Musik sebagai Penanda Identitas
LogikaIndonesia.Com – Hari pengukuhan lagu Ratu Sinuhun Ciptaan Ali Goik menjadi tonggak penting dalam mempertegas identitas budaya Palembang. Lagu ini dipahami bukan sekadar karya musikal, tetapi sebagai ruang memori budaya yang menyatukan sejarah, nilai moral, dan citra kepemimpinan perempuan Sumatera Selatan. Dr. (K) Silo Siswanto, S.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa pengukuhan ini adalah langkah strategis untuk menghidupkan kembali figur perempuan yang berperan besar dalam lahirnya nilai hukum dan moral masyarakat Palembang, sebagaimana tercermin dalam ajaran Simbur Cahaya.
Figur Ratu Sinuhun dalam Sejarah
Menurut Dr. (K) Silo Siswanto, sosok Ratu Sinuhun adalah representasi nyata kepemimpinan perempuan yang menanamkan nilai keadilan, moralitas, dan kebijaksanaan. Lagu ini menjadi medium untuk menghadirkan kembali jejak sejarah tersebut dalam bentuk musikal, sehingga generasi kini dapat merasakan kehadiran nilai-nilai yang pernah membentuk Palembang berabad-abad lalu.
Analisis Akademik Musik sebagai Bahasa Simbolik
Berangkat dari pemikiran Susanne Langer, Dr. (K) Silo Siswanto menjelaskan bahwa musik dalam lagu Ratu Sinuhun menunjukkan kemampuan membentuk pola perasaan kolektif.
– Melodi yang naik melambangkan keagungan.
– Phrasing yang tenang menandakan kebijaksanaan.
– Ritme yang stabil menghadirkan kesan kewibawaan pemimpin perempuan.
Dengan demikian, musik bekerja bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai bahasa simbolik yang memperkuat citra Ratu Sinuhun secara emosional dan kultural.
Memori Kolektif dan Tubuh Sosial
Dalam perspektif Mark Johnson dan Thomas Turino, Dr. (K) Silo Siswanto menekankan bahwa musik memiliki kapasitas untuk menubuh hidup dalam tubuh, ingatan, dan pengalaman sosial masyarakat. Lagu Ratu Sinuhun karya Ali Goik menjadi bagian dari memori kolektif karena memuat nilai relevan bagi identitas Palembang: moralitas, keadilan, keteladanan, dan kebanggaan historis. Ia tidak hanya didengar, tetapi dihayati, diulang, dinyanyikan, dan diwariskan, sehingga menjadi bagian dari diri masyarakat Palembang itu sendiri.
Musik sebagai Tindakan Sosial
Mengutip gagasan Christopher Small, Dr. (K) Silo Siswanto menegaskan bahwa lagu Ratu Sinuhun karya Ali Goik ini adalah tindakan sosial yang menghubungkan masyarakat dengan sejarah dan nilai budaya yang mereka anut. Dengan daya musikal dan sosial yang menyatu, lagu ini berfungsi sebagai:
– Medium edukasi sejarah dan mengenalkan generasi muda pada akar budaya.
– Penguat identitas lokal dan mempertegas kebanggaan Palembang.
– Simbol penghormatan dan terhadap tradisi kepemimpinan perempuan.
Musik, Perempuan, dan Masa Depan
Dr. (K) Silo Siswanto menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa pengukuhan lagu Ratu Sinuhun adalah jembatan yang menghidupkan nilai-nilai Palembang sekaligus membuka ruang baru bagi pemberdayaan perempuan. Lagu ini bukan hanya nostalgia, tetapi juga visi masa depan: bagaimana budaya dapat menjadi sumber inspirasi untuk memperkuat peran perempuan dalam masyarakat modern.
Melalui analisis Dr. (K) Silo Siswanto, lagu Ratu Sinuhun karya Ali Goik ini ditempatkan sebagai simbol yang melampaui batas musikal. Ia adalah ruang memori, nilai, dan identitas Palembang. Dengan pengukuhan ini, Palembang tidak hanya merayakan sejarah, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus menjaga dan menghidupkan warisan budaya yang berharga.







