Kampung Kreatif Tanpa Sejarah

0
62

Ketika Penjurian Mengabaikan Ingatan Kolektif

PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com – Di tengah gegap gempita Lomba Kampung Kreatif Palembang 2025, sebuah pertanyaan mendasar muncul: apakah kreativitas bisa berdiri tanpa sejarah? Di Hotel Ayola Palembang Selasa 26 Agustus 2025, para pemenang diumumkan dengan penuh semangat. Kampung Lele dari Sematang Borang meraih Juara 1, disusul Kampung Layangan dari Seberang Ulu Satu dan Kampung Si Gemoy dari Kalidoni. Namun, jauh dari sorotan kamera, Kampung Dulmuluk dari Seberang Ulu Dua hanya disebut sebagai “kampung berpotensi” sebuah label yang terdengar seperti penghiburan.

Dulmuluk Junior Penjaga Kampung Dulmuluk Taman Bacaan Tanggo Takat

Padahal, Dulmuluk bukan kampung biasa. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan jejak teater Melayu klasik, narasi rakyat, dan ingatan kolektif yang membentuk identitas Palembang. Di lorong-lorongnya, warga masih menyebut nama Dulmuluk bukan sebagai legenda, tapi sebagai bagian dari keseharian. Maka ketika kampung ini tidak masuk dalam jajaran pemenang utama, muncul kegelisahan yang tak bisa dibungkam.

Penjurian yang Dipertanyakan

Rasyid Irfandi, yang akrab disapa Pedo, adalah inisiator Kampung Kreatif Dulmuluk. Ia bukan hanya penggerak komunitas, tapi juga penjaga narasi. Bersama warga, ia membangun kampung ini sebagai ruang edukasi sejarah, pertunjukan budaya, dan dokumentasi kolektif. Namun saat penilaian lapangan berlangsung, banyak juri tidak hadir.

“Kami sudah siapkan semuanya. Narasi sejarah, pertunjukan Dulmuluk, dokumentasi warga, bahkan peta ingatan kampung. Tapi juri yang datang tidak lengkap, dan mereka tidak bertanya apa-apa,” ujar Pedo.

Ketidakhadiran juri bukan sekadar teknis. Ia mencerminkan lemahnya komitmen terhadap proses penilaian yang adil dan partisipatif. Bagaimana mungkin kampung dinilai tanpa kehadiran penuh tim penilai? Apalagi kampung seperti Dulmuluk, yang tidak bisa dinilai hanya dari tampilan fisik, tetapi dari kedalaman narasi dan partisipasi warga.

“Yang juara 1 kampung lele… tidak ilmiah sekali,” keluh Pedo.
“Kampung Dulmuluk sejarah dan ilmiahnya sangat kuat, tapi sulit sekali untuk diperhatikan.”

Sejarah yang Terpinggirkan

Dr. Dedi Irwanto, sejarawan Sumatera Selatan dan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kota Palembang, turut angkat bicara. Menurutnya, pengabaian terhadap kampung-kampung bersejarah seperti Dulmuluk mencerminkan krisis apresiasi terhadap nilai sejarah dalam kebijakan pariwisata lokal.

“Kampung Dulmuluk bukan hanya ruang tinggal, tapi ruang ingatan,” tegas Dedi.
“Ia menyimpan narasi panjang tentang identitas Palembang yang tidak bisa diukur hanya dengan estetika atau aktivitas sesaat.”

Dedi menekankan bahwa lomba kampung kreatif seharusnya menjadi ruang edukatif dan reflektif, bukan sekadar kompetisi visual. Kampung yang menghidupkan sejarah, melibatkan warga dalam pelestarian budaya, dan membangun narasi kolektif seharusnya mendapat tempat utama.

“Jika penilaian hanya berfokus pada tampilan dan keramaian, maka kita kehilangan esensi: bahwa kampung adalah tempat bertemunya sejarah, budaya, dan partisipasi warga,” tambahnya.

Retorika vs Realitas

Lomba ini digagas sebagai bagian dari program “Palembang Belagak”, yang mendukung visi Wali Kota dan Wakil Wali Kota: “Palembang Berdaya, Palembang Sejahtera”. Penilaian mencakup aspek inovasi, fasilitas umum, Sapta Pesona, partisipasi masyarakat, serta kekayaan adat dan tradisi.

Namun, dalam praktiknya, kampung dengan narasi sejarah yang kuat justru tidak mendapat ruang yang layak. Kampung Dulmuluk telah menyusun narasi sejarah, menghidupkan kembali jejak Dulmuluk sebagai ikon teater Melayu, dan melibatkan warga dalam proses kreatif. Tapi tanpa kehadiran juri yang memahami konteks sejarah, nilai-nilai tersebut nyaris tak terbaca.

“Kami bukan kampung dekoratif. Kami kampung naratif,” ujar Pedo.
“Tapi sepertinya narasi tidak masuk dalam kriteria penilaian.”

Kota Tanpa Ingatan

Palembang dikenal sebagai kota tua yang kaya akan jejak sejarah. Tapi jika kampung kreatif hanya dinilai dari warna cat dan jumlah pengunjung, maka kita sedang membangun kota tanpa ingatan. Dan kota tanpa ingatan adalah kota yang kehilangan arah.

Kampung Dulmuluk mungkin tidak menang tahun ini. Tapi ia menyimpan sesuatu yang lebih penting dari piagam: keberanian untuk mempertahankan sejarah, dan keteguhan untuk terus bercerita. Di tengah arus estetika instan dan lomba-lomba seremonial, kampung ini berdiri sebagai pengingat bahwa kreativitas sejati lahir dari kedalaman, bukan dari permukaan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini