LogikaIndonesia.Com – Viralnya sebuah konten di media sosial yang menampilkan seorang wanita asal Sidoarjo mengenakan busana adat Palembang menuai sorotan tajam dan memicu kontroversi di tengah masyarakat. Konten tersebut dinilai tidak mencerminkan nilai, etika, serta norma yang terkandung dalam adat budaya Palembang.
Aktivis Muda Pengamat Budaya Sumatera Selatan, Aman Tubillah S.Hum, menyampaikan keprihatinannya atas fenomena ini. Menurutnya, tindakan tersebut telah mencederai makna luhur budaya daerah yang sarat dengan nilai filosofis.
Makna Filosofis Aesan Paksangko
Aman menjelaskan bahwa Aesan Paksangko merupakan pakaian adat pengantin khas Palembang yang memiliki makna mendalam. Dominasi warna merah dan emas melambangkan keanggunan, kemuliaan, serta martabat tinggi. Karena itu, penggunaannya tidak dapat dipisahkan dari nilai sakral, etika, dan aturan adat yang diwariskan turun-temurun.
“Yang dilakukan oleh oknum dalam konten tersebut sudah melanggar pakem kebudayaan Palembang, karena tidak mencerminkan nilai budaya, moralitas, serta regulitas yang seharusnya dijunjung tinggi,” tegas Aman.
Potensi Kesalahpahaman Publik
Ia menambahkan, penggunaan atribut budaya tanpa pemahaman yang utuh berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik serta merusak citra budaya itu sendiri. Hal ini semakin berbahaya ketika konten tersebut disebarluaskan melalui media sosial yang memiliki jangkauan luas.
Aman berharap pihak pembuat konten maupun pihak terkait, termasuk MUA, segera memberikan klarifikasi serta mempertanggungjawabkan perbuatannya. Menurutnya, kejadian ini harus menjadi pelajaran penting bagi pelaku maupun masyarakat luas.
Ajakan untuk Refleksi dan Pelestarian
“Semoga ini menjadi pembelajaran bersama agar kita lebih bijak, lebih hati-hati, serta memiliki kesadaran dalam menggunakan dan menampilkan kebudayaan daerah, khususnya budaya Palembang Darussalam,” tambahnya.
Lebih lanjut, Aman mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli, memahami, serta menjaga kelestarian budaya lokal agar tidak tergerus oleh konten-konten yang tidak bertanggung jawab. Ia menekankan bahwa budaya bukan sekadar estetika, melainkan identitas yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.








