni 2026.Momen itu bukan sekadar penyerahan dokumen organisasi. Ia adalah penanda amanah, simbol kepercayaan, dan awal perjalanan pengabdian yang baru. Di antara keheningan malam, terselip harapan besar agar organisasi ini terus menjadi rumah perjuangan para guru—tempat tumbuhnya gagasan, pengabdian, dan cita-cita untuk memajukan pendidikan bangsa.

Banyuwangi Mutiara di Ujung Timur

Ketika malam semakin larut dan jarum jam mendekati dini hari, kami menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang berpindah kota. Ia adalah perjalanan hati, perjalanan silaturahmi, dan perjalanan takdir yang mempertemukan banyak orang dalam satu tujuan mulia.Kami pulang membawa lebih dari sekadar kenangan. Kami membawa cerita tentang persahabatan, amanah, dan keberkahan yang Allah titipkan di tanah Banyuwangi mutiara di ujung timur Pulau Jawa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini