Estetika Psikedelik Jejak DNA Seni Rupa Nusantara di Jantung Kota Palembang

0
19

LogikaIndonedia.Com – Di balik dinding elegan Hotel The Alts Palembang, warna-warna liar, garis-garis berani, dan imaji yang melampaui logika realisme berpadu menjadi satu lanskap visual yang menggugah kesadaran. Jumat Sore, 19 Desember 2025, ruang hotel itu berubah menjadi ruang perenungan sekaligus perayaan: Pameran Seni Rupa bertema “Estetika Psikedelik” resmi dibuka.

Pameran ini bukan sekadar ajang memajang karya. Ia menjadi titik temu lintas daerah, lintas generasi, dan lintas gagasan sebuah peristiwa budaya yang merayakan keberagaman ekspresi seni rupa Indonesia dalam satu tarikan napas.

Selama lebih dari sepekan, sejak 19 hingga 27 Desember 2025, publik Palembang disuguhi 54 karya seni lukis yang dihasilkan oleh 23 pelukis dari berbagai wilayah Indonesia. Mereka datang dari Sumatera Selatan sebagai tuan rumah, serta Kalimantan Timur, Jambi, Lampung, hingga Yogyakarta daerah-daerah dengan karakter dan tradisi seni rupa yang khas.

Di antara puluhan karya tersebut, satu fakta mencolok muncul sekitar 30 karya merupakan hasil tangan seniman perempuan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan penanda kuat bahwa perempuan semakin mengambil ruang strategis dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Di tengah dominasi narasi maskulin dalam sejarah seni, pameran ini menghadirkan keseimbangan baru suara, perspektif, dan sensitivitas yang beragam.

Ketua Panitia, Marta Astrawinata, menyebut pameran ini sebagai hasil kolaborasi lintas daerah yang lahir dari semangat kebersamaan para seniman. Bagi Marta, Estetika Psikedelik bukan hanya gaya visual, melainkan pendekatan untuk menyingkap lapisan-lapisan kesadaran, sejarah, dan identitas.

“Sebanyak 54 karya seni dipamerkan dalam kegiatan ini, yang dihasilkan oleh 23 pelukis. Menariknya, sebagian besar karya datang dari seniman perempuan. Ini menunjukkan peran aktif perempuan dalam perkembangan seni rupa Indonesia,” ujarnya.

Lebih jauh, Marta mengungkapkan bahwa pameran ini memiliki satu benang merah yang kuat: gagasan tentang “DNA seni rupa” Sumatera Selatan. Sebuah upaya membaca ulang akar kesenian lokal, bukan sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai energi hidup yang terus berevolusi.

Menurutnya, jejak seni rupa di wilayah Sumatera Selatan telah hadir sejak sekitar 3.000 tahun lalu tertanam dalam artefak, simbol, dan tradisi visual yang diwariskan lintas generasi. Dari relief, motif hias, hingga ekspresi visual kontemporer, semuanya membentuk kesinambungan sejarah yang jarang disadari secara utuh.

Melalui pameran ini, para seniman berharap masyarakat tidak hanya menikmati keindahan visual, tetapi juga menangkap dialog panjang antara masa lalu dan masa kini—antara identitas lokal dan bahasa seni global.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa seni rupa Nusantara memiliki kesinambungan sejarah, identitas, dan ekspresi yang terus hidup hingga hari ini,” tambah Marta.

Kolaborasi antara seniman dan ruang non-konvensional juga menjadi kekuatan pameran ini. Hotel The Alts Palembang, yang biasanya identik dengan aktivitas perhotelan dan bisnis, menjelma menjadi ruang budaya yang terbuka bagi publik. Bagi CEO Hotel The Alts, Rizky Dermawan, pameran ini adalah bagian dari komitmen mendukung pergerakan seni dan budaya di Palembang.

“Ini merupakan kegiatan kedua yang digelar di Hotel The Alts. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa berlangsung secara rutin, idealnya setiap dua tahun,” katanya.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Palembang. Staf Ahli Wali Kota Palembang Bidang Pemerintahan, Sosial, dan Kemasyarakatan, Sadruddin Hajar, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan pameran tersebut.

“Pemerintah Kota Palembang mendukung penuh kegiatan seni dan budaya. Ini penting untuk menjaga ekosistem kreatif sekaligus memperkuat identitas budaya kota,” ujarnya.

Di tengah hiruk pikuk kota dan arus modernisasi, Pameran Estetika Psikedelik hadir sebagai ruang jeda—tempat seni berbicara dengan caranya sendiri. Ia mengajak pengunjung menyelam ke dalam warna, simbol, dan makna, sekaligus mengingatkan bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan cermin perjalanan peradaban.

Dari Palembang, seni rupa kembali menegaskan dirinya hidup, bergerak, dan terus mencari bentuk.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini