Solidaritas Ekologis untuk Sumatera dari Ruang Publik Palembang
LogikaIndonesia.Com – Kambang Iwak nyaris tak pernah benar-benar sepi setiap akhir pekan. Sabtu sore, 20 Desember 2025, ruang publik di jantung Kota Palembang itu kembali dipenuhi warga sebagian berlari kecil di lintasan jogging track, sebagian duduk santai menikmati senja yang memantul di permukaan air. Namun sore itu, ada getar yang berbeda. Udara terasa lebih berat, bukan oleh keramaian, melainkan oleh kesadaran kolektif akan luka ekologis yang tengah mengoyak Sumatera.
Di antara pepohonan dan cahaya senja, doa dipanjatkan. Puisi dibacakan. Musik mengalun pelan. Orasi bergema. Kambang Iwak berubah menjadi ruang pertemuan nurani tempat kegelisahan tentang banjir, longsor, dan krisis ekologis di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menemukan suaranya.
Ruang publik yang biasanya menjadi tempat melepas penat itu menjelma arena solidaritas. Di sini, seni tidak sekadar hadir sebagai hiburan, melainkan sebagai bahasa perlawanan dan kepedulian.
Dari Ruang Santai Menjadi Ruang Kesadaran
Kegiatan bertajuk “Doa, Harapan, Ekspresi: Musibah Ekologis untuk Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat)” digagas oleh Koalisi Masyarakat Puisi, berkolaborasi dengan berbagai komunitas seni, mahasiswa, dan aktivis lingkungan. Acara ini bukan pertunjukan seni dalam pengertian lazim. Ia adalah perjumpaan antara rasa, pengetahuan, dan sikap politik sebuah perlawanan kultural terhadap normalisasi bencana.
Sejak prolog, satu kesadaran kolektif ditegaskan Sumatera yang dahulu hadir sebagai latar legenda dan hikayat tentang alam yang subur, kini berubah rupa menjadi rangkaian kabar duka yang berulang. Banjir merendam permukiman, longsor merenggut nyawa, kebakaran hutan menghanguskan bentang alam, dan konflik lahan tak kunjung usai.
Bencana ekologis tak lagi hadir sebagai kejadian luar biasa, melainkan rutinitas yang perlahan dinormalisasi.
Doa yang dipanjatkan sore itu bukan ritual kosong. Ia menjadi pengakuan bahwa hubungan manusia dengan alam telah terlalu lama berjarak. Bahwa bencana bukan semata takdir, melainkan akumulasi dari pilihan, kebijakan, dan pembiaran.
Seni yang Berpihak
Ketua Koalisi Masyarakat Puisi, Anwar Putra Bayu, menegaskan bahwa seni hari ini tak cukup hanya indah. Seni, menurutnya, harus berani bersikap, berpihak, dan hadir sebagai suara etis di tengah krisis ruang hidup.
“Seni tidak boleh netral ketika ruang hidup bersama terancam,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi benang merah seluruh rangkaian acara. Sejumlah penyair, penulis, seniman, tenaga pendidik, dan aktivis lingkungan bergantian naik ke panggung terbuka menyampaikan orasi, membacakan puisi, dan membagi kegelisahan.
Salah satu suara yang paling kuat datang dari Yuliusman, Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Selatan. Dengan nada tegas, ia menegaskan bahwa bencana hari ini bukan lagi peristiwa alam semata.
“Bencana hari ini adalah hasil dari keputusan manusia yang berulang dan disengaja,” katanya.
Menurut Yuliusman, rangkaian bencana di berbagai wilayah Sumatera saling terhubung dalam satu mata rantai kerusakan ekosistem. Deforestasi, alih fungsi kawasan hutan, pembukaan lahan skala besar, serta ekspansi industri ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan monokultur telah melemahkan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Ia juga menyoroti lemahnya penegakan hukum lingkungan dan pembiaran terhadap pelanggaran tata ruang. Ruang resapan air menyusut, daerah aliran sungai rusak, dan masyarakat di wilayah rentan menjadi pihak paling terdampak. Dalam konteks ini, bencana ekologis adalah konsekuensi dari kebijakan pembangunan yang tidak berpihak pada keselamatan lingkungan dan rakyat.
Palembang Kota Air yang Kehilangan Ingatan
Ancaman bencana ekologis, menurut Andreas Okdi Priantoro Fraksi PDIP DPRD Kota Palembang tidak hanya terjadi jauh di wilayah hulu Sumatera. Palembang, kota yang dikenal sebagai kota air, justru sedang bergerak menuju krisis ekologis perkotaan.
“Palembang tampak tenang di permukaan, tapi secara ekologis sangat rapuh,” ujar Andreas dalam orasinya.
Ia menyoroti masifnya alih fungsi lahan basah, rawa, dan daerah resapan air yang selama puluhan tahun menjadi penyangga alami kota. Pembangunan kawasan permukiman, pusat bisnis, dan infrastruktur yang mengabaikan daya dukung lingkungan membuat Palembang semakin rentan terhadap banjir dan krisis air bersih.
Menurutnya, Sungai Musi dan anak-anak sungainya yang dahulu menjadi nadi kehidupan kini mengalami penyempitan, pencemaran, dan degradasi fungsi ekologis. Pendekatan teknis semata melalui normalisasi sungai, tanpa pemulihan ekosistem, justru memperparah persoalan.
“Kita membangun kota seolah-olah air adalah musuh. Padahal Palembang lahir dari air. Ketika rawa ditimbun dan sungai dipersempit, banjir hanyalah pesan yang tak bisa dihindari,” tegasnya.
Andreas juga mengkritik tata ruang kota yang abai terhadap keadilan ekologis. Warga miskin kota selalu menjadi kelompok pertama yang terdampak banjir, pencemaran, dan krisis sanitasi, sementara keuntungan pembangunan dinikmati segelintir pihak.
Baginya, bencana ekologis di Palembang bukan ancaman masa depan, melainkan proses yang sedang berlangsung hari ini.
Puisi, Musik, dan Bahasa Imajinasi
Di sela orasi, panggung Kambang Iwak diisi pembacaan puisi oleh Rita Sumarni, Linny Oktovianny, dan penyair senior Sumatera Selatan Antonarasoma. Kata-kata mereka berbicara tentang alam, kehilangan, dan harapan yang rapuh namun terus dijaga.
Ekspresi seni juga hadir dalam bentuk hiburan yang membumi. Naba Anwar, pesulap muda Palembang, tampil membawakan atraksi sulap yang memikat. Dengan pendekatan sederhana dan interaktif, Naba menyelipkan pesan simbolik tentang keseimbangan, kehilangan, dan harapan bahwa apa yang hilang tak selalu lenyap, dan apa yang rusak masih mungkin dipulihkan jika ada kehendak bersama.
Hiburan lain hadir melalui dongeng ekologis ibu bumi dari Kak Inug, yang mengajak anak-anak dan orang dewasa kembali pada kisah-kisah sederhana tentang alam. Musik akustik dari Ali Goik mengalun pelan, disusul musikalisasi puisi oleh Efvhan Fajrullah. Semua menyatu sebagai bahasa alternatif untuk menyentuh kesadaran publik.
Seni sebagai Perlawanan Kultural
Orasi budaya disampaikan oleh Tarech Rasyid, aktivis sekaligus mantan Rektor Universitas IBA, dengan tajuk “Narasi Seni Perlawanan atas Bencana Ekologis”. Menurutnya, seni bukan pelarian dari krisis, melainkan cara lain untuk mengungkap kebenaran.
“Seni mampu menembus wilayah rasa dan kesadaran yang kerap luput dalam diskursus kebijakan,” ujarnya.
Melalui metafora, irama, dan simbol, seni menurut Tarech mampu melampaui sekat apatisme dan membangun kesadaran kritis publik.
Dari Ekspresi ke Aksi Nyata
Solidaritas tak berhenti di panggung. Di tengah rangkaian acara, dilakukan penggalangan donasi oleh WALHI Sumatera Selatan bersama Sahabat WALHI Sumsel, Himpala Dharmapala Chakti Universitas Palembang, BEM Fakultas Pertanian Universitas Palembang, Hima Sylva Universitas Muhammadiyah Palembang, serta lembaga anggota WALHI.
Donasi berupa uang dan pakaian layak pakai dikumpulkan untuk disalurkan kepada korban bencana ekologis di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sebagai wujud kepedulian nyata dan solidaritas lintas wilayah.
Epilog dari Kambang Iwak
Menjelang senja benar-benar turun, Anwar Putra Bayu kembali naik ke panggung. Dalam epilognya, ia menegaskan bahwa suara Sumatera bukan hanya milik panggung atau komunitas tertentu.
“Setiap orang punya hak untuk berbicara dan berpihak,” ujarnya.










