Wisata Budaya Forwida di Palembang
PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com – Minggu pagi yang teduh, 24 Agustus 2025, halaman Gedung Kesenian Palembang terasa lebih riuh dari biasanya. Puluhan orang dengan wajah bersemangat berkumpul, sebagian membawa topi lebar, kamera, dan catatan kecil. Mereka bukan sekadar pelancong. Mereka adalah peserta Wisata Budaya Forwida, yang hari itu bertekad menyelami kembali denyut sejarah Palembang—kota sungai yang telah membentuk identitas warganya selama berabad-abad.
Sungai sebagai Denyut Kehidupan
Dengan ketek Pariwisata, perahu angkutan air yang menjadi ikon transportasi lokal, rombongan memulai perjalanan. Air Sungai Musi yang beriak pelan seolah menyambut. Di sinilah, urat nadi Palembang berdenyut sejak lama, menghubungkan generasi, kerajaan, dan komunitas.
Tujuan pertama adalah Pulo Kemaro, pulau legendaris yang penuh kisah perlawanan heroik Kesultanan Palembang Darussalam melawan Belanda, di mana Kapitan Bongsu berdiri sebagai panglima di Benteng Ratu. Para peserta berdiam sejenak, membiarkan imaji masa lalu melintas di antara pepohonan dan pagoda yang menjulang.
Ziarah Sejarah yang Terlupakan
Perahu kemudian mengarah ke Pulau Seribu, tempat yang menyimpan makam Ibu Raden Fatah. Suasana hening menyelimuti rombongan. Bagi sebagian besar peserta, momen ini menjadi refleksi: peran perempuan dalam sejarah Palembang kerap terpinggirkan, padahal perannya monumental.
“Ziarah ini penting, karena kita jadi mengingat bahwa sejarah bukan hanya soal raja dan peperangan, tapi juga tentang ibu-ibu yang melahirkan, mendidik, dan menopang perjalanan sebuah bangsa,” ujar salah satu peserta dengan mata berbinar.
Benang Emas di Tuan Kentang
Dari Pulau Seribu, perjalanan berlanjut ke kampung songket dan jumputan di Tuan Kentang, 15 Ulu. Di sebuah rumah kembar khas Palembang, para pengrajin memperlihatkan benang-benang emas dan pewarna alami yang menari di atas kain. Songket bukan hanya busana, melainkan narasi visual tentang ketekunan, warisan, dan kebanggaan.
Peserta tampak terpesona, sebagian sibuk mengabadikan momen, sebagian lain meraba lembut motif yang berkilau. Di sinilah terlihat jelas bagaimana budaya bukan sekadar dilestarikan, tetapi dihidupkan kembali lewat tangan-tangan yang tak kenal lelah dan tak lupa mereka berbelanja aneka jenis tenun sebagai oleh oleh.
Sungai sebagai Ruang Kontemplasi
Sepanjang perjalanan, air menjadi saksi. Sungai Musi tak lagi sekadar jalur transportasi, melainkan ruang kontemplasi. Ia merekam perjumpaan, perlawanan, sekaligus harapan.
“Kami ingin masyarakat, terutama generasi muda, merasakan langsung bagaimana sungai bukan hanya bagian dari geografi, tapi juga dari jiwa Palembang,” kata Dr. Diah K. Pratiwi, Ketua Forwida, menutup perjalanan dengan nada penuh keyakinan.
“Melalui wisata ini, kami tidak hanya mengenang, tapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang nyaris terlupakan.”
Warisan yang Terus Bergerak
Wisata Budaya Forwida bukan sekadar agenda mingguan. Ia adalah upaya kolektif untuk menjaga ingatan, menyulam kembali sejarah, dan memastikan Palembang tetap berdiri sebagai kota sungai yang berdaya. Karena sejarah, seperti aliran Musi, tak pernah berhenti bergerak—selalu menemukan jalan untuk menghidupkan jiwa sebuah kota.







