Kisah Ke
LogikaIndonesia.Com – Suasana Graha Taman Budaya Sriwijaya , Jakabaring, Minggu Sore (23/11), itu terasa berbeda. Tepuk tangan meriah, sorak kagum, dan tatapan penuh perhatian mengiringi langkah 30 pemain muda yang tampil di atas panggung. Mereka bukan sekadar berakting, melainkan menghadirkan kehidupan masyarakat pinggiran Sungai Musi melalui bahasa tubuh, gerak, dan ekspresi tanpa kata dalam pementasan pantomim bertajuk “Musiku Musimu”.
Sungai Musi sebagai Inspirasi Seni
Sungai Musi, yang membelah Kota Palembang, bukan hanya aliran air yang menjadi jalur transportasi dan sumber kehidupan. Ia adalah saksi bisu tumbuhnya budaya lokal, kebiasaan, dan dinamika sosial masyarakat. Sutradara pementasan, Wak Dolah, menegaskan bahwa pemilihan tema Sungai Musi bukan tanpa alasan.
“Sungai Musi bukan hanya aliran air, tetapi juga menjadi saksi tumbuhnya budaya lokal, kebiasaan, dan dinamika sosial masyarakat. Musiku Musimu kami hadirkan sebagai refleksi kehidupan masyarakat Musi melalui seni tanpa kata yang menyentuh dan mendalam,” ujarnya.
Dengan pantomim, kisah-kisah sederhana seperti aktivitas nelayan, interaksi warga di pasar terapung, hingga tradisi keluarga di tepian sungai, dihidupkan kembali tanpa satu pun kata terucap.
Kolaborasi Generasi Muda
Pertunjukan ini digarap oleh Palembang Mime Club bersama Blok E Art Company, serta melibatkan berbagai kelompok teater pelajar Teater Askuter SMK Muhammadiyah 1, Teater Terkam SMKN 6, Teater Satu Dua SMPN 12 dan Sejumlah seniman muda independen
Nama-nama seperti Saleh, Bebeg, Dedi Jordan, Sukma, dan Nasrulah memperkuat komposisi pertunjukan. Musik digarap oleh Randi dan Krismawan, visual oleh Rillo, sementara tata panggung dipercayakan kepada Marta, Sonof, dan Koko.
Kehadiran para pelajar dari tingkat SD, SMP, hingga SMK menjadi bukti bahwa seni pertunjukan dapat menjadi ruang kreatif yang inklusif dan edukatif.
Dukungan Lembaga dan Komunitas
Acara ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak:
Dewan Kesenian Palembang, yang menekankan pentingnya regenerasi seniman pantomim, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumatera Selatan, melalui sambutan Dedy, yang mengajak masyarakat melestarikan seni pertunjukan.
Dana Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025, yang menjadi sumber pendanaan utama.
Dan dukungan komunitas dan organisasi seperti HIPMI Palembang, Relawan Muda Peduli Nusantara (RMPN), LED Project, Revinda Sound, dan Jama Jama Project.
Ketua Pelaksana, M. Dandi Afriza, menegaskan “kegiatan ini adalah wujud nyata pemanfaatan dana fasilitasi kebudayaan untuk mendukung seniman muda berkarya.” Kata Dandi Afriza
Pantomim sebagai Media Edukasi Budaya
Pementasan Musiku Musimu bukan sekadar hiburan. Ia menjadi sarana edukasi budaya yang menyajikan pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Musi. Wak Dolah menambahkan tujuan utama pertunjukan ini adalah Memperkenalkan budaya dan tradisi masyarakat Musi kepada khalayak luas, Meningkatkan apresiasi terhadap seni pantomim sebagai media ekspresi budaya dan mendorong generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian kearifan lokal.
“Melalui pementasan ini, kami berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga budaya lokal, serta menginspirasi lahirnya kegiatan serupa di berbagai daerah,” tutup Wak Dolah.
Identitas Budaya Palembang yang Menguat
Dengan keberagaman tampilan seni, kolaborasi lintas generasi, serta dukungan berbagai pihak, Musiku Musimu menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Ia adalah upaya nyata memperkuat identitas budaya Palembang sekaligus mendorong apresiasi masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisional maupun kontemporer.
Pantomim yang jarang ditampilkan kini kembali hadir sebagai ruang refleksi, hiburan, sekaligus pendidikan budaya. Sungai Musi, dengan segala kisahnya, terus mengalir bukan hanya di tepian kota, tetapi juga dalam denyut seni yang hidup di hati generasi muda Palembang.







