Gedung Kesenian yang Kehilangan Identitas

0
96

Dari Panggung Seni ke Tempat Tidur

PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com — Di tengah upaya pelestarian budaya lokal, sebuah gedung kesenian yang semestinya menjadi pusat ekspresi seni kini beralih fungsi menjadi tempat inap sementara bagi pegawai Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Palembang. Fasilitas utama seperti AC yang dulunya hanya menyala saat pertunjukan seni kini aktif hampir setiap hari, bukan untuk kenyamanan seniman, melainkan untuk menunjang kebutuhan inap pegawai.

Fungsi yang Bergeser Diam-diam

Gedung kesenian ini dulunya menjadi ruang vital bagi seniman lokal untuk menggelar pertunjukan teater, musik tradisional, diskusi budaya, hingga pelatihan seni rupa. Namun sejak awal tahun ini, ruang tersebut mulai ditempati oleh pegawai Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Palembang yang menunggu proses rehabilitasi kantor mereka.

“AC-nya nyala terus, seniman cuma memakai AC kalau ada acara seni tidak setiap hari dinyalakan,” ujar seorang staf kebersihan yang enggan disebut namanya. “Sekarang malah jadi tempat tidur pegawai.”

Suara Seniman yang Terpinggirkan

Beberapa seniman lokal mengaku kecewa dengan situasi ini. Mereka merasa ruang ekspresi mereka direbut secara perlahan oleh kepentingan birokrasi.

“Kami tidak anti terhadap kantor Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Palembang. Tapi gedung ini dibangun untuk seni, bukan untuk jadi mess sementara,” kata Sonov, seorang aktor teater yang rutin menggelar latihan di sana.

Minim Transparansi, Kabur Batas Waktu

Hingga kini, belum ada kejelasan dari pihak pemerintah daerah mengenai batas waktu penempatan sementara tersebut. Tidak ada papan informasi, surat edaran, atau pengumuman resmi yang menjelaskan status penggunaan gedung.

Menurut sumber internal, rehabilitasi kantor Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Palembang diperkirakan selesai dalam beberapa bulan. Namun tanpa kepastian tertulis, kekhawatiran seniman akan kehilangan ruang ekspresi semakin besar.

Gedung Kesenian Simbol Budaya yang Terancam

Gedung kesenian bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol peradaban, tempat bertemunya gagasan, identitas, dan ekspresi masyarakat. Ketika ruang itu dialihfungsikan tanpa kejelasan dan tanpa perlindungan terhadap fungsi utamanya, maka yang terancam bukan hanya kenyamanan seniman tetapi keberlangsungan budaya itu sendiri.

“Kalau ruang seni bisa dialihfungsikan begitu saja, apa jaminan bahwa budaya lokal akan tetap punya tempat di tengah pembangunan?” tanya Dr kemas Ari Panji, sejarawan yang ikut merebut gedung tersebut, hingga jadi gedung kesenian.

Seruan untuk Reposisi dan Regulasi

Situasi ini membuka ruang diskusi lebih luas tentang tata kelola ruang publik, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan. Perlu ada regulasi yang melindungi fungsi utama gedung kesenian, termasuk mekanisme transparan jika terjadi alih fungsi sementara.

Seniman dan pegiat budaya kini menyerukan agar pemerintah segera memberikan kejelasan status gedung, mengembalikan fungsinya sebagai ruang seni, dan menyediakan alternatif yang layak bagi instansi lain yang membutuhkan tempat sementara.

Catatan Redaksi: Artikel ini akan terus diperbarui seiring perkembangan situasi dan tanggapan dari pihak terkait.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini