Sonov Pantomimer yang Menyaru jadi Perupa

0
19

LogikaIndonesia.Com- Di kalangan seniman Palembang, nama Yos Sudarson lebih sering terdengar dengan panggilan akrab Sonov. Sebutan itu bukan sekadar nama pendek, melainkan penanda kedekatan sebuah identitas yang lahir dari perjalanan panjangnya di dunia seni pertunjukan. Ia dikenal luas sebagai pantomimer, seniman tubuh yang berbicara tanpa kata, menyampaikan kegelisahan dan ironi hidup lewat gerak yang sunyi namun menggema.

Namun, belakangan Sonov seolah “menyaru”. Ia hadir di ruang-ruang pamer sebagai perupa. Kanvas, cat, dan bahasa visual menjadi medium yang ia pilih untuk melanjutkan dialog artistiknya. Meski demikian, penyamaran itu nyaris tak pernah benar-benar menutup jejak asalnya. Di setiap garis, sapuan warna, dan bentuk yang ia hadirkan, bahasa tubuh pantomim tetap terasa seakan gerak berhenti sesaat lalu membeku di permukaan kanvas.

Penyamaran itu kembali terlihat jelas ketika Sonov ikut ambil bagian dalam Pameran Seni Rupa bertema “Estetika Psikedelik” yang digelar di Hotel The Alts Palembang. Dalam pameran ini, karya Sonov hadir dengan visual yang berlapis, penuh distorsi bentuk dan warna yang bergetar. Psikedelia yang ia tawarkan bukan sekadar permainan warna mencolok, melainkan pengalaman batin ruang kesadaran yang terpecah, sebagaimana tubuh pantomim yang kerap bergerak di antara realitas dan absurditas.

Bagi Sonov, seni rupa bukanlah pengkhianatan terhadap dunia pantomim, melainkan perpanjangan napasnya. Jika di panggung ia berbicara melalui tubuh, di kanvas ia berbicara melalui jejak. Gestur yang dulu bergerak kini berubah menjadi simbol, metafora, dan komposisi visual yang menyimpan cerita. Ada keheningan yang sama, ada kegelisahan yang serupa.

Karya-karya Sonov memancarkan nuansa teatrikal yang kuat. Figur-figur yang tampak terdistorsi, ruang yang terasa sempit atau justru kosong, menjadi refleksi pengalaman tubuh yang lama ia tekuni. Penonton seakan diajak menyaksikan adegan pantomim yang dibekukan tanpa musik, tanpa dialog, hanya tafsir.

Dalam konteks pameran “Estetika Psikedelik”, karya Sonov menjadi semacam jeda reflektif. Di tengah ledakan warna dan imajinasi visual para perupa lain, ia menghadirkan kesadaran tubuh yang sunyi namun intens. Psikedelik baginya bukan sekadar visual halusinatif, tetapi perjalanan batin yang lahir dari pengalaman panjang mengolah rasa, gerak, dan diam.

Mungkin benar, Sonov adalah pantomimer yang nyaru jadi perupa. Tapi penyamaran itu justru memperkaya makna. Ia membuktikan bahwa batas antara seni pertunjukan dan seni rupa tak pernah benar-benar kaku. Di tangan Sonov, keduanya saling menyusup, saling menghidupi seperti tubuh dan bayangannya sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini