LogikaIndonesia.Com – Di sebuah rumah sederhana di kawasan Kramasan, Kecamatan Kertapati, Palembang, tinggal seorang lelaki tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya. Usianya lebih dari delapan dekade, namun sorot matanya masih menyimpan semangat yang tak pernah padam. Dialah Kakek Yatin, seorang Veteran Pembela Kemerdekaan Indonesia, yang kini hidup seorang diri dengan kondisi kesehatan yang kian rapuh akibat penyakit glaukoma.
Meski tubuhnya renta, tutur katanya tetap tegas, seolah mengingatkan siapa pun yang mendengarnya bahwa kemerdekaan bangsa ini bukanlah hadiah, melainkan hasil dari perjuangan panjang penuh pengorbanan.
Sebuah Kunjungan Bermakna
Pada Sabtu, 10 Januari 2026, kediaman Kakek Yatin kedatangan tamu istimewa. Ketua Panitia Peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam Tahun 2026, Vebri Al Lintani, datang bersama Bendahara Panitia, Isnayanti Safrida, serta komunitas Sahabat Veteran: Anjar, Misnan, dan Wardi. Mereka hadir membawa amanat dari Wali Kota Palembang, Drs. H. Ratu Dewa, M.Si., berupa bantuan untuk sang veteran.
Bantuan itu sebenarnya direncanakan diserahkan pada 3 Januari, bertepatan dengan peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam. Namun karena satu dan lain hal, penyerahan baru bisa dilakukan beberapa hari kemudian. “Kami datang ke kediaman Pak Yatin untuk menyampaikan amanat dari Pak Ratu Dewa. Bantuan ini bukan sekadar simbol, tetapi bentuk penghormatan atas jasa beliau,” ujar Vebri.
Pertempuran Lima Hari Lima Malam: Jejak Sejarah
Peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang bukanlah sekadar seremoni tahunan. Peristiwa yang terjadi pada Januari 1947 itu merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan rakyat Palembang melawan agresi Belanda. Selama lima hari penuh, rakyat bersama tentara berjuang mempertahankan kota dari serangan kolonial.
Bagi generasi muda, peristiwa ini mungkin hanya tercatat dalam buku sejarah. Namun bagi sosok seperti Kakek Yatin, pertempuran itu adalah bagian dari hidupnya—sebuah kenangan yang melekat, penuh darah, air mata, dan keberanian.
Kehidupan yang Sederhana
Kini, di usia senjanya, Kakek Yatin menjalani hari-hari dengan kesunyian. Rumahnya sederhana, jauh dari gemerlap kota. Penyakit glaukoma membuat penglihatannya semakin terbatas. Namun semangat juang yang dulu membakar medan pertempuran masih terasa dalam setiap kata yang ia ucapkan.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan ini menjadi amal jariah untuk para pendonor veteran,” katanya dengan suara bergetar, penuh rasa syukur. Ia berharap bantuan semacam ini tidak berhenti pada dirinya saja, melainkan terus berlanjut bagi para veteran lain yang masih hidup.
Pesan untuk Generasi Penerus
Lebih dari sekadar ucapan terima kasih, Kakek Yatin menitipkan pesan penting: agar generasi penerus bangsa benar-benar mewarisi nilai-nilai perjuangan. “Tanpa bantuan dan kerja sama yang baik, hal ini tidak akan tercapai. Kita sangat mengharapkan agar generasi penerus benar-benar bisa mewarisi nilai-nilai perjuangan kita,” ujarnya.
Pesan itu sederhana, namun sarat makna. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, nilai-nilai perjuangan sering kali terlupakan. Kehadiran sosok seperti Kakek Yatin menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah hasil dari pengorbanan nyata, bukan sekadar kata-kata.
Lebih dari Sekadar Bantuan
Bagi panitia dan komunitas Sahabat Veteran, kunjungan ini bukan hanya tentang menyerahkan bantuan. Ia adalah simbol penghormatan, sebuah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Generasi sekarang diajak untuk tidak melupakan jasa para pejuang, sekaligus belajar dari keteguhan hati mereka.
“Bantuan ini adalah bentuk kepedulian, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga ingatan kolektif atas perjuangan para veteran,” kata Vebri menegaskan.
Api yang Tak Pernah Padam
Di rumah sederhana itu, api perjuangan tetap menyala. Ia mungkin tidak lagi berkobar seperti dulu, tetapi tetap memberi cahaya bagi siapa pun yang datang. Kakek Yatin, dengan segala keterbatasannya, adalah simbol keteguhan hati dan pengingat bahwa kemerdekaan harus selalu dijaga.
Kunjungan Wali Kota Palembang melalui panitia peringatan menjadi bukti bahwa bangsa ini masih peduli pada para pejuangnya. Dan bagi Kakek Yatin, perhatian itu bukan hanya soal materi, melainkan pengakuan atas perjuangan yang pernah ia lakukan demi merah putih.







