Menjaga Jiwo Wong Kito Ketika Akademisi dan Seniman Palembang Melawan Arus Zaman

0
3


LogikaIndonesia.Com – ​Sabtu siang yang hangat di Gedung Kesenian Palembang (11/7/2026) tidak dilewati dengan obrolan kosong. Di dalam ruangan itu, berkumpul Seniman, Budayawan, sejarahwan dan akademisi dengan satu keresahan yang sama: bagaimana nasib seni dan budaya Palembang di masa depan?
​Melalui Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) bertajuk “Pemertahanan Seni dan Budaya Kota Palembang”, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Sumatera Selatan bersama Dewan Kesenian Palembang (DKP) mencoba merajut kembali helai-helai tradisi yang mulai rapuh digerus zaman. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah ikhtiar penyelamatan.

​Sunyinya Panggung Tradisi dan Tantangan Globalisasi

​Ketua DKP, M. Nasir, tidak menampik adanya kecemasan nyata. Penggunaan kata “pemertahanan” dalam tema diskusi sengaja dipilih karena mencerminkan kondisi benteng budaya Palembang saat ini yang sedang dikepung arus globalisasi.
​”Seniman tradisi jumlahnya semakin sedikit, minat generasi muda juga mulai berkurang. Di sisi lain, arus budaya dari luar semakin kuat di era globalisasi. Ini menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama,” ujar M. Nasir dengan nada optimistis namun penuh waspada.

​Bagi Nasir, mempertahankan eksistensi seni tradisional membutuhkan pasokan energi yang berkelanjutan mulai dari regulasi, pembinaan, hingga pendanaan yang konkret dari pemerintah. Namun, ia percaya perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, seperti duduk bersama dalam satu meja diskusi untuk merumuskan solusi.

​Dari Kuliner Adat hingga Wayang Palembang yang Terlupakan

​Kekhawatiran senada diungkapkan oleh Ketua HISKI Komisariat Sumsel, Ernalida, S.Pd., M.Hum., Ph.D. Di mata akademisi ini, tanda-tanda lturnya budaya Palembang sudah kasat mata. Anak-anak modern kini mulai asing dengan bahasa ibu mereka sendiri. Bahkan, makna-makna filosofis di balik kuliner khas Palembang pun perlahan menguap dari ingatan kolektif masyarakat.

​”Dulu saya pernah meneliti makna makanan khas Palembang. Ada kemplang besar yang digunakan dalam acara adat. Hal-hal seperti ini perlu kita angkat kembali agar masyarakat, khususnya generasi muda, mengetahui nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” kisah Ernalida mengenang hasil risetnya.

​Bukan hanya kuliner, nasib Wayang Palembang juga menjadi sorotan. Meski memiliki akar sejarah yang bertaut dengan wayang di tanah Jawa, Wayang Palembang telah berevolusi menjadi entitas yang unik dengan karakter dan ciri khas lokal yang kuat. Bagi HISKI, menjaga sastra daerah dan kesenian seperti ini adalah paket lengkap yang tidak bisa dipisahkan.
​Untuk memperkuat komitmen tersebut, acara ini juga ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara HISKI Sumsel dan Koalisi Masyarakat Puisi Sumsel. Targetnya tidak main-main: membawa puisi berbahasa Palembang, seni tari, hingga destinasi wisata budaya ke panggung internasional.

​Menolak Tenggelam di Bawah Bayang-Bayang Sriwijaya
​Diskusi semakin tajam ketika budayawan dan Ketua Komunitas Batang Hari (KOBAR) 9, Vebri Al Lintani, melontarkan otokritik yang menggelitik. Menurut Vebri, identitas asli Palembang masa kini kerap kali “teranak-tirikan” dan tertutupi oleh nama besar Sriwijaya yang diadopsi secara masif oleh berbagai institusi.
​”Nama Sriwijaya memang memiliki nilai sejarah yang besar, tetapi jangan sampai kebudayaan Palembang Darussalam justru tenggelam,” tegas Vebri.

​Ia mengingatkan bahwa sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam, kota ini adalah pusat peradaban Islam yang kaya akan karya sastra dan pemikiran para ulama. Corak Islam inilah yang membentuk estetika khas Palembang mulai dari motif geometris pada kerajinan hingga tradisi lisan seperti syair meninabobokan anak yang kini nyaris punah.

​Vebri mengingatkan bahwa undang-undang telah mengamanatkan pemerintah untuk melindungi dan membina kebudayaan daerah. Oleh karena itu, penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) harus benar-benar menempatkan kebudayaan asli Palembang sebagai prioritas utama, bukan sekadar pelengkap.

​Romantisme Era 90-an dan Modal Semangat

​Di tengah keterbatasan dana yang kerap menjadi batu sandungan klasik bagi pergerakan seni, budayawan senior Anwar Putra Bayu membagikan sebuah refleksi berharga. Ia mengenang bagaimana ekosistem seni Palembang di era 1990-an mampu mendobrak keterbatasan.
​”Pada era 1990-an, banyak kegiatan seni dan budaya yang dapat dilaksanakan meskipun dengan dana yang terbatas. Yang terpenting adalah semangat untuk berkarya dan membangun jejaring,” kenang Anwar.

​Anwar yang mengapresiasi karena karya-karya sastranya kini banyak dikaji secara akademis di perguruan tinggi, menekankan bahwa sinergi lintas sektor pemerintah, akademisi, swasta, dan komunitas adalah kunci utama. Baginya, potensi budaya Palembang sangat masif, tinggal bagaimana seluruh elemen berkolaborasi untuk mempromosikannya hingga ke tingkat dunia.

​FGD hari itu diakhiri dengan sebuah kesadaran kolektif. Warisan budaya Palembang bukanlah benda mati di dalam museum yang hanya untuk ditonton. Ia adalah entitas hidup yang harus terus ditulis, diteliti, dipentaskan, dan disuarakan.
Tugas memelihara ingatan budaya ini tidak bisa hanya dibebankan di pundak para seniman tua, melainkan tugas estafet yang harus diteruskan kepada generasi Wong Kito masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini