Pelantikan PW MABMI Sumsel 2025–2030: Harapan Baru dari Istana Kesultanan Palembang Darussalam
PALEMBANG LogikaIndonesia.Com – Sabtu pagi, 19 Juli 2025, aula megah Putri Kembang Dadar, BPSDMD Provinsi Sumatera Selatan, dipenuhi haru dan semangat kebudayaan. Di sana, tokoh adat, akademisi, bangsawan, dan pejabat pemerintah menghadiri momen bersejarah: pelantikan Pengurus Wilayah Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (PW MABMI) Provinsi Sumatera Selatan periode 2025–2030.
Lebih dari sekadar seremoni, acara ini menjadi titik tolak peneguhan akar budaya Melayu di Sumatera Selatan. Di tengah gempuran modernitas, MABMI tampil sebagai jangkar nilai—menyatukan sejarah dan visi masa depan.
Pesan dari SMB IV: Jangan Biarkan Budaya Melayu Tenggelam
Sultan Palembang Darussalam, SMB IV Jaya Wikrama Raden Fauwaz Diradja, menjadi figur sentral dalam acara ini. Dalam sambutannya, beliau menegaskan perlunya sinergi antara MABMI dan organisasi budaya lainnya guna menjaga denyut warisan Melayu.
“MABMI ini adalah bagian dari denyut budaya Melayu di Sumatera Selatan. Kita berharap dengan kepengurusan baru ini, semangat pelestarian dan pengembangan budaya bisa semakin kuat dan menyatu dengan pembangunan daerah,” ungkap SMB IV.
Ia juga menitipkan harapan besar kepada Ketua PW MABMI Sumsel terpilih, Prof. Dr. H. M. Edwar Juliartha, S.Sos., MM. beliau seorang akademisi dan tokoh masyarakat dengan kapasitas serta jejaring luas untuk menakhodai organisasi menuju kemajuan.
warisan Melayu Identitas Lintas Negara
Wakil Gubernur Sumsel, Cik Ujang, menggarisbawahi luasnya cakupan budaya Melayu yang melintasi batas negara—dari Palembang hingga Malaysia, Brunei, dan Singapura. Pelestarian budaya, katanya, adalah tanggung jawab lintas generasi.
“Budaya Melayu adalah identitas yang tidak mengenal batas negara. Di sinilah peran kita menjaga, merawat, dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya,” ujar Cik Ujang
Ia juga menekankan pentingnya persatuan masyarakat Melayu agar tidak mudah terpecah oleh arus politik atau kepentingan sesaat.
“Pegang teguh adat Melayu. Jangan mudah diadu domba. Loyalitas kita harus satu garis—tegak lurus mendukung pemimpin demi kemajuan bersama.”
Agenda Strategis: Konsolidasi dan Basis Data Melayu
Dalam pidato perdananya, Prof. Edwar memaparkan arah strategis kepemimpinannya. Selain konsolidasi internal, ia mencanangkan penyusunan database populasi suku Melayu di Sumatera Selatan.
“Data ini bukan sekadar angka, melainkan fondasi untuk merancang program pelestarian yang tepat sasaran. Melayu di Sumsel bukan minoritas—kita mayoritas. Maka, waktunya tampil percaya diri, berdikari, dan berperan aktif,” tegas Prof. Edwar
Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat peran MABMI sebagai organisasi adat yang adaptif, profesional, dan relevan dalam pembangunan daerah.
Menatap Masa Depan dengan Akar yang Kuat
Pelantikan PW MABMI Sumsel 2025–2030 menandai awal baru bagi gerakan budaya Melayu di tengah tantangan era digital. MABMI diharapkan mampu membangun ekosistem budaya yang hidup, inklusif, dan berdaya saing, tanpa kehilangan akar tradisinya.
Dalam sorot lampu dan lantunan doa pelantikan, harapan menyala: agar budaya Melayu tak hanya dikenang, melainkan menjadi kekuatan yang berpadu dengan denyut pembangunan negeri.
Tokoh-Tokoh yang Hadir:
Di antaranya Sultan Palembang Darussalam SMB IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH MKn bersama Raden Zainal Abidin Rahman Dato’ Pangeran Puspo Kesumo, Pangeran Mas’ud Khan, R.M. Rasyid Tohir, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Dato’ Pangeran Suryo Febri Irwansyah (Vebri Al Lintani), Dato Ramli Sutanegara, Pangeran Jayo Syarif Lukman, Putri Ayu Sastro Isnayanti.
Turut hadir: Ketua Umum PB MABMI Prof. Dr. Ok. Saidin, S.H., M.Hum., perwakilan MABMI Singapura Dato Ismail Ramli, Ketua Panitia Dr. Farhat Syukri, S.E., M.Si., seluruh pengurus baru PW MABMI Sumsel, serta delegasi pengurus wilayah MABMI se-Indonesia, Ketua Dewan Kesenian Sumatera Selatan M.Iqbal Rudianto, Ketua Dewan Kesenian Palembang M.Nasir.







