Oleh: M. Yasin
LogikaIndonesia.Com – Beberapa hari terakhir, sebuah potret kelam sekaligus estetis berseliweran di berbagai platform media sosial. Video pertunjukan seni gerak karya seniman asal Jambi, Ichalago Chaniago, sukses menyita perhatian publik. Dalam karya tersebut, tampak seorang perempuan muda mengenakan pakaian adat menyerupai Tari Tanggai—tarian khas Sumatera Selatan berlaga anggun di tengah latar belakang hutan yang hangus terbakar.
Kontras yang dihadirkan begitu tajam. Di satu sisi ada keindahan busana adat dan keanggunan gerak tari yang merepresentasikan puncaknya peradaban dan estetika lokal; di sisi lain, tampak tunggul-tunggul kayu menghitam dan asap sisa kebakaran hutan yang meremukkan dada. Visualisasi ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan sebuah jeritan nurani dari tanah Sumatra yang terluka.
Melihat lanskap visual tersebut, timbul keprihatinan mendalam sekaligus dorongan untuk membongkar makna filosofis di baliknya. Pesan moral yang disampaikan Ichalago Chaniago sangat tegas: kebudayaan dan lingkungan bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama dan saling menopang secara eksistensial. Kebudayaan memberi panduan nilai tentang bagaimana manusia harus bersikap dan hidup, sementara alam menyediakan ruang fisik agar kehidupan dan kebudayaan itu dapat terus berlangsung.
Ketika ekosistem hutan dihancurkan dan dibakar demi kepentingan pragmatis, kehancuran yang terjadi jauh lebih masif dari apa yang terlihat oleh mata telanjang. Yang hangus dilalap api bukan sekadar pohon, flora, atau fauna. Yang ikut menjadi abu adalah ingatan kolektif para leluhur, marwah dan harkat kebudayaan lokal, serta hak fundamental generasi penerus untuk mewarisi bumi yang layak dihuni.
Bagaimana mungkin sebuah kebudayaan seperti tarian tradisional yang terinspirasi dari alam, kesucian, dan keramahan—dapat terus bertahan jika ruang hidupnya dihancurkan?
Realitas ini menyadarkan kita pada sebuah reduksi pemaknaan yang kerap terjadi belakangan ini. Selama ini, pelestarian budaya sering kali disempitkan hanya pada ritual formal: pementasan tarian di panggung megah, pemakaian baju adat saat seremoni, atau penyelenggaraan festival tahunan. Kita lupa bahwa nilai sejati dari kebudayaan itu berakar pada bumi tempat kita berpijak.
Menjaga kebudayaan tidak akan pernah cukup hanya dengan melestarikan tarian, pakaian adat, atau upacara tradisional semata. Pelestarian budaya yang hakiki harus berjalan seiring dengan upaya menjaga tanah, air, udara, hutan, dan seluruh ekosistem yang memungkinkan kebudayaan itu tumbuh dan bernapas.
Karya seni gerak ini menjadi teguran keras bagi kita semua pemerintah, masyarakat, maupun pelaku industri. Saat kebudayaan tak lagi hanya menyuguhkan keindahan melainkan berubah menjadi jeritan keprihatinan, itu tandanya alam sedang tidak baik-baik saja. Sudah saatnya kita merawat bumi dengan kesadaran kebudayaan, dan menjaga kebudayaan dengan menyelamatkan lingkungan.
(Catatan sumber video: inilahCom)







