Rapat yang Menguak Kesadaran
LogikaIndonesia.Com – Selasa, 27 Januari 2026, ruang rapat Komisi IV DPRD Palembang dipenuhi wajah-wajah serius. Tim Penggerak Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak (AP-BKB) hadir untuk menyuarakan keresahan: berdirinya bangunan tujuh lantai milik Kesdam II Sriwijaya untuk pengembangan Rumah Sakit dr. Ak Gani tepat di zona inti kawasan Benteng Kuto Besak (BKB).
Rapat yang dipimpin Wakil Ketua Komisi IV DPRD Palembang, Mgs Syaiful Padli, menjadi ajang pertemuan antara wakil rakyat, tokoh budaya, akademisi, hingga Sultan Palembang Darussalam. Di sinilah, sebuah kesadaran baru muncul banyak anggota dewan yang selama ini mengira BKB adalah peninggalan kolonial Belanda, padahal sejatinya ia adalah warisan Kesultanan Palembang Darussalam abad ke-18.
Benteng Kuto Besak Lebih dari Sekadar Bangunan
Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diradja, SH MKn, dengan tegas menyampaikan bahwa BKB bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah simbol jati diri masyarakat Palembang, keraton besak yang menjadi pusat kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam.
“Benteng Kuto Besak bukan sekadar benteng biasa. Ia adalah keraton besak Kesultanan Palembang Darussalam. Nilai ini yang selama ini tidak tersosialisasi dengan baik, sehingga banyak masyarakat mengira BKB hanyalah peninggalan kolonial,” ujar Dr. Kemas Ari Panji, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang.
BKB dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pembangunan tanpa kajian mendalam dan izin resmi bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga mengancam keaslian sejarah. Sultan SMB IV menilai pembangunan gedung modern setinggi tujuh lantai di kawasan inti berpotensi merusak nilai historis, visual, dan struktural BKB.
Suara Rakyat dan Wakil Rakyat
Koordinator AP-BKB, Vebri Al Lintani, menegaskan bahwa perjuangan ini bukan sekadar menolak pembangunan, melainkan memperjuangkan revitalisasi BKB agar difungsikan sebagai cagar budaya. “Mudah-mudahan dukungan ini menjadi energi kita semua sehingga tujuan kita bisa tercapai. Pertama, meninjau ulang bangunan tujuh lantai itu. Kedua, kalau bisa betul-betul revitalisasi BKB sehingga BKB bisa dimanfaatkan sebagai cagar budaya seperti di tempat lain,” katanya.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Palembang, Mgs Syaiful Padli, memastikan dukungan penuh. “Perjuangan ini adalah perjuangan rakyat, dan kami sebagai wakil rakyat wajib mendukungnya. Kami sepakat untuk mengawal masalah ini hingga ke DPR RI,” tegasnya.
Komisi IV berkomitmen membawa isu ini ke Fraksi PKS di DPR RI, khususnya Komisi I, agar pengawalan terhadap BKB semakin kuat.
Identitas yang Terpinggirkan
Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam kerap terpinggirkan dalam narasi sejarah nasional. Dominasi narasi Sriwijaya membuat masyarakat kurang mengenal bahwa denyut nadi kehidupan Palembang juga berakar pada Kesultanan Palembang.
“Padahal yang melekat pada denyut nadi masyarakat Palembang, Sumsel, bahkan individu-individu adalah Kesultanan Palembang Darussalam. Sejak merdeka, sejarah ini tidak pernah diangkat,” ujar Vebri.
Akibatnya, banyak orang tidak tahu bahwa BKB didirikan pada masa kesultanan, bukan kolonial. Inilah yang membuat perjuangan AP-BKB bukan sekadar soal bangunan, melainkan soal identitas yang harus dipulihkan.
Antara Modernisasi dan Pelestarian
Dr. Kemas Ari Panji menekankan bahwa pembangunan rumah sakit memang penting, tetapi tidak seharusnya dilakukan di zona inti cagar budaya. “Rumah sakit bisa dibangun di tempat lain, tetapi Benteng Kuto Besak tidak mungkin dibangun ulang. Sekali rusak, nilai sejarahnya akan hilang,” tegasnya.
Ia bahkan mengusulkan agar kawasan BKB dijadikan “Kota Tua Palembang”, serupa dengan konsep Kota Tua Jakarta. Dengan orientasi pada pelestarian sejarah, kebudayaan, dan pengembangan pariwisata, BKB bisa menjadi pusat edukasi dan destinasi wisata yang memperkuat identitas Palembang.
Puisi untuk Benteng Kuto Besak
Rapat dengar pendapat itu ditutup dengan pembacaan puisi tentang BKB oleh Karmila. Sebuah simbol bahwa perjuangan melestarikan BKB bukan hanya soal hukum dan politik, tetapi juga soal rasa, jiwa, dan cinta terhadap warisan leluhur.
Benteng Kuto Besak kini bukan sekadar bangunan yang diperdebatkan. Ia menjadi medan pertarungan antara modernisasi dan pelestarian, antara kepentingan pembangunan dan identitas budaya. Di sinilah masyarakat Palembang diuji: apakah mereka akan membiarkan warisan leluhur terkikis, atau menjadikannya fondasi masa depan yang berakar pada sejarah.







