Merawat Warisan Lewat Gerak: Dana-Dana Nusantara Bersatu di Gorontalo

0
121

Catatan dari Perjalanan Seni yang Menyatukan Indonesia Lewat Tarian

Gorontalo, LogikaIndonesia
Com. — Di bawah langit yang lembut dan angin yang membawa aroma laut, Gorontalo menyambut langkah-langkah penuh makna dari para maestro tari yang datang dari berbagai penjuru negeri. Mereka tidak sekadar menari. Mereka membawa pesan, memori, dan harapan: bahwa budaya Indonesia, yang begitu beragam dan kaya, bisa terus hidup—asal dirawat dengan kesungguhan.

Dana-Dana Nusantara Bersatu bukan sekadar workshop tari. Ia adalah ruang temu. Sebuah panggung tempat warisan budaya dari berbagai daerah dirayakan, disebarkan, dan dihidupkan kembali bersama generasi muda. Diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVII, di bawah kepemimpinan Sri Sugiharta, kegiatan ini menjadi titik temu semangat pelestarian budaya dari timur hingga barat Indonesia.

Dari Palembang, Sumatera Selatan, datang dua tokoh penting yang diutus oleh BPK Wilayah VI Sumatera Selatan, yang dipimpin oleh Kristanto Januari, SS, dengan pendamping Ajeng Wulandari juga turut berkontribusi dalam acara ini atas rekomendasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan (sumsel) . Mirza Indah Dewi, Ketua Sanggar Anna Kumari, dan M. Imansyah, Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Palembang sekaligus penggagas komunitas Kasta Sumsel. Keduanya dikenal luas sebagai penggerak pelestarian seni tari tradisional yang tak hanya berkualitas, tetapi juga penuh dedikasi.

Menghidupkan Tari, Menyambung Sejarah

Materi utama yang diajarkan dalam workshop ini adalah Tari Bedana Pengantin—sebuah tari pergaulan klasik yang menjadi bagian penting dari tradisi budaya Melayu Palembang. Tarian ini bukan hanya soal gerak tubuh. Ia memuat nilai-nilai tentang penghormatan, kebersamaan, dan keindahan dalam hubungan antar manusia. Dalam sejarahnya, Bedana berkembang dari percampuran budaya lokal dengan pengaruh Islam, Persia, dan Arab. Tarian ini dulu tampil dalam berbagai momen sakral, seperti pernikahan dan penyambutan tamu kehormatan.

Di Gorontalo, tarian ini bukan sekadar dipelajari, tapi dihidupkan kembali dengan konteks baru. Mirza tak hanya melatih gerak tari. Ia juga menyuguhkan aransemen musikal baru yang digarap bersama arranger Kiagus Ipul dan vokalis Supratiwi. Komposisi ini tetap berakar pada struktur tradisional Bedana, namun hadir dengan semangat yang lebih segar, menjadikannya lebih mudah diterima oleh generasi muda.

Para peserta dari Sanggar Molutulo, sanggar lokal di Gorontalo, menerima materi dengan antusias. Dalam sesi-sesi latihan yang intens namun hangat, terlihat bagaimana warisan budaya bisa berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, dari satu daerah ke daerah lain, tanpa kehilangan jiwanya.

Dialog Antar Maestro dan Masa Depan Budaya

Namun yang paling menarik dari kegiatan ini adalah bahwa ia melampaui sekadar pelatihan teknis. Workshop yang berlangsung dari 19 hingga 26 Juli 2024 ini menjadi forum dialog antar maestro seni—sebuah momen langka ketika para penggerak budaya dari berbagai wilayah bertukar cerita, pengalaman, bahkan strategi menghadapi tantangan pelestarian budaya di daerah masing-masing.

Dalam sesi diskusi, M. Imansyah mengusulkan agar kegiatan semacam ini dijadikan agenda tahunan oleh negara. “Ini bukan hanya tentang menari,” tuturnya. “Ini adalah cara kita menjaga nyawa kebudayaan bangsa. Generasi muda tidak hanya belajar gerakan, tapi menyerap nilai dan sejarahnya.”

Ia juga menyuarakan satu isu penting: keberlanjutan. “Selama ini, kegiatan pelestarian sering terkendala oleh minimnya fasilitasi dan pembiayaan. Padahal, dampak dari pelatihan seperti ini sangat luas—bukan hanya bagi pelaku seni, tapi juga bagi ekosistem budaya di daerah.”

Imansyah berharap agar kementerian dan lembaga-lembaga negara bisa melihat pelestarian budaya bukan sekadar urusan seremonial, tetapi sebagai strategi jangka panjang membangun karakter bangsa.

Di akhir workshop, para penari muda Gorontalo tampil membawakan Tari Bedana dengan penuh percaya diri. Gerakan mereka mungkin belum sehalus para guru mereka, tapi semangat dan kebanggaan terlihat jelas dalam setiap hentakan kaki dan kibasan tangan. Mereka membawa pulang lebih dari sekadar teknik. Mereka pulang membawa kesadaran dan tanggung jawab.

Kegiatan Dana-Dana Nusantara Bersatu telah membuktikan satu hal penting: bahwa budaya akan terus hidup, selama ada yang menghidupkannya. Tidak cukup hanya dengan memajang di museum atau menyisipkannya dalam kurikulum. Budaya butuh tubuh-tubuh yang menari, suara-suara yang menyanyi, dan ruang-ruang yang merayakannya secara aktif dan bermakna.

Di tengah dunia yang terus berubah, kegiatan seperti ini menjadi pengingat: bahwa jati diri bangsa tak boleh ditinggalkan dalam keheningan masa lalu. Ia harus terus bergerak, menyatu dalam langkah-langkah yang menari menuju masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini