LogikaIndonesia.Com — Stadion Kamboja Palembang kembali bergema. Minggu malam (9/11/2025), ribuan suara bersatu dalam lantunan musik, chant suporter, dan semangat kebersamaan. Konser Anniversary ke-21 Sriwijaya FC bukan sekadar pesta ulang tahun klub, melainkan sebuah perayaan militansi, cinta, dan dedikasi tanpa batas dari Ultras Palembang.
Militansi Ultras Cinta yang Tak Pernah Padam
Capo Tifoso Ultras Palembang, Qusoi SH, berdiri di tengah kerumunan dengan senyum lega. Baginya, suksesnya konser ini adalah bukti nyata bahwa militansi suporter bukan hanya soal nyanyian di tribun, tetapi juga komitmen menjaga nama baik klub.
“Alhamdulillah konser Anniversary Sriwijaya FC 21 Tahun sukses tanpa kendala, tanpa kerusuhan,” ucap Qusoi penuh syukur.
Ultras Palembang memang punya tradisi unik. Mereka tidak merayakan ulang tahun organisasi, melainkan ulang tahun klub tercinta. “Kode etik Ultras di seluruh dunia jelas: yang kami rayakan adalah klub, bukan organisasi. Sriwijaya FC lahir 23 Oktober 2004, dan itulah yang kami abadikan di setiap atribut kami,” jelas Qusoi.
Panggung Musik, Panggung Kebersamaan
Sejak sore hingga larut malam, sekitar 500-an fans disuguhi penampilan lima band lokal yang menjadi bintang tamu: The Moksa, D’Junkies Roll, Skanaxboys, Pempek Basi, dan Peachland.
Dentuman drum, riff gitar, dan sorakan suporter berpadu menciptakan atmosfer yang jarang terlihat di Stadion Kamboja. Konser ini bukan sekadar hiburan, melainkan simbol bahwa sepakbola dan musik bisa bersatu dalam satu panggung kebersamaan.
Tanpa Sponsor, Hanya Militansi
Yang membuat konser ini istimewa adalah sumber pendanaannya. Tidak ada sponsor besar, tidak ada iklan komersial. Semua murni dari kantong anggota Ultras Palembang.
Mereka mengumpulkan dana dengan cara sederhana namun penuh makna membeli tiket pertandingan home Sriwijaya FC dengan melebihkan harga. Dari kelebihan itu, lahirlah konser megah yang membuktikan bahwa militansi bisa menjadi energi kreatif.
“Hanya mengandalkan militansi anggota Ultras Palembang. Mereka membeli tiket dengan melebihkan uang. Dari situlah terkumpul dana untuk konser ini,” terang Qusoi.
Dukungan dari Banyak Pihak
Konser ini juga menjadi ajang silaturahmi. Hadir Walikota Palembang H Ratu Dewa yang meminjamkan Stadion Kamboja sebagai simbol dukungan terhadap komunitas suporter. Aparat kepolisian, mulai dari Kasat Intelkam hingga Kabag Ops Polrestabes Palembang, turut memberi izin keramaian.
Yang paling menyentuh, dukungan datang dari Wapres Sriwijaya FC Mohammad David. Meski bantuannya tidak besar secara materi, bagi Ultras Palembang itu sudah lebih dari cukup sebagai motivasi moral.
Turut hadir pula pelatih kepala Budi Sudarsono, jajaran coach seperti Andi Susanto, Joe Berry, dan Sofi, serta para pemain yang ikut dalam prosesi pemotongan tumpeng. Kehadiran Ketua Umum KONI Palembang H Anton Nurdin semakin menegaskan bahwa konser ini bukan acara biasa, melainkan momentum kebersamaan lintas komunitas.
Konser yang Jadi Tolok Ukur
Bagi kepolisian, konser ini menjadi acuan penting. Selama bertahun-tahun, Stadion Kamboja jarang digunakan untuk konser musik. Namun malam itu, semua berjalan aman, tertib, dan kondusif.
“Alhamdulillah Ultras Palembang diperhitungkan oleh pihak kepolisian. Selama ini kami mendukung SFC di tribun timur Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring dengan kondusif. Konser ini membuktikan hal itu,” ujar Qusoi.
David Batal Mundur Suporter Jadi Penentu
Di balik gegap gempita konser, ada kabar yang membuat suporter semakin bersemangat. Wapres Sriwijaya FC, Mohammad David, yang sebelumnya sempat berencana mundur, akhirnya luluh oleh gelombang dukungan suporter.
Kebersamaan di Stadion Kamboja malam itu menjadi saksi bahwa suara suporter bisa mengubah keputusan besar. David batal mundur, dan Sriwijaya FC tetap memiliki sosok yang dipercaya untuk menakhodai klub.
Lebih dari Sekadar Ulang Tahun
Konser Anniversary ke-21 Sriwijaya FC bukan hanya pesta musik atau perayaan klub. Ia adalah simbol militansi, bukti cinta suporter, dan momentum kebersamaan yang melibatkan banyak pihak.
Ultras Palembang menunjukkan bahwa loyalitas bukan sekadar hadir di tribun, melainkan juga menjaga nama baik klub, membangun solidaritas, dan menciptakan ruang budaya baru di luar lapangan.
Sriwijaya FC berusia 21 tahun, dan malam itu Palembang membuktikan cinta suporter adalah energi yang tak pernah padam.







