Bidar dan Telok Abang Napas Tradisi Kehidupan Sungai Kota Palembang

0
69

PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com – Kota yang lahir dari aliran Sungai Musi, tradisi bukan sekadar peninggalan nenek moyang. Ia adalah denyut hidup yang terus memompa identitas warga mengikat masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu helai napas budaya. Di tengah semarak bulan kemerdekaan, dua tradisi menonjol sebagai wujud cinta Palembang pada akar sejarahnya, Lomba Bidar dan Telok Abang.

Lomba Bidar: Simfoni Dayung dan Jejak Legenda

Setiap Agustus, permukaan Sungai Musi yang biasanya tenang menjelma menjadi panggung besar. Belasan perahu panjang melesat serempak, memecah air dengan irama yang nyaris musikal. Dihias warna mencolok dan digerakkan puluhan pendayung, bidar bukan sekadar lomba. Ia adalah ritual kolektif yang memanggil kembali kenangan Kesultanan Palembang Darussalam dan legenda rakyat yang menggetarkan hati.

Menurut sejarah, bidar berasal dari perahu pencalang yang digunakan oleh pasukan air Kesultanan untuk patroli dan latihan tempur. Namun, legenda lokal menyebutkan bahwa tradisi ini bermula dari perlombaan antara dua pangeran Palembang dan seorang pemuda dari uluan, yang memperebutkan hati gadis cantik bernama Putri Dayang Merindu. Tragisnya, ketiganya meninggal dalam perlombaan dan kisah cinta itu menjadi simbol pengorbanan dan keadilan.

Kini, bidar menjadi simbol keberanian, kerja sama, dan kebanggaan bersama. “Kami bukan hanya mendayung. Kami menjaga warisan,” ucap seorang pendayung, wajahnya basah oleh keringat dan semangat.

Bagi masyarakat Palembang, menyaksikan bidar adalah ziarah emosional. Sorak sorai penonton, semilir angin sungai, hingga teriakan komando dari atas perahu semuanya menciptakan peristiwa budaya yang hidup.

Telok Abang: Semangat Merah di Tangan Anak-anak

Sementara di daratan, terutama di sekitar Jalan Merdeka dan pasar-pasar tradisional sepanjang sungai, pemandangan lain tak kalah menggugah hati. Telok Abang telur rebus yang dicelup pewarna merah tersaji di atas replika mainan kapal perang, pesawat tempur, kuda-kudaan, bahkan truk militer mini dari kayu.

Tradisi ini bermula dari masa kolonial, ketika masyarakat Palembang menyambut ulang tahun Ratu Wilhelmina dari Belanda dengan telur merah sebagai simbol penghormatan. Setelah kemerdekaan, maknanya bergeser menjadi simbol perjuangan dan nasionalisme. Telok berarti telur, abang berarti merah—warna keberanian dan semangat hidup.

Di tangan mungil anak-anak, merah bukan sekadar warna. Ia adalah cerita tentang negeri yang diperjuangkan. Telok Abang menjadi pelajaran kebangsaan yang sederhana namun membekas. Tanpa ruang kelas, tanpa papan tulis, anak-anak Palembang belajar tentang cinta tanah air melalui simbol dan permainan.

Menjaga Napas Budaya di Tengah Zaman

Zaman boleh berubah, gedung-gedung menjulang, dan teknologi menyentuh segala lini. Tapi Bidar dan Telok Abang tetap bertahan bukan sebagai artefak, melainkan sebagai tradisi yang hidup, bergerak, dan menginspirasi.

Keduanya adalah jembatan antar generasi. Lewat ayunan dayung dan senyum anak-anak, Palembang tak hanya merayakan kemerdekaan, tapi juga menegaskan siapa dirinya.

Sungai Musi tetap mengalir, seperti halnya cerita-cerita tentang keberanian dan kasih sayang yang terus diwariskan. Di antara gemuruh air dan suara tawa, Palembang mengajarkan kita bahwa tradisi bukan hanya tentang masa lalu ia adalah kompas yang menuntun arah ke depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini