Bukti Sejarah yang Tak Bisa Terbantahkan
LogikaIndonesia.Com – Di tengah riuhnya perdebatan akademik yang kembali mengemuka, para sejarawan Sumatera Selatan berdiri tegak membela kebenaran yang telah berabad-abad dijaga: Sriwijaya lahir di Palembang.
Bukan di Jambi, bukan pula di tempat lain. Dari tepi Sungai Musi yang berliku, sebuah peradaban besar Nusantara pernah menorehkan kejayaan yang menggema hingga Tiongkok dan India.
Pernyataan tegas itu muncul setelah seminar nasional “Kedigdayaan Melayu Jambi” yang digelar di Jambi pada awal November 2025. Dalam forum ilmiah itu, Prof. Dr. Agus Aris Munandar dari Universitas Indonesia melontarkan pendapat mengejutkan bahwa pusat Kedatuan Sriwijaya bukan di Palembang, melainkan di Jambi.
Argumen itu kontan mengguncang dunia arkeologi dan sejarah Indonesia, menghidupkan kembali polemik lama antara dua daerah yang sama-sama merasa sebagai pewaris marwah Sriwijaya.
Namun, bagi para sejarawan Sumatera Selatan, klaim tersebut tak ubahnya riak kecil di permukaan Sungai Musi yang deras.
Bagi mereka, dasar sejarah terlalu kuat untuk digoyahkan.
Prasasti yang Bicara: Bukti Paling Sahih dari Masa Lalu
“Dalam ilmu sejarah, sumber tertulis adalah yang paling valid,” tegas Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, sejarawan dari Universitas Sriwijaya (Unsri), ketika ditemui usai forum diskusi di Palembang, Kamis (13/11/2025).
Baginya, tiga prasasti utama menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Palembang adalah pusat Kedatuan Sriwijaya: Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Talang Tuwo, dan Prasasti Telaga Batu.
Prasasti Kedukan Bukit, bertarikh 682 Masehi, mencatat perjalanan suci Dapunta Hyang Sri Jayanasa dalam mendirikan Sriwijaya. “Ini adalah momen kelahiran kedatuan, dan lokasinya jelas di Palembang,” ujarnya.
Dua tahun kemudian, Prasasti Talang Tuwo (684 M) mengabadikan pemberian taman kepada rakyat simbol kemakmuran dan welas asih seorang penguasa yang makmur dan berjiwa besar.
Sementara Prasasti Telaga Batu menampilkan daftar pejabat Sriwijaya, dari bangsawan tertinggi hingga aparat rendah, menegaskan adanya struktur pemerintahan yang mapan di tempat prasasti itu ditemukan wilayah Telaga Batu, Palembang.
“Ketiganya terhubung erat, baik isi maupun jarak waktunya. Semuanya mengarah ke wilayah yang sama Palembang,” tutur Prof. Farida mantap.
Palembang Negeri Air yang Menghidupkan Peradaban
Bagi Prof. Farida, posisi geografis Palembang menjadi kunci penting. “Palembang dari dulu adalah negeri air. Sungai-sungai menjadi nadi kehidupan dan jalur perdagangan,” katanya.
Toponimi seperti talang yang berarti tanah tinggi masih bertebaran di Palembang dan sekitarnya, menandai pemukiman-pemukiman kuno di masa Sriwijaya.
Lebih jauh, ia menyinggung temuan Prasasti Baturaja yang menyebut pemberontakan di daerah Minangga Tamwan, yang diyakini berada di wilayah Ogan Komering Ulu (OKU).
“Dari sanalah aktivitas awal Sriwijaya berlangsung sebelum berpindah ke Palembang, karena lokasi Palembang jauh lebih strategis untuk pusat pemerintahan dan perdagangan,” jelasnya.
Tentang anggapan bahwa Palembang tidak memiliki candi besar, Prof. Farida menampik dengan penjelasan ilmiah.
“Kondisi tanah berair membuat bangunan batu sulit bertahan. Tapi bukti arkeologis tetap ada,” ujarnya.
Ia menunjuk hasil ekskavasi di Geding Suro, yang memperlihatkan sisa tiga struktur candi abad ke-7 hingga ke-8, dengan lapisan tanah yang memperlihatkan kesinambungan antara masa Sriwijaya, masa kerajaan, dan masa Kesultanan Palembang.
“Bangunan-bangunan bata itu bahkan mirip dengan candi di Muara Jambi, artinya kedua wilayah memang berhubungan — tapi bukan berarti pusatnya di sana,” tambahnya.
Dari Bukit Siguntang ke Sungai Musi Pusat Keagamaan dan Pusat Pemerintahan
Menurut Prof. Farida, Sriwijaya tidak bisa dilihat secara tunggal.
“Bukit Siguntang itu pusat spiritual dan keagamaan, sementara pusat pemerintahan ada di kawasan Satu Ilir, Palembang,” ujarnya.
