Oleh: Drs. H. Riza Fahlevi, M.M.
LogikaIndonesia.Com – Kemenangan di ruang sidang telah diraih. Putusan hukum telah memberikan kepastian. Namun bagi organisasi profesi sebesar PGRI, kemenangan sejati tidak pernah ditentukan oleh palu hakim, tetapi oleh kemampuan organisasi mengembalikan seluruh guru ke dalam satu rumah besar yang sama.Dan hari ini, PGRI Sumatera Selatan berada tepat di titik krusial itu.
Konflik Sudah Cukup. Saatnya Menutup Babak Lama
Beberapa tahun terakhir, energi organisasi terkuras oleh dinamika internal yang tidak produktif. Perbedaan pandangan berubah menjadi ketegangan, dan ketegangan berubah menjadi kebingungan di akar rumput.Kini, setelah putusan hukum memberikan kejelasan, tidak ada alasan untuk memperpanjang babak lama.
Kemenangan hukum bukanlah garis akhir itulah garis start untuk membangun kembali organisasi yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih dewasa.
Konsolidasi Total: Mengakhiri Kebingungan Guru
Langkah pertama yang harus dilakukan tanpa ragu adalah konsolidasi total organisasi.
Dari provinsi hingga ranting, seluruh struktur harus kembali berada dalam satu komando, satu arah, satu tujuan.Konflik yang berkepanjangan telah membuat banyak guru bertanya:Siapa yang sebenarnya memimpin?Ke mana arah organisasi?Bagaimana masa depan perjuangan profesi mereka?Pertanyaan-pertanyaan itu tidak boleh dibiarkan menggantung. Konsolidasi bukan sekadar merapikan administrasi ini adalah proses memulihkan kepercayaan.
Rekonsiliasi: Ukuran Kepemimpinan yang Sesungguhnya
Setiap konflik meninggalkan jejak. Ada luka, ada jarak, ada hubungan yang retak. Karena itu, kemenangan hukum tidak boleh diikuti dengan euforia yang menyingkirkan pihak lain. Organisasi besar tidak dibangun oleh dendam. Organisasi besar dibangun oleh pemimpin yang mampu memaafkan, merangkul, dan mengajak kembali duduk bersama.Pasca kemenangan hukum, PGRI Sumatera Selatan harus tampil sebagai Pemersatu, bukan penguasa baru Pengayom, bukan pemenang yang merayakan kekalahan orang lain. Rumah bersama, bukan arena perebutan pengaruh Guru-guru Sumatera Selatan menunggu teladan itu.
Mengembalikan Fokus pada Perjuangan Nyata Guru
Konflik internal telah menyita terlalu banyak energi. Kini saatnya energi itu dikembalikan kepada hal-hal yang benar-benar penting Perlindungan hukum guru Kesejahteraan dan peningkatan pendapatan Kompetensi, sertifikasi, dan karier Profesionalisme dan martabat guru PGRI tidak boleh dikenal sebagai organisasi yang sibuk mengurus organisasi. PGRI harus dikenal sebagai organisasi yang sibuk memperjuangkan guru.
Tata Kelola Baru: Transparan, Demokratis, Akuntabel
Kemenangan hukum harus menjadi alarm keras bahwa tata kelola organisasi harus berubah. Guru hari ini tidak lagi puas dengan simbol, sejarah, atau jargon perjuangan.Mereka menuntut Transparansi dalam pengambilan keputusan Profesionalisme dalam pengelolaan organisasi Demokrasi internal yang sehat Akuntabilitas yang nyata Kepercayaan anggota tidak bisa dibeli oleh retorika.
Kepercayaan hanya lahir dari cara organisasi dijalankan.
Mengembalikan Marwah PGRI di Mata Publik
Sebagai organisasi profesi guru terbesar di Indonesia, PGRI memegang peran strategis dalam arah pembangunan pendidikan. Publik menunggu kontribusi nyata, bukan konflik internal yang tak berkesudahan.
PGRI Sumatera Selatan harus kembali hadir sebagai Mitra kritis pemerintah Penjaga mutu pendidikan Penggerak karakter peserta didik Penopang kualitas sumber daya manusia Inilah saatnya PGRI kembali menjadi rumah besar yang teduh, kokoh, dan berwibawa bagi seluruh guru Indonesia.Karena ketika guru bersatu, pendidikan akan maju. Dan ketika pendidikan maju, masa depan bangsa akan semakin kuat.
(Penulis adalah Analis Utama Bidang Pendidikan dan Ketua PGRI Provinsi Sumatera Selatan)






