Oleh M. Yasin
LogikaIndonesia.Com – Organisasi ibarat sebuah kapal. Ia dibangun dari kayu-kayu kepercayaan, dipaku dengan pengorbanan, dan dilayarkan oleh cita-cita yang sama. Ombak boleh meninggi, angin boleh berubah arah, tetapi kapal itu tetap tegak selama awaknya setia memegang kemudi dan saling menjaga.
Namun, di setiap pelayaran, selalu ada penumpang yang tidak benar-benar mencintai kapal. Ia hanya mencintai tujuan yang menguntungkan dirinya.
Dialah oportunis.
Ia pandai membaca arah angin, tetapi enggan menahan badai. Ia mahir mengangkat layar ketika laut tenang, namun bersembunyi ketika gelombang mengamuk. Bibirnya penuh pujian saat kekuasaan berada di hadapannya, tetapi lidah yang sama dapat berubah menjadi pisau ketika kekuasaan mulai goyah.
Kesetiaannya bukan pada nilai, melainkan pada peluang. Prinsipnya bukan kebenaran, melainkan keuntungan. Baginya, organisasi hanyalah panggung tempat nama dipahat, jabatan diraih, dan kepentingan dipenuhi. Setelah itu, ia pergi tanpa menoleh pada luka yang ditinggalkannya.
Orang-orang seperti ini sering kali tidak tampak sebagai musuh. Mereka datang dengan senyum yang ramah, kata-kata yang manis, dan janji-janji yang indah. Mereka berdiri di barisan paling depan ketika sorot lampu menyala, tetapi menghilang ketika organisasi membutuhkan pengorbanan.
Mereka pandai bertepuk tangan untuk kemenangan, namun cepat mencari kambing hitam saat kegagalan datang.
Ironisnya, kerusakan terbesar dalam organisasi tidak selalu lahir dari serangan lawan di luar. Sering kali, ia tumbuh perlahan dari dalam, dari mereka yang menjual idealisme demi kenyamanan, menukar nurani dengan kekuasaan, dan menggadaikan kepercayaan demi kepentingan sesaat.
Padahal sejarah selalu mencatat bahwa organisasi besar tidak dibangun oleh mereka yang pandai mencari kesempatan, melainkan oleh mereka yang bersedia berkorban tanpa menghitung untung dan rugi. Mereka yang tetap menjaga kejujuran meski sendirian, tetap memegang amanah meski tak dipuji, dan tetap berdiri tegak meski diterpa badai.
Sebab jabatan hanyalah persinggahan. Kekuasaan hanyalah bayang-bayang yang akan memanjang lalu hilang ketika matahari tenggelam. Yang akan tetap hidup adalah jejak yang ditinggalkan dalam hati orang-orang yang pernah merasakan keadilan, ketulusan, dan pengabdian.
Maka berhati-hatilah terhadap mereka yang terlalu mudah berpindah haluan, terlalu cepat mengubah pendirian, dan terlalu rajin memuja siapa pun yang sedang berkuasa. Boleh jadi mereka bukan sedang membela organisasi, melainkan sedang menjaga kepentingannya sendiri.
Pada akhirnya, organisasi tidak pernah runtuh hanya karena badai dari luar. Ia lebih sering retak karena rayap yang bekerja diam-diam di dalam kayunya sendiri.
Dan rayap itu bernama oportunisme.
Kalimat penutupnya dapat menjadi pengingat:
”Mereka yang hidup untuk kepentingan diri akan dikenang sebagai penumpang. Namun mereka yang mengabdi demi cita-cita akan dikenang sebagai pelaut yang membawa kapal tetap berlayar.”










