Huruf Ulu Menari di Atas Panggung

0
62

Komite Tari Dewan Kesenian Palembang bangkitkan kembali aksara yang nyaris terlupa, lewat gerak, warna, dan suara.

PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com – Dalam temaram panggung di Lawang Borotan Benteng Kuto Besak, di antara denting musik yang memadukan tradisi dan modernitas, para penari mengayunkan tubuh mereka menyusun siluet aksara. Ini bukan sekadar tari. Ini adalah perlawanan halus terhadap pelupaan budaya: sebuah upaya menghidupkan kembali huruf ulu, sistem tulisan asli Sumatera Selatan yang nyaris tenggelam oleh zaman.

Aksara yang Menyatu dengan Gerak

Huruf ulu lebih dikenal sebagai aksara Kaganga (ka-ga-nga)—adalah peninggalan intelektual masyarakat uluan seperti Lahat dan Empat Lawang. Dulunya digunakan untuk mencatat spiritualitas dan pengetahuan lokal, aksara ini kini terasing dari generasi muda yang tumbuh dengan huruf Latin dan layar sentuh.

Melalui koreografi simbolik, Tari Pesona Kaganga menyulap tubuh manusia menjadi puisi visual. Penari menggambarkan transisi sejarah: dari naskah di daun lontar hingga kekosongan pengetahuan kontemporer. Gerak-gerik yang membentuk aksara menyampaikan satu pesan Kaganga belum mati.

Riset Budaya dan Kolaborasi Artistik

Disutradarai oleh koreografer muda, Salwa Pratiwi, dan dipentaskan dalam “Parade Bunyi Part 4” 26 Juli 2025 bersama Yayasan Kawan Lamo, pertunjukan ini merupakan hasil kolaborasi intens antara Komite Tari, budayawan, dan pelestari aksara ulu.

“Setiap gerakan kami harap mampu menggugah rasa penasaran dan kebanggaan akan huruf ulu,” ungkap Salwa.

Kostum berwarna tanah, musik yang melintasi generasi, dan gerak yang sarat makna membentuk pengalaman multisensori yang tidak hanya menghibur, tapi juga mengedukasi.

Dari Panggung ke Advokasi Budaya

Pesona Kaganga tidak berhenti di panggung. Ia membawa misi menjadikan aksara ulu bagian dari arsitektur pengetahuan modern. Dewan Kesenian Palembang mendorong pengintegrasian aksara ini ke dalam kurikulum sekolah, desain grafis lokal, bahkan seni digital. Gerak tari menjadi media kampanye yang lembut namun menghunjam.

Setiap penampilan bukan sekadar pertunjukan, tetapi pengingat bahwa identitas lokal bisa bertransformasi tanpa tercerabut dari akarnya.

Kaganga di Era Digital

Untuk menjangkau generasi yang tumbuh bersama TikTok dan tablet, Komite Tari sedang mengembangkan dokumentasi multimedia: video interaktif, infografik, hingga platform edukasi digital tentang aksara Kaganga.

Bersama seniman muda, mereka membayangkan masa depan di mana Kaganga bukan hanya simbol masa lalu, tetapi ikon masa depan budaya Sumatera Selatan—adaptif, berdaya, dan tak lekang oleh waktu.

Penari di Balik Pertunjukan:
– Salwa Pratiwi
– M Rizki Pebriansyah
– Mutiara Fryscha Chrisytha

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini