Menyelami Warisan Palembang Lewat Naskah Kuno

0
23

Peluncuran Buku yang Menghidupkan Sejarah

LogikaIndonesia.Com – Di tengah megahnya aula Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam, Minggu (16/11/2025), sejarah seolah bangkit dari lembaran-lembaran tua. Buku karya Leni Mastuti, M.Hum berjudul Warisan Budaya Palembang: Sejarah Kesultanan Palembang dalam Naskah Kuno resmi diluncurkan, disertai dengan sebuah workshop yang menggugah kesadaran akan pentingnya pelestarian sejarah lokal.

Sejarah yang Terlupakan, Identitas yang Perlu Diperjuangkan

Acara ini bukan sekadar seremoni peluncuran buku. Ia menjadi ruang refleksi kolektif tentang bagaimana sejarah Palembang telah lama dikaburkan oleh narasi kolonial. Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH MKn, yang hadir sebagai narasumber utama, menegaskan bahwa 70–80 persen catatan sejarah Indonesia masih bersumber dari sudut pandang kolonial.

“Kita perlu mengembalikan identitas nasional dengan meluruskan narasi sejarah berdasarkan sudut pandang kita sendiri,” tegas Sultan.

Ia mengungkap bagaimana narasi sejarah sering kali dibentuk oleh pihak yang menang dalam konflik, sehingga meninggalkan jejak yang tidak objektif. Palembang, sebagai pusat peradaban Sriwijaya, kerap digambarkan negatif dalam catatan kolonial, terutama dalam kisah penyerangan Banten dan konflik dengan Inggris.

Sultan SMB IV menekankan pentingnya bukti primer seperti prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo, serta catatan I-Tsing, sebagai landasan memperkuat narasi sejarah Palembang. Bahkan, ia menyebut bahwa Malaysia pun mengakui asal-usul raja Melayu dari Bukit Seguntang, sebagaimana tercatat dalam Sulalatus Salatin.

Manuskrip Kuno Kunci Memahami Jati Diri Bangsa

Salah satu sorotan utama dalam acara ini adalah pentingnya manuskrip kuno sebagai sumber sejarah primer. Sultan SMB IV menyebut naskah-naskah warisan leluhur bukan sekadar catatan budaya, melainkan kunci untuk memahami jati diri bangsa.

Hal ini diamini oleh sejarawan Palembang, Dr Kemas Ar Panji SPd MSi, yang turut menjadi narasumber. Ia mengajak semua kalangan untuk menulis sejarah agar narasi yang ada tidak mudah dibelokkan atau disalahpahami.

“Manuskrip harus dijadikan sumber primer penelitian untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman sejarah,” ujarnya.

Leni Mastuti Menyatukan Potongan Sejarah dalam Satu Buku

Di balik buku yang diluncurkan, terdapat proses panjang dan penuh tantangan. Leni Mastuti, penulis sekaligus peneliti, menghabiskan tiga bulan sejak Agustus hingga Oktober 2025 untuk menyusun buku ini. Ia harus bergelut dengan proses alih aksara dari dokumen-dokumen tua yang sebagian rusak dan ditulis dalam aksara Jawi atau aksara Melayu.

“Tantangan terberat muncul karena sebagian naskah mengalami kerusakan dan ditulis menggunakan aksara Jawi,” ungkap Leni.

Ia menggarap tiga naskah utama yang memiliki sudut pandang dan alur berbeda. Ketiganya kemudian disinkronkan untuk memetakan sejarah Kesultanan Palembang secara utuh dan ilmiah.

Sebagai alumni S2 Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Leni menegaskan bahwa naskah kuno memiliki kedudukan penting sebagai sumber sejarah primer. Ia prihatin karena masih banyak generasi muda yang belum memahami nilai manuskrip klasik.

“Naskah kuno bukan hanya catatan lama atau benda usang. Di dalamnya tersimpan ilmu, nilai budaya, dan jejak sejarah yang sangat berharga,” katanya.

Membangkitkan Kesadaran Kolektif

Melalui bukunya, Leni berharap masyarakat, terutama generasi muda, dapat membuka mata bahwa sejarah Palembang tidak hanya tersimpan dalam cerita lisan, tetapi juga dalam dokumentasi tertulis yang sangat kaya.

“Jika kesadaran ini tumbuh, maka sejarah Kesultanan Palembang Darussalam tidak akan hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai identitas kebudayaan Palembang di masa depan,” tutupnya.

Penutup yang Bermakna

Sebagai penutup acara, buku Warisan Budaya Palembang dibagikan kepada para peserta yang hadir. Hadir pula tokoh-tokoh penting seperti Raden Dewi Muslihat Diradja, Raden Ayu Ratna Mutia, Ketua Forwida Dr Diah Kusuma Pratiwi MT, budayawan Vebri Al Lintani, seniman Isnayanti Safrida, dan akademisi Prof Zuhdiah.

Bagi pembaca yang ingin memiliki buku ini, pemesanan dapat dilakukan melalui Leni Mastuti, M.Hum di nomor 0838-1539-6030 atau melalui penerbit Aksara Pena.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini