17-an DKSS dan Seniman Jadi Panggung Persatuan dan Kreativitas
PALEMBANG,LogikaIndonesia.Com -Di bawah langit pagi Palembang yang cerah, Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) kembali menjadi saksi sejarah. Namun kali ini bukan tentang senjata dan perang, melainkan tentang panggung, puisi, dan semangat yang menyala lewat seni. Pada Minggu, 17 Agustus 2025, Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) menggelar acara “17-an Seniman” sebagai bentuk perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.
Bukan sekadar seremoni, acara ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi dan komunitas. Seniman, budayawan, dan masyarakat Sumatera Selatan berkumpul, bukan hanya untuk mengenang kemerdekaan, tetapi untuk merayakannya dengan cara yang paling jujur dan ekspresif: melalui seni.
Teaterikal Pembuka Simbol
Perjuangan yang Hidup
Panggung dibuka dengan penampilan teaterikal yang

menggugah. Para aktor membawakan kisah perjuangan dengan gestur dan dialog yang membakar semangat. Penonton terdiam, lalu bertepuk tangan, seolah menyatu dalam narasi yang dibawakan. Di tengah hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan di tempat lain, Monpera menawarkan refleksi yang lebih dalam.
Orasi Seni Kemerdekaan yang Lebih dari Sekadar Bebas
Ketua DKSS, MS. Iqbal Rudianto, menyampaikan orasi keseniannya dengan nada yang tegas namun penuh makna.
“Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan dari penjajahan, tetapi juga sebagai panggilan untuk menjaga jati diri bangsa melalui seni dan budaya,” ujarnya.
Ia menutup orasinya dengan seruan yang menjadi mantra acara:
“Dari Bumi Sriwijaya, kita kobarkan semangat persatuan dan kreativitas. Dengan seni kita merdeka, dengan seni kita berjaya.”
Tema yang Menghidupkan Solidaritas
Mengusung tema “Dengan Seni Kita Merdeka, Dengan Seni Kita Jaya”, acara ini bukan hanya selebrasi, tetapi juga ajakan. Ajakan untuk memperkuat solidaritas antar seniman, menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kesenian lokal, dan memperkenalkan kekayaan budaya Sumatera Selatan kepada generasi muda dan dunia.
Komunitas Bersatu:Dari Slankers hingga KPJ
Ragam komunitas turut meramaikan acara, mulai dari Kawan Lamo, Gong Sriwijaya, DKP, KKPP, Slankers, Blok E, Jamers, Fortass, hingga KPJ. Mereka datang dengan semangat yang sama merayakan kemerdekaan dengan ekspresi budaya.
Mpit, Ketua Komunitas Kawan Lamo, menyampaikan harapannya agar acara seperti ini terus berlanjut.
“Selain memeriahkan HUT RI, ini juga cara lain bersilaturahmi sesama seniman, budayawan dan berbagai rekan,” katanya.
Monpera Dari Monumen ke Panggung Masa Depan
Monpera, yang selama ini menjadi simbol perjuangan fisik, kini menjelma menjadi panggung perjuangan kultural. Di sinilah seni menjadi bahasa persatuan, dan budaya menjadi jembatan lintas zaman.
Acara “17-an Seniman” bukan hanya perayaan, tapi juga pernyataan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika kita bebas mengekspresikan jati diri, menjaga warisan, dan menciptakan ruang bersama untuk tumbuh.







