PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com – Jalan Bank Raya, setiap Kamis siang tak hanya sajian nasi dan lauk pauk yang terhidang, tapi juga cinta, kepedulian, dan harapan yang dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Di tengah hiruk-pikuk kota dan kerasnya hidup yang dijalani sebagian warga, Masjid Baiturrahman hadir sebagai ruang bernaung, bukan hanya untuk rohani, tapi juga jasmani. Sejak beberapa waktu terakhir, setiap hari Kamis, masjid ini menyelenggarakan program makan siang gratis bagi kaum duafa—sebuah inisiatif sederhana yang berdampak besar.
Gurihnya
Program ini tumbuh dari semangat gotong royong antara pengurus masjid, warga sekitar, relawan, dan para donatur yang bahu-membahu menyajikan santapan hangat. Di ruang makan sederhana masjid, nasi hangat, sayur, dan lauk pauk tersaji dengan senyum tulus para pelayan dan relawan.
“Kegiatan ini hadir dari rasa empati dan keinginan untuk berbagi,” ujar Kirana, anggota tim pelaksana program. “Kami berharap kehadiran makan siang gratis ini bisa meringankan beban saudara-saudara kita dan menjadi ladang amal bagi siapa pun yang turut berkontribusi.”
Masjid Sebagai Pusat Keberkahan
Ketua Masjid Baiturrahman, Najib Asmani, menegaskan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga harus hadir di tengah-tengah persoalan sosial umat.
“Kami percaya bahwa masjid harus menjadi pusat keberkahan, bukan hanya secara spiritual tetapi juga sosial,” katanya. “Program makan siang gratis ini adalah langkah kecil yang membawa manfaat besar bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Insya Allah, selama kami mampu, kegiatan ini akan terus berjalan.”
Ibadah Sosial yang Konsisten
Tak ada seleksi, tak ada pendaftaran. Setiap Kamis, siapa pun yang merasa membutuhkan dipersilakan datang. Mereka yang hidup sendiri, pekerja harian, lansia tanpa penghasilan tetap—semuanya diperlakukan dengan hormat dan kehangatan.
Program ini telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masjid. Sejumlah warga sekitar yang awalnya hanya menyumbang bahan makanan kini turut turun tangan memasak dan membungkus makanan. Anak-anak muda pun ikut menjadi relawan, mengantarkan makanan kepada mereka yang sudah tidak mampu datang ke masjid.
Setiap Suapan adalah Doa
Di tengah suapan nasi dan gurihnya kuah sayur, terselip harapan dan rasa syukur. Seorang bapak paruh baya yang kerap datang setiap Kamis berkata lirih, “Saya mungkin tidak bisa banyak ibadah karena sakit, tapi setiap makan di sini saya merasa Allah masih sayang saya.”
Makan siang gratis di Masjid Baiturrahman bukanlah hal besar secara materi. Namun, dari piring-piring sederhana itulah terbit kekuatan: kekuatan untuk merasa tidak sendiri, kekuatan untuk bangkit kembali, dan kekuatan untuk saling mencintai.
Dan selama masih ada Kamis dalam seminggu, harapan itu akan terus terhidang—hangat, tulus, dan mengenyangkan jiwa.







