Gelar Adat Kehormatan dari Kesultanan Palembang Darussalam untuk Pengantin Turki

0
21

Sebuah Perjumpaan Tradisi, Cinta, dan Sejarah

LogikaIndonesia.Com – Di tengah gemerlap lampu Hotel Fave Palembang, Sabtu malam (22/10), suasana resepsi pernikahan Furkan Enes Kara dan Vivian Syafarina berubah menjadi momen bersejarah. Tidak hanya sekadar pesta pernikahan, malam itu menjadi saksi bagaimana Kesultanan Palembang Darussalam kembali meneguhkan tradisi dengan memberikan gelar adat kehormatan kepada kedua mempelai.

Wajah Furkan, pemuda asal Turki, dan Vivian, putri Palembang, memancarkan kebahagiaan yang bercampur dengan rasa haru. Mereka bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi juga dua budaya yang berbeda, yang malam itu dipersatukan dalam simbol adat dan sejarah.

Prosesi Penuh Khidmat

Prosesi pemberian gelar adat dipimpin langsung oleh Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn, didampingi jajaran penting Kesultanan R.M. Rasyid Tohir, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Mufti Kesultanan Palembang Darussalam Pangeran Muhammad Mustofa, Dato’ Pangeran Suryo Vebri Al Lintani, Dato’ Pangeran Suryo Dr Kemas Ari Panji

Acara dibuka dengan lantunan surah Al-Fatihah dan pembacaan Syair Sultan Mahmud Badruddin, sebuah tradisi yang menghubungkan masa kini dengan jejak para Sultan terdahulu. Suasana hening, penuh doa, sebelum kemudian bergemuruh oleh bunyi gung dan tepuk tangan saat gelar adat diumumkan.
Furkan Enes Kara menerima gelar Temenggung Muda dan Vivian Syafarina dianugerahi gelar Nyi Temenggung

Penyematan pin dan Watikah dilakukan langsung oleh Sultan, sebuah simbol pengakuan dan penghormatan yang tidak hanya melekat pada pribadi, tetapi juga pada ikatan pernikahan mereka.

Makna Gelar dan Latar Belakang

Dalam pengantar prosesi, Dato’ Pangeran Suryo Vebri Al Lintani menegaskan bahwa gelar adat kehormatan diberikan kepada sosok istimewa. Pertama, karena dinilai telah berbuat baik bagi kemaslahatan Palembang. Kedua, karena adanya hubungan kekerabatan dengan Kesultanan.

Vivian sendiri adalah keponakan kandung dari Isnayanti Syafrida, seorang kerabat Kesultanan yang telah membaktikan diri dan sebelumnya menerima gelar Putri Ayu. Dengan demikian, pemberian gelar kepada Vivian dan suaminya Furkan bukan sekadar simbol, melainkan kelanjutan dari garis pengabdian keluarga terhadap Kesultanan.

Cinta yang Menyatukan Dua Bangsa

Dalam sambutannya, Sultan SMB IV menyinggung keunikan pasangan ini. Furkan berasal dari Turki, sementara Vivian adalah putri Palembang. “Inilah yang disebut jodoh. Kalau dahulu ada pepatah Melayu, garam di laut asam di gunung bertemu di dalam kuali. Tetapi khusus untuk kedua pasangan ini, Furkan dari Turki, Vivian dari Palembang dipertemukan oleh media sosial,” ujar Sultan, disambut senyum hangat para tamu.

Kisah cinta lintas bangsa ini menjadi simbol bagaimana tradisi tetap bisa beradaptasi dengan zaman. Media sosial, yang sering dianggap dingin dan modern, justru menjadi jembatan bagi pertemuan dua hati yang kini disatukan dalam adat dan doa.

Jejak Sejarah Palembang dan Turki

Lebih dari sekadar pernikahan, kehadiran Furkan dari Turki mengingatkan Kesultanan Palembang pada hubungan sejarah masa lalu. Setelah melepaskan diri dari vazal Jawa, Kesultanan Palembang pernah menjalin kedekatan dengan Kesultanan Ottoman Turki, sebuah negara adidaya Islam pada zamannya.

Sultan SMB IV menegaskan bahwa momen ini bukan hanya perayaan pribadi, tetapi juga pengingat akan ikatan sejarah yang pernah terjalin. Dengan demikian, pernikahan Furkan dan Vivian menjadi simbol pertemuan kembali antara Palembang dan Turki, kali ini dalam bentuk cinta dan keluarga.

Doa dan Harapan

Di akhir prosesi, Sultan mengucapkan doa agar pasangan ini menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, serta dikaruniai anak-anak yang saleh. Doa tersebut bukan hanya harapan pribadi, tetapi juga bagian dari tradisi Kesultanan yang selalu menempatkan pernikahan sebagai fondasi penting dalam membangun masyarakat yang beradab.

Turut hadir dalam acara tersebut para pembakti dan kerabat Kesultanan Palembang Darussalam, keluarga kedua mempelai, serta para undangan yang larut dalam suasana penuh kebanggaan.

Tradisi yang Hidup

Pemberian gelar adat kehormatan kepada Furkan dan Vivian menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang beku. Ia hidup, beradaptasi, dan menemukan relevansinya dalam konteks zaman. Malam itu, di Hotel Fave Palembang, cinta dua insan menjadi pintu bagi Kesultanan Palembang Darussalam untuk kembali meneguhkan jati dirinya: menjaga warisan, merawat kekerabatan, dan merayakan perjumpaan budaya.

Pernikahan ini bukan hanya tentang dua orang, melainkan tentang bagaimana adat, sejarah, dan cinta bisa berpadu menjadi satu narasi yang indah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini