Batu Ampar dan Kutukan di Sungai Musi

0
247

Legenda Dempu Awang, Gugusan Batu, dan Kunjungan Wali Kota Palembang

PALEMBANG, LogikaIndonesia.Com — Kabut belum sepenuhnya mengangkat dari permukaan Sungai Musi ketika batu-batu besar itu mulai tampak. Di Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, gugusan batu yang disebut Batu Ampar muncul perlahan dari dasar sungai yang surut. Bagi warga sekitar, kemunculan batu itu bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah pengingat akan kutukan lama: kisah Dempu Awang, anak durhaka yang kapalnya membatu.

“Kalau air surut begini, nenek saya selalu bilang: itu kapal Dempu Awang. Jangan pernah sombong sama orang tua,” kata Rosmawati, 63 tahun, warga 1 Ilir yang tinggal tak jauh dari lokasi.

Legenda Dempu Awang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Palembang. Kisahnya mirip dengan Malin Kundang dari Sumatera Barat. Dempu Awang, setelah sukses merantau, menolak mengakui ibunya yang miskin. Sang ibu, terluka batinnya, mengutuk sang anak. Kapal megah yang membawa harta pun membatu. Batu Ampar diyakini sebagai sisa-sisa kapal dan harta itu.

“Batu Ampar itu bukan cuma batu. Itu pelajaran hidup,” ujar Junaidi, nelayan Sungai Musi. “Kami ingin pemerintah bantu rawat tempat ini, jangan sampai hilang karena pembangunan.”

Kunjungan Wali Kota

Minggu sore, 10 Agustus 2025, Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengunjungi situs Batu Ampar. Ia didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepala Dinas Pariwisata. Kunjungan itu dilakukan saat air Sungai Musi sedang surut, memperlihatkan batuan yang biasanya tersembunyi.

Ratu Dewa berdiri di antara batu-batu yang menyembul dari sungai, menyimak penjelasan warga dan tokoh adat. Ia menyentuh salah satu batu dengan hati-hati, seolah merasakan denyut sejarah yang tertanam di sana.

“Batu Ampar bukan hanya warisan alam, tapi juga warisan cerita,” kata Ratu Dewa. “Kita perlu merawatnya, bukan hanya sebagai objek wisata, tapi sebagai ruang refleksi tentang nilai-nilai yang membentuk Palembang.”

Kepala Dinas Kebudayaan menyebut pihaknya tengah menyusun kajian untuk menetapkan Batu Ampar sebagai situs budaya lokal. Dinas Pariwisata merancang jalur interpretatif agar pengunjung dapat memahami kisah Dempu Awang secara mendalam.

Antara Mitos dan Kebijakan

Belum ada kajian arkeologis yang menguatkan bahwa Batu Ampar benar-benar berasal dari kapal Dempu Awang. Namun, bagi warga, batuan itu adalah lanskap ingatan. Ia menjadi ruang di mana mitos, moral, dan identitas lokal bertemu.

“Kalau bisa ada papan cerita atau tempat duduk buat orang yang datang,” kata mang Dayat ketua konten kreator Sumatera Selatan dan juga ketua Tim 11 “Biar anak-anak tahu sejarahnya, bukan cuma lihat batu terus pulang.”

Batu Ampar kini berada di persimpangan antara pelestarian dan komodifikasi. Pemerintah kota mulai meliriknya sebagai potensi wisata budaya, sementara warga berharap agar tempat itu tetap menjadi ruang refleksi, bukan sekadar latar swafoto.

Di Palembang, Sungai Musi tak hanya mengalirkan air. Ia membawa cerita, kutukan, dan harapan. Batu Ampar berdiri sebagai saksi bisu—beku, sunyi, namun penuh makna.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini