Revitalisasi Makam Ario Damar Antara Warisan Sejarah dan Pekerjaan Asal Jadi

0
5

LogikaIndonesia.Com – Di tengah hiruk pikuk pembangunan kota Palembang, sebuah situs bersejarah kembali menjadi sorotan. Makam Adipati Palembang, Ario Damar atau dikenal juga sebagai Ario Dillah, putra Raja Majapahit Brawijaya V yang terletak di kawasan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang, baru saja menjalani proses revitalisasi. Namun, bukannya menuai pujian, hasil pekerjaan ini justru memantik protes keras dari sejarawan, budayawan, dan Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang.

Harapan yang Berbalik Kekecewaan

Sabtu sore, 17 Januari 2026, Tim 11 turun langsung meninjau lokasi. Ketua Tim, Hidayatul Fikri atau akrab disapa Mang Dayat, bersama Wakil Ketua Vebri Al Lintani, serta anggota Dr. Kemas Ari Panji, Raden Genta Laksana, dan Ali Goik, mendapati kondisi yang jauh dari harapan. Padahal, tim ini sebelumnya turut menyusun Detail Engineering Design (DED) dengan melibatkan seniman, budayawan, dan sejarawan.

“Kami kurang puas dengan hasil pembangunan ini. Banyak yang tidak sesuai dengan DED,” ujar Mang Dayat. Ia mencontohkan adanya genangan air di area makam, kesalahan penulisan aksara Arab-Melayu, hingga kualitas kayu pendopo yang rendah dan bocor. Empat tiang penyanggah pun hanya ditempel seadanya, tanpa plafon, lisplank tak dicat, dan lampu surya yang redup.

Kritik atas Kualitas dan Kerapian

Kekecewaan semakin dalam ketika melihat ornamen yang sekadar ditempel, batu hias berkualitas rendah, serta kesan terburu-buru yang membuat hasil revitalisasi tampak kotor. “Belum diserahterimakan ke Pemkot, tapi sudah rusak. Ironisnya, bangunan pendopo diperbaiki, makamnya sendiri justru tidak disentuh,” tambah Mang Dayat.

Vebri Al Lintani, Wakil Ketua Tim sekaligus Ketua Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB), menilai pekerjaan ini tidak profesional. “Masih ada paku menempel di dinding. Ini asal-asalan. Kami menduga ada permainan anggaran, sehingga perlu diaudit,” tegasnya. Ia bahkan berencana melaporkan kasus ini ke Kejaksaan Tinggi Sumsel.

Warisan yang Terlupakan

Dr. Kemas Ari Panji menyoroti aspek historis yang tercederai. Menurutnya, tulisan nama Ario Damar dalam aksara Arab-Melayu dan Latin tidak sesuai, bahkan sebagian sudah lepas dan hancur. Saluran air yang tidak berfungsi juga menambah masalah, menyebabkan genangan setiap kali hujan turun.

Bagi para budayawan, revitalisasi makam bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah upaya menjaga warisan sejarah yang menjadi identitas Palembang. Ketika pekerjaan dilakukan asal jadi, bukan hanya bangunan yang rusak, tetapi juga memori kolektif masyarakat yang terancam hilang.

Jalan Panjang Penyelamatan

Tim 11 menegaskan akan terus berkomunikasi dengan pihak terkait, termasuk Walikota Palembang, agar masalah ini diusut tuntas. Mereka berharap revitalisasi makam Ario Damar tidak berhenti sebagai proyek formalitas, melainkan benar-benar menjadi upaya pelestarian sejarah.

Makam Ario Damar bukan sekadar situs tua. Ia adalah simbol perjalanan panjang Palembang, dari Majapahit hingga menjadi pusat kebudayaan di Sumatera Selatan. Revitalisasi yang gagal bukan hanya soal teknis, tetapi juga cermin bagaimana kita memperlakukan warisan leluhur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini