LogikaIndonesia.Com – Palembang kembali membuktikan diri sebagai kota yang tak pernah kehabisan energi kreatif. Pameran seni rupa bertajuk “Estetika Psikedelik” 19- 27 Desember 2025 yang digelar di The Alts Hotel Palembang mendadak viral di media sosial dan menjadi magnet bagi para konten kreator lintas platform dari Instagram, TikTok, hingga YouTube Shorts.
Fenomena ini bukan terjadi tanpa sebab. Pameran tersebut hadir di tengah kejenuhan publik terhadap ruang seni yang kerap terasa elitis, kaku, dan berjarak. “Estetika Psikedelik” justru menawarkan pengalaman visual yang liar, berani, penuh warna, dan sangat instagrammable sebuah kombinasi yang pas dengan kultur digital hari ini.
Visual Nyentrik yang Ramah Kamera
Salah satu alasan utama pameran ini cepat viral adalah kekuatan visualnya. Karya-karya yang dipamerkan menampilkan ledakan warna, distorsi bentuk, simbol-simbol surealis, hingga permainan cahaya yang memancing rasa takjub. Setiap sudut ruang pamer seolah dirancang untuk direkam, dipotret, dan dibagikan ulang.
Bagi konten kreator, ini adalah “lahan subur”. Satu karya bisa melahirkan banyak narasi: dari konten estetik, edukatif, hingga konten reflektif tentang psikologi, spiritualitas, dan kesadaran diri.
Seni yang Dekat dengan Bahasa Generasi Digital
Tema psikedelik bukan sekadar gaya visual, tetapi juga medium untuk membicarakan kegelisahan zaman identitas, tekanan mental, absurditas hidup urban, hingga pencarian makna di tengah banjir informasi. Tema-tema ini sangat relevan dengan generasi muda yang aktif di media sosial.
Alih-alih memberi jarak, pameran ini justru mengundang dialog. Banyak pengunjung merasa “terwakili” oleh karya-karya yang tampil jujur, liar, dan tidak sok rapi. Inilah seni yang tidak menggurui, tapi mengajak merasakan.
Ruang Hotel sebagai Medium Alternatif
Pemilihan The Alts Hotel sebagai lokasi pameran juga menjadi faktor penting. Ruang hotel memberi kesan inklusif dan kasual, berbeda dengan galeri konvensional. Pengunjung tidak merasa sedang “masuk dunia seni yang serius”, melainkan sedang mengalami peristiwa budaya yang cair dan terbuka.
Kombinasi seni, arsitektur modern, pencahayaan hotel, dan alur ruang yang dinamis membuat pengalaman berkunjung terasa sinematik sesuatu yang sangat dicari oleh pembuat konten visual.
Efek Domino di Media Sosial
Ketika satu konten viral, konten lain menyusul. Tagar, story, reels, dan FYP saling menguatkan. Pameran ini tidak hanya dikunjungi untuk dilihat, tetapi untuk diceritakan ulang dalam berbagai format digital. Dari sinilah efek domino terjadi mengubah pameran seni menjadi peristiwa sosial.
Seni sebagai Pengalaman, Bukan Sekadar Pajangan
Viralnya pameran “Estetika Psikedelik” menunjukkan satu hal penting seni hari ini tidak cukup hanya dipajang, tetapi harus dihadirkan sebagai pengalaman. Pengalaman visual, emosional, dan personal yang bisa dibawa pulang—atau dibagikan ulang.
Pameran ini menjadi contoh bagaimana seni rupa, ketika bertemu dengan strategi ruang, tema relevan, dan ekosistem digital, mampu menembus batas galeri dan menjangkau publik yang lebih luas.
Di tengah gempuran konten cepat dan dangkal, “Estetika Psikedelik” justru membuktikan bahwa seni yang jujur dan berani masih punya tempat bahkan bisa menjadi viral tanpa kehilangan makna.







