Oleh: Dr Iqbal J Permana
logikaIndonesia.Com – Saya coba mengelaborasi sumber primer catatan arsip Belanda yang tersedia di internet yg dapat diakses semua netizen, tentang Residen Belanda yang menguasai Palembang setelah Sultan Mahmud Badaruddin 2 dikalahkan Belanda. Artinya sejak tahun 1832 sampai Indonesia merdeka pengaruh Kesultanan secara administratif sudah tidak ada, meskipun perlawanan oleh keturunan Sultan terhadap Residen Belanda, banyak justru tercatat di arsip Belanda, beberapa Demang yg melawan kebijakan Belanda di Uluan justru diasingkan dan diturunkan martabatnya dari Bangsawan. Karena membela kepentingan Kesultanan.
Menurut catatan mereka mereka mewariskan pembangunan ini ke Palembang.
Memang sejarah itu dibuat oleh Pemenang tapi kita juga harus melihat dari sudut yang berbeda, menurut catatan primer para meneer ini. sebagai bahan belajar kebudayaan, bagaimana di akhir periode keresidenan merubah kebijakannya menjadi politik etis, yg memberi kesempatan kepada Boemi Poetera untuk mengenyam pendidikan barat agar mereka dapat mempekerjakan mereka kembali di kantoor pemerintahan milik Belanda. Jadi tidak bisa dinafikan bahwa mereka menjajah.
Sumber Primer Arsip Belanda per Periode
Periode 1821–1830:
Konsolidasi Kekuasaan dan Penghapusan Kesultanan
Sumber primer untuk periode awal kekuasaan Belanda di Palembang dapat ditelusuri melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Archief Palembang, khususnya pada seri Besluiten van de Resident (Keputusan-Keputusan Residen) tahun 1821–1830. Dokumen ini memuat keputusan resmi residen dalam membagi wilayah bekas kesultanan menjadi distrik-distrik administratif serta perintah penumpasan perlawanan bangsawan. Selain itu, Nationaal Archief (NA) di Den Haag menyimpan Collectie Van Sevenhoven (2.21.008) yang berisi surat-menyurat pribadi dan laporan Jan Lodewijk van Sevenhoven, tokoh kunci yang berperan dalam penghapusan Kesultanan Palembang. Arsip Ministerie van Koloniën (2.10.01) nomor inventaris 2821–2840 juga memuat laporan-laporan awal pemerintahan langsung di Keresidenan Palembang, termasuk pembangunan benteng, tangsi militer, dan gedung keresidenan kayu pertama.
Periode 1830–1870:
Eksploitasi Ekonomi dan Tanam Paksa
Pada periode tanam paksa, sumber primer utama adalah Cultuurverslagen Palembang (Laporan Budidaya Tanaman Palembang) yang tersimpan dalam arsip Ministerie van Koloniën (2.10.01), nomor inventaris 3080–3150. Laporan-laporan ini berisi data rinci tentang kewajiban tanam paksa lada, kopi, dan nila, luas lahan yang ditanami, serta hasil panen. ANRI, Archief Palembang, melalui seri Algemeene Verslagen der Residentie Palembang (Laporan Umum Keresidenan Palembang) tahun 1830–1870, memberikan gambaran menyeluruh tentang administrasi, perdagangan, dan kondisi sosial ekonomi. Selain itu, koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) menyimpan Nota over de pepercultuur in Palembang (Nota tentang Budidaya Lada di Palembang) tahun 1855 yang secara spesifik membahas monopoli perdagangan lada dan pembangunan gudang-gudang penyimpanan hasil bumi di tepi Sungai Musi.
Periode 1870–1900:
Liberalisasi Ekonomi dan Perluasan Pengaruh
Sumber primer periode liberalisasi ekonomi meliputi Openbaar Verbaal (Dokumen Terbuka) dalam arsip Ministerie van Koloniën (2.10.01), nomor inventaris 6200–6250, yang berisi keputusan-keputusan terkait penerapan Agrarische Wet di Keresidenan Palembang, termasuk pemberian izin sewa tanah kepada pengusaha swasta Eropa untuk pembukaan perkebunan karet. ANRI, Archief Palembang, melalui seri Gouvernementsbesluiten (Keputusan Gubernemen) tahun 1870–1900, mendokumentasikan kebijakan penertiban administrasi pertanahan dan pemungutan pajak tanah (landrente). Koloniaal Verslag (Laporan Kolonial) yang diterbitkan tahunan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk parlemen Belanda juga memuat bab khusus tentang Palembang, termasuk laporan pembangunan jalan aspal Palembang–Baturaja, jembatan kayu di anak sungai, feri uap penyeberangan Sungai Musi, dan perluasan dermaga permanen Boom Baru.
Periode 1900–1930:
Politik Etis dan Pembangunan Infrastruktur Modern
Periode Politik Etis memiliki sumber primer yang sangat kaya. Arsip Ministerie van Koloniën (2.10.36.04) seri Stukken betreffende de Residentie Palembang (Dokumen-Dokumen tentang Keresidenan Palembang) tahun 1900–1930 memuat laporan pembangunan infrastruktur besar-besaran, termasuk pembangunan Jembatan Koetaraja, gedung Kantoor Leiding di kawasan 16 Ilir, perluasan jalan aspal pusat kota, dan pembangunan saluran irigasi. Memorie van Overgave (MvO) atau Laporan Serah Terima Jabatan Residen L.C. Westenenk tahun 1923, yang tersimpan di ANRI, Archief Palembang, adalah sumber primer paling penting untuk periode ini karena berisi gambaran rinci tentang kondisi wilayah, kebijakan pendidikan (pendirian HIS dan MULO), tata ruang kota Ilir dan Ulu, serta evaluasi pembangunan infrastruktur selama masa jabatannya. Untuk pembangunan jalur kereta api Palembang–Lahat, Het Utrechts Archief menyimpan Collectie Staatsspoorwegen (Koleksi Perusahaan Kereta Api Negara) nomor inventaris 1442–1455, yang mencakup dokumen perencanaan, pembebasan lahan, dan pembangunan rel kereta api di Sumatera Selatan, termasuk pengoperasian kapal roda lambung (paddle steamer) untuk transportasi sungai.
Periode 1930–1942:
Industri Minyak dan Menjelang Pendudukan Jepang
Sumber primer periode terakhir kekuasaan Belanda berpusat pada industri minyak. Arsip Ministerie van Koloniën (2.10.36.04) seri Stukken betreffende de petroleumindustrie in Palembang (Dokumen-Dokumen tentang Industri Minyak di Palembang) tahun 1930–1942 memuat laporan eksploitasi minyak di Plaju dan Sungai Gerong, pembangunan kilang minyak, jalur pipa, dan pelabuhan minyak khusus. Memorie van Overgave (MvO) Residen Palembang tahun 1938, yang tersimpan di ANRI, Archief Palembang, memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi akhir masa pemerintahan kolonial, termasuk pengelolaan tenaga kerja migran dari Jawa dan Tiongkok serta persiapan pertahanan wilayah. Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) Archief menyimpan Rapport over de raffinaderijen Pladjoe & Soengai Gerong (Laporan tentang Kilang Minyak Plaju & Sungai Gerong) tahun 1938–1941, yang berisi detail teknis pembangunan kilang minyak terbesar di Hindia Belanda saat itu. Terakhir, Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH) menyimpan Verdedigingswerken Zuid-Sumatra (Pekerjaan Pertahanan Sumatera Selatan) tahun 1941–1942, yang mendokumentasikan pembangunan bunker pertahanan dan lapangan terbang Talang Betutu menjelang invasi Jepang.







