Mural di Tembok Lapas Ketika Ratu Sinuhun Menyapa Palembang Lewat Kuas Angga dan Andriansyah

0
63

PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com – Di tengah hiruk-pikuk mural yang menghiasi sudut-sudut kota Palembang dalam lomba bertajuk “Goresan Cindo Palembang Belagak Stop Vandalisme” yang berlangsung dari 6 hingga 9 September 2025, satu karya tampil berbeda. Bukan karena ukurannya, bukan pula karena teknik pewarnaannya yang rumit. Mural itu mencuri perhatian karena keberaniannya mengangkat sosok yang nyaris terlupakan: Ratu Sinuhun, tokoh perempuan yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah Palembang.

Di balik mural tersebut berdiri Angga Febriansyah dan Andriansyah pemural muda yang tak hanya piawai mengolah warna, tetapi juga memiliki visi yang tajam tentang bagaimana seni bisa menjadi alat kampanye sejarah dan identitas lokal. Dalam lomba yang diikuti puluhan seniman dari berbagai penjuru Sumatera Selatan, Angga dan Andriansyah memilih untuk mereproduksi lukisan Ratu Sinuhun karya Marta Astra Winata sebuah keputusan yang tidak sekadar artistik, tetapi juga politis dan strategis.

“kami ingin ikut mengkampanyekan Ratu Sinuhun sebagai pahlawan nasional dari Palembang,” ujar Angga dan Andriansyah ketika ditemui di lokasi muralnya. “Kebetulan lokasi yang kami dapatkan sangat strategis, jadi kami pikir ini kesempatan yang tepat.” ungkap Angga Febriansyah dan Andriansyah tim yang tergabung dalam kuda Poni dalam lomba mural ini.

Ruang Publik sebagai Panggung Sejarah

Lokasi mural Angga dan Andriansyah bukan sembarang tempat. Tim mereka mendapatkan tembok panjang di Lapas Perempuan Palembang, sebuah dinding bekas taman yang kini menjadi jalur lalu lintas padat. Setiap hari, ribuan pengendara melintasi area ini baik dari arah Jembatan Ampera maupun Jalan Merdeka. Di sinilah Angga Febriansyah dan Andriansyah melihat peluang menjadikan ruang publik sebagai panggung sejarah, tempat di mana narasi lokal bisa tampil dan menantang dominasi visual iklan dan grafiti tak bertuan.

Namun, tembok itu bukan tanpa tantangan. Teksturnya kasar, tidak rata, dan bekas taman yang sudah lama terbengkalai membuat proses melukis jauh dari mudah. Tapi bagi Angga Febriansyah dan Andriansyah, justru di situlah letak kekuatan muralnya.

“Medianya panjang dan bertekstur, tapi itu bukan halangan. Justru tantangan ini memperkuat niat saya untuk melukis Ratu Sinuhun. Kami ingin membuktikan bahwa sejarah bisa tampil megah meski di atas dinding yang tak sempurna.”

Reproduksi yang Menghidupkan Narasi

Dengan merepro karya Marta Astra Winata, Angga Febriansyah dan Andriansyah tidak sekadar menyalin visual. Mereka menghidupkan kembali narasi Ratu Sinuhun tokoh perempuan yang selama ini hanya hadir dalam fragmen-fragmen sejarah lisan dan arsip terbatas. Dalam mural mereka, Ratu Sinuhun tampil anggun dan tegas, mengenakan busana tradisional dengan latar yang menggambarkan kekuatan budaya Palembang.

Bagi Angga, mural ini adalah bentuk advokasi visual. Ia ingin generasi muda bertanya, mencari tahu, dan akhirnya mengenal siapa Ratu Sinuhun. Ia ingin mural ini menjadi pemicu dialog, bukan sekadar dekorasi kota.

“Mudah-mudahan dengan lukisan ini, masyarakat Palembang jadi lebih kenal dengan Ratu Sinuhun. Di era sekarang, saya yakin orang akan penasaran dan mulai mencari tahu.”

Seni, Sejarah, dan Perlawanan terhadap Lupa

Apa yang dilakukan Angga Febriansyah dan Andriansyah bukan hanya soal seni. Mereka sedang melakukan perlawanan terhadap lupa. Di tengah arus modernisasi dan komersialisasi ruang kota, mural Ratu Sinuhun menjadi pengingat bahwa sejarah lokal punya tempat, bahwa perempuan dalam sejarah tidak boleh terus-menerus diabaikan, dan bahwa seni bisa menjadi alat edukasi yang kuat.

Lomba mural ini, meski bertema “Stop Vandalisme,” justru membuka ruang bagi seniman seperti Angga untuk menantang definisi vandalisme itu sendiri. Bukankah penghapusan sejarah lokal juga bentuk vandalisme? Bukankah membiarkan tembok kota hanya dipenuhi iklan dan coretan tanpa makna juga bentuk pengabaian terhadap ruang publik?

Angga dan Andriansyah tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara langsung. Mereka menjawabnya lewat kuas, warna, dan keberanian memilih tokoh yang nyaris tak dikenal. Dan di tembok Lapas Perempuan Palembang, Ratu Sinuhun kini menyapa setiap pengendara yang lewat diam-diam, tapi penuh wibawa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini