Palembang,LOGIKAINDONESIA.Com – Di tengah lorong yang dipenuhi semangat membaca dan berkesenian, Kampung Tanggo Takat menyimpan denyut tradisi yang tak pernah padam. Di tempat yang kini dikenal sebagai Lorong Taman Bacaan, sebuah regenerasi budaya sedang tumbuh pelan namun pasti anak-anak tampil di panggung, bukan sekadar bermain peran, tetapi meneruskan warisan teater klasik yang telah hidup lebih dari satu abad: Dulmuluk.
Anak-anak dan Panggung Warisan
Hari itu, panggung sederhana di lorong kecil menjadi saksi keberanian anak-anak Kampung Dulmuluk. Mereka tampil dengan spontanitas yang mengesankan, menyuarakan syair dan lakon yang dahulu dibawakan oleh kakek-nenek mereka. Bagi Johar Saat, maestro Dulmuluk yang telah puluhan tahun mengabdi pada seni ini, momen tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol transmisi budaya yang hidup.
“Yang penting anak-anak sudah berpartisipasi, berani, dan punya spontanitas yang baik. Ini bentuk regenerasi Dulmuluk,” ujar Johar dengan nada bangga.
Anak-anak yang tampil bukanlah orang asing bagi dunia Dulmuluk. Mereka adalah anak dan cucu dari para pemain legendaris, termasuk anak Johar sendiri, anak Khadam Umar, dan beberapa keluarga yang tinggal di sekitar Lorong Taman Bacaan. Tradisi ini tidak hanya diwariskan secara teknis, tetapi juga secara emosional dan sosial—menjadi bagian dari identitas keluarga dan komunitas.
Lorong Taman Bacaan Kampung Budaya Dulmuluk
Lorong Taman Bacaan kini tak hanya dikenal sebagai ruang literasi, tetapi juga sebagai pusat budaya yang hidup. Johar menyebutnya sebagai “kampung budaya Dulmuluk,” sebuah julukan yang lahir dari keterlibatan aktif warga dalam melestarikan seni pertunjukan ini.
“Sudah cocok nian lorong ini disebut kampung budaya Dulmuluk,” katanya sebelum naik ke atas panggung, mengenakan kostum khas yang telah menemaninya sejak muda.
Di lorong ini, anak-anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari panggung. Mereka menyerap nilai-nilai keberanian, kerja sama, dan ekspresi diri yang menjadi inti dari pertunjukan Dulmuluk. Dalam dunia yang serba cepat dan digital, lorong ini menjadi ruang alternatif yang membumi—tempat anak-anak mengenal akar budaya mereka.
Jejak Sejarah dari Tanggo Takat
Kampung Tanggo Takat bukanlah tempat yang dipilih secara kebetulan. Menurut catatan sejarah yang dikutip Johar, di sinilah syair Dulmuluk pertama kali dikenalkan oleh seorang pedagang bernama Wan Bakar. Ia membawa syair-syair dari Timur Tengah dan Melayu, lalu mengadaptasinya menjadi bentuk pertunjukan yang khas Palembang—menggabungkan musik, lakon, dan sastra.
Dulmuluk lahir dari pertemuan budaya, dan Tanggo Takat menjadi titik awalnya. Maka regenerasi yang terjadi hari ini bukan sekadar pelestarian, tetapi juga pengembalian Dulmuluk ke akar sejarahnya.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan adanya Kampung Dulmuluk, Johar berharap seni ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Ia membayangkan panggung-panggung kecil di lorong-lorong lain, anak-anak yang tumbuh dengan syair dan lakon, serta komunitas yang menjadikan seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Saya berharap Dulmuluk makin lestari dan berkembang,” tuturnya, menatap anak-anak yang bersiap di belakang panggung.
Regenerasi bukan hanya soal mengganti pemain lama dengan yang muda, tetapi tentang menanamkan nilai, rasa cinta, dan kebanggaan terhadap warisan budaya. Di Kampung Tanggo Takat, benih itu telah ditanam—dan tampaknya, tanahnya subur.







