Menghidupkan Kembali Musik Tradisi Sumsel “Dari Nada Lama ke Ruang Publik”

0
17

Musik Tradisi di Tengah Arus Zaman

LogikaIndonesia.Com – Di antara gempuran musik populer dan algoritma digital yang menentukan selera generasi hari ini, musik-musik tradisional Sumatera Selatan perlahan seperti berjalan di lorong sunyi. Ia masih hidup, tetapi kerap terpinggirkan. Dari kegelisahan itulah kegiatan Bedah Musik Daerah lahir sebuah ikhtiar kecil namun penting untuk menyelamatkan ingatan kolektif melalui nada dan irama lama.

Kegiatan yang digagas Yayasan Kawan Lamo Galo bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 6 ini menghadirkan para musisi lokal Palembang dan Sumatera Selatan. Mereka bukan sekadar peserta diskusi, melainkan penjaga denyut musik tradisi yang selama ini bertahan dengan caranya masing-masing di panggung kecil, di acara adat, di ruang-ruang yang jauh dari sorotan.

Bedah Musik Daerah, Ruang Bertemunya Generasi

Ketua Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Drs. Kgs. H. Sulaiman Amin, menyebut kegiatan ini sebagai momentum penting untuk membalik keadaan: dari musik yang terpinggirkan menjadi kembali dirayakan.

“Kegiatan menjadi salah satu penyemangat bagi para musisi daerah melalui kerja sama Yayasan Kawan Lamo Galo dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 6,” ujarnya, Senin (8/12/2025) di Start Up Cafe Pipareja Sekip.

Lebih dari sekadar diskusi, Bedah Musik Daerah menjadi ruang untuk membongkar kembali akar-akar musikal Sumsel lagu-lagu yang dahulu hidup di tepian sungai, di rumah-rumah kayu, di pesta rakyat, namun kini nyaris asing di telinga generasi muda.

“Kita akan angkat lagu-lagu daerah yang awalnya tidak dikenal menjadi dikenal, terutama yang berasal dari Kota Palembang,” lanjut Sulaiman.

Dari Ruang Seremonial ke Denyut Kota

Namun tantangan sesungguhnya bukan hanya soal pengenalan, melainkan soal keberlanjutan. Banyak musik tradisi hari ini hanya hidup dalam seremoni: peresmian gedung, acara formal, atau festival yang datang setahun sekali. Setelah itu, sunyi kembali.

Karena itu, pemerintah mulai membidik ruang publik sebagai medan baru perjumpaan antara musik tradisional dan masyarakat modern.

“Kami berharap di tahun 2026 nanti lagu-lagu daerah bisa diputar di tempat umum seperti bandara. Semoga ini bisa terealisasi,” tegas Sulaiman.

Jika terwujud, itu berarti musik tradisi tidak lagi hanya menjadi peninggalan, tetapi bagian dari keseharian—mengalun di ruang tunggu, di lorong-lorong mobilitas kota, menyapa orang-orang yang mungkin tak pernah lagi melihat panggung seni.

Regenerasi dan Harapan dari Komunitas

Bagi Muhammad Fitriansyah, Ketua Yayasan Kawan Lamo Galo, Bedah Musik Daerah adalah langkah awal dari perjalanan panjang membangun kembali kedekatan masyarakat dengan musik daerahnya sendiri.

“Kami berharap kegiatan ini mampu membuat lagu-lagu daerah Palembang lebih dikenal dan dicintai masyarakat,” katanya.

Di balik harapan itu, tersimpan kegelisahan yang sama jika regenerasi terputus, maka musik tradisi hanya akan bertahan di arsip. Karena itu, program ini tidak hanya membahas lagu, tetapi juga membuka ruang dialog antargenerasi antara maestro, pelaku seni muda, dan publik.

Menjaga Nada, Menjaga Identitas

Bedah Musik Daerah dirancang berlangsung berkelanjutan. Ia dimaksudkan sebagai ruang regenerasi, penguatan identitas, sekaligus perlawanan halus terhadap kepunahan budaya. Di tengah kota yang semakin beton, nada-nada lama ini berupaya kembali mencari tempat hidupnya.

Di setiap petikan, di setiap syair yang dihidupkan kembali, tersimpan satu pesan sederhana: bahwa modernitas tidak harus menghapus ingatan. Musik tradisi Sumatera Selatan masih ingin terdengar—bukan sebagai nostalgik semata, melainkan sebagai suara yang terus berjalan bersama zaman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini