Tabir Kesusastraan yang Terlupakan
LogikaIndonesia.Com – Awal abad ke-19. Di balik riuh perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dan Inggris, keraton Kesultanan Palembang Darussalam justru menjadi pusat denyut intelektual. Sejarawan UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Kemas Ari Panji, SPd, MSi, menyebut masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) sebagai era keemasan sastra sekaligus simbol perlawanan budaya.
Dalam sebuah diskusi sastra di Rumah Sintas Kamis (20/11), Dr. Panji menegaskan bahwa keraton bukan sekadar pusat politik, melainkan juga “pabrik” naskah. Penyalinan, pengajaran, dan penyusunan karya sastra berlangsung intensif. Bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi) menjadi medium utama, memperkuat akar keilmuan Islam sekaligus memperkokoh identitas lokal.
Warisan Naskah Dari Fikih hingga Syair Perlawanan
Kesusastraan era SMB II (1803–1821) didominasi oleh naskah keagamaan—fikih, tauhid, tasawuf—namun juga melahirkan karya naratif yang sarat intrik istana, moralitas, dan perlawanan kolonial.
Syair Perang Menteng (1819) Menggambarkan pertempuran sengit antara pasukan Belanda di bawah Herman Warner Muntinghe melawan laskar Palembang. Syair anonim ini penuh emosi, mengecam kolonialisme, dan menyanjung heroisme SMB II.
Syair Burung Nuri Karya SMB II sendiri, bercerita tentang cinta terlarang antara Nuri—istri pejabat kerajaan—dan burung tampan Simbangan. Alih aksara dilakukan Jumsari Jusuf pada 1978.
Hikayat Martalaya Menjadi jendela ke masa lalu, merekam sejarah, moralitas, dan nilai politik Kesultanan Palembang dengan sentuhan adab Islam.
Syair Sinyor Kosta: Salah satu karya lain yang memperlihatkan kreativitas SMB II dalam mengolah tema sosial-politik.
Menariknya, media penulisan kala itu beragam kertas Eropa, kertas daluang dari kulit kayu, hingga bilah bambu gelumpai. Tinta hitam-merah, ilustrasi minimalis, dan struktur syair empat baris menjadi ciri khas. Banyak naskah kuno ini kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia, koleksi Leiden, dan arsip lokal.
Sultan sebagai Sastrawan
SMB II bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga sastrawan ulung. Dalam pengasingannya di Ternate, ia menulis Pantun Sultan Badaruddin—refleksi spiritual, kerinduan kampung halaman, dan keteguhan menghadapi penderitaan kolonial.
Tradisi penulisan didukung juru tulis keraton yang terorganisir, menciptakan sistem produksi intelektual yang efisien. “Kesusastraan pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II memperlihatkan ledakan kreativitas, keilmuan, dan kesadaran politik masyarakat Palembang,” ujar Dr. Panji.
Ironi Lebih Dikenal di Malaysia
Budayawan Vebri Al Lintani menyoroti ironi besar karya-karya SMB II lebih banyak dikaji di luar negeri, terutama Malaysia. Di Melaka, misalnya, Syair Burung Nuri masuk dalam kurikulum sekolah menengah. Sementara di Palembang, perhatian akademisi masih minim.
Vebri menilai syair tersebut sarat nuansa kesedihan, mencerminkan pengalaman pribadi SMB II yang diasingkan Belanda jauh dari tanah kelahirannya. Dalam surat-suratnya, SMB II bahkan pernah memohon dipindahkan ke Batavia atau Jawa agar lebih dekat dengan Palembang, namun ditolak. Ia akhirnya wafat di Ternate.
“Padahal, kita di Palembang memiliki banyak hal yang dinamai dengan nama Sultan Mahmud Badaruddin II—mulai dari bandara hingga museum. Namun ironisnya, pojok sastra di museum itu pun sangat minim,” ujar Vebri.
Harapan untuk Generasi Muda
Baik Dr. Kemas Ari Panji maupun Vebri Al Lintani sepakat warisan sastra SMB II bukan sekadar kebanggaan sejarah, tetapi bukti kecerdasan budaya Palembang. Mereka berharap pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat memberi perhatian lebih besar agar karya-karya ini dikenalkan kepada generasi muda.
Diskusi sastra seperti yang digelar Dinas Kebudayaan Kota Palembang dianggap penting untuk membuka ruang apresiasi. “Karya SMB II harus dikenali dan dipelajari masyarakat, terutama anak-anak muda di Palembang dan Sumsel,” tegas keduanya.
Kesusastraan era Sultan Mahmud Badaruddin II adalah cermin zaman: perlawanan terhadap kolonialisme, refleksi cinta, moralitas, dan intrik politik. Ia bukan hanya bagian dari sejarah Palembang, tetapi juga warisan budaya Nusantara yang layak mendapat panggung lebih besar.