Ia menegaskan, kesalahan umum adalah menyamakan pusat ritual dengan pusat pemerintahan, sebagaimana Borobudur atau Muara Takus yang berfungsi religius, bukan administratif.
Lebih lanjut, Farida menegaskan bahwa situs Muara Jambi justru berasal dari abad ke-11 hingga ke-14 jauh setelah puncak kejayaan Sriwijaya (abad ke-7–10).
“Tidak ada satu pun prasasti dari abad ke-7 yang menunjukkan Jambi sebagai pusat Sriwijaya,” tegasnya.
“Kalau kita bicara Sriwijaya, kita bicara Palembang.”
Bukti Arkeologis di Dasar Sungai Musi
Senada dengan itu, Dr. Dedi Irwanto, M.A, Ketua Pusat Kajian Sejarah Sumatera Selatan (Puskass) Unsri, menegaskan bahwa Palembang memiliki fondasi historis yang paling kuat.
“Prasasti Kedukan Bukit, Telaga Batu, Talang Tuwo semuanya ditemukan di sini. Itu bukan kebetulan,” katanya.
Dedi menjelaskan, penemuan berbagai artefak di dasar Sungai Musi menjadi bukti lain. Arca, keramik dari Tiongkok, hingga mata uang Dinasti Umayyah abad ke-7 ditemukan di sana.
“Ini menandakan adanya aktivitas perdagangan internasional dan interaksi budaya. Palembang kala itu sudah menjadi kota pelabuhan besar,” ungkapnya.
Menurutnya, banyak artefak itu kemungkinan sengaja dibuang ke sungai ketika Sriwijaya diserang oleh Kerajaan Cola dari India Selatan pada abad ke-11.
“Itulah mengapa peninggalannya banyak ditemukan di dasar sungai, bukan di daratan,” jelasnya.
Ia pun menilai klaim Jambi sebagai pusat Sriwijaya “tidak tepat secara kronologis”.
“Candi Muara Jambi dibangun sekitar abad ke-11, jauh setelah masa awal Sriwijaya. Sementara Palembang sudah hidup sebagai pusat kekuasaan sejak abad ke-7,” tegasnya.
Dedi juga menyinggung aspek politis di balik klaim baru itu.
“Wacana pemindahan pusat Sriwijaya ke Jambi muncul bersamaan dengan proyek revitalisasi kawasan Muara Jambi. Kita perlu waspada agar sejarah tidak diarahkan demi kepentingan politik,” ujarnya.
Sriwijaya, Kesultanan, dan Palembang yang Tak Pernah Padam
Bagi Dr. Kemas Ar Panji, S.Pd., M.Si., sejarawan UIN Raden Fatah Palembang sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang, teori yang menyebut Jambi sebagai pusat Sriwijaya terlalu lemah secara ilmiah.
“Bukti-bukti tertulis abad ke-7 hanya ditemukan di Palembang. Itu sudah cukup kuat,” ujarnya.
Ia mengakui banyak peninggalan arkeologi di Palembang yang telah hilang akibat pembangunan, perubahan lanskap, dan masa kolonial. Namun jejaknya masih terasa kuat.
“Dari masa Sriwijaya ke masa Kesultanan Palembang, terjadi kesinambungan peradaban. Ini yang tidak dimiliki daerah lain,” ujarnya.
Menurut Kemas, perpindahan pusat kekuasaan mungkin saja terjadi di periode belakangan, abad ke-11 hingga ke-13.
“Tapi yang jelas, awalnya tetap Palembang. Dari sinilah Sriwijaya memancarkan cahayanya ke seluruh Nusantara,” katanya tegas.
Kemas berharap perdebatan ini tak sekadar menjadi perebutan klaim daerah.
“Sejarah seharusnya menguatkan identitas dan kolaborasi, bukan menciptakan persaingan,” ucapnya.
“Palembang adalah rahim peradaban Sriwijaya. Pengakuan ini bukan soal kebanggaan semata, tapi tentang menghargai jejak sejarah yang telah membentuk kita.”
Sriwijaya Tetap Hidup di Nadi Palembang
Lebih dari seribu tiga ratus tahun berlalu sejak Dapunta Hyang berlayar menaklukkan rawa dan sungai di bumi Melayu.
Namun denyut peradaban itu masih terasa di tepi Musi — di jembatan Ampera, di Bukit Siguntang, di setiap nama talang, dan di hati masyarakat Palembang yang bangga akan sejarahnya.
Sriwijaya bukan sekadar kisah kejayaan masa lalu. Ia adalah identitas yang hidup, jembatan antara kerajaan, kesultanan, dan kota modern yang terus tumbuh.
Dan kini, setelah perdebatan panjang itu kembali mengemuka, satu hal menjadi semakin jelas:
Jika hendak mencari Sriwijaya, carilah di Palembang tempat sejarah dimulai dan kebesaran Nusantara pernah berakar.










